Ilmuwan Indonesia, Dwi Hartanto, membuat geger publik. Mahasiwa doktoral yang menuntut ilmu di Technische Universiteit (TU) Delft, Belanda, itu mengakui latar belakang prestasinya dalam bidang kerdigantaan selama ini bohong.

Selama ini diketahui kalau Dwi telah berhasil menciptakan Satellite Launch Vehicle/SLV (Wahana Peluncur Satelit), hingga memenangkan Kompetisi Antar-Space Agency Luar Angkasa. Muncul juga klaim bahwa dia mengantongi paten di bidang di bidang spacecraft technology.

Faktanya, ia terang-terangan mengakui bahwa dirinya bukan kandidat doktor di bidang space technology and rocket development. Sebenarnya ia doktor di bidang Interactive Inteligence (Departemen Intelligent Systems). Dan mengakui pria kelahiran S1 Institut Sains Teknologi AKPRIND Yogyakarta 2015 –sebelumnya Dwi dikenal sebagai lulusan Institute of Technology, Tokyo, Jepang– tidak pernah merancang Satellite Launch Vehicle sebagaimana selama ini diketahui.

“Yang benar adalah bahwa saya pernah menjadi anggota dari sebuah tim beranggotakan mahasiswa yang merancang salah satu subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s milik DARE (Delft Aerospace Rocket Engineering), yang merupakan bagian dari kegiatan roket mahasiswa di TU Delft. Proyek ini adalah proyek roket amatir mahasiswa,” kata Dwi.

Baca Juga: Mengapa Orang Berbohong?

Akibat dari itu, KBRI Deen Haag mencabut penghargaan yang pernah diberikan kepada Dwi. Pencabutan penghargaan itu berdasarkan Keputusan Kepala Perwakilan RI untuk Kerajaan Belanda Nomor SK/029/KEPPRI/IX/2017 tentang Pencabutan Keputusan Kepala Perwakilan RI untuk Kerajaan Belanda SK/023/KEPPRI/VIII/2017 tentang penghargaan kepada DR. IR Dwi Hartanto.

Surat itu sendiri ditandatangani langsung oleh Duta Besar I Gusti Agung Wesaka dan ditetapkan pada 15 September 2017. Keputusan ini dipublish di laman resmi KBRI Den Haag pada 5 Oktober 2017 lalu.

“(a) Bahwa setelah pemberian penghargaan kepada Dr. Ir. Dwi Hartanto terdapat dinamika dan perkembangan di luar praduga dan itikad baik,” demikian bunyi poin pertama surat Keputusan KBRI Deen Haag yang dikutip dari situs resminya. “Bahwa dinamika dan perkembangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a mengharuskan adanya perubahan atas keputusan pemberian penghargaan dimaksud; bahwa untuk itu dipandang perlu mencabut Keputusan Kepala Perwakilan Republik Indonesia tentang Penghargaan kepada Dr. Ir. Dwi Hartanto.”

sumber: Detik, Kumparan, KBRI Deen Haag