Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis data mengenai tingkat kekerasan pada anak menurut survei International Center for Research on Women (ICRW). Sebanyak 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah.

Angka kasus kekerasan di sekolah di Indonesia ini lebih tinggi dari Vietnam (79 persen), Nepal (79 persen), Kamboja (73 persen), dan Pakistan (43 persen).

Karenanya, Wakil Ketua KPAI Mari Advianti mengatkan Sekolah Ramah Anak menjadi solusi untuk mengatasi persoalan kekerasan terhadap anak di sekolah.

“Sekolah ramah anak ini harus memiliki sejumlah kriteria, seperti harus aman, memenuhi hak anak, melindungi dari kekerasan, sehat, peduli dan berbudaya serta mendukung partisipasi anak,” kata Maria mengutip Republika.

Kemudian data yang dirilis UNICEF Indonesia tahun 2015 juga tak jauh berbeda. 40 persen anak berusia 13-15 tahun melaporkan pernah diserang secara fisik sedikitnya satu kali dalam setahun, 26 persen melaporkan pernah mendapat hukuman fisik dari orang tua atau pengasuh di rumah, 50 persen anak melaporkan di-bully di sekolah.

Lalu yang mengejutkan adalah 45 persen perempuan dan anak perempuan di Indonesia percaya bahwa suami/pasangan boleh memukul istri/pasangannya dalam situasi-situasi tertentu.

Tentu data-data di atas adalah sesuatu hal yang boleh kita pertahankan. Mari kita hentikan dari sekarang kekerasan terhadap anak di sekitar kita.

sumber: KPAI, Republika, UNICEF.