Ratusan ribu etnis Rohingya terancam. Akses bantuan yang datang dari badan dunia ditutup pihak keamanan. Sedangkan gudang penyimpanan makanan dijarah. Kamp kesehatan tak kalah miris. Stok medis berkurang lebih cepat, seiring meningkatnya korban tiap minggunya.

Padahal, masih ada sekitar 400 ribu etnis Rohingya yang terjebak di zona konflik. Meski, hampir setengah lainnya telah meninggalkan Myanmar dan menuju Bangladesh.

Mereka yang menyebrang ke perbatasan menceritakan, pemerintah telah menuduh mereka dengan tuduhan membakar desanya sendiri dan membunuh umat Budha –penganut mayoritas di Myanmar– dan Hindu. Yang kemudian menjadi salah satu alasan “operasi bersih-bersih” diberlakukan.

“Tentara baru saja datang dan mulai membunuh,” kata Mohammed Hassan, anak berusia 20 tahun yang melarikan diri dari desanya, Rakhine, Sabtu lalu dan memiliki seorang kakak, Romida (25), yang tewas tertembak, seperti dilansir The Guardian.

Atas itu, laporan militer Myanmar menyebutkan sekitar 400 orang tewas –yang sebagian besar disebut teroris oleh pihak militer– dari operasi itu. Tetapi menurut PBB ada sekitar seribu orang.

Etnis Rohingya adalah Muslim minoritas –kerap digambarkan minoritas paling menderita di dunia– yang ada di Myanmar. Hampir 1,1 juta Rohingya tinggal di negara bagian pesisir barat Rakhine. Namun pemerintah enggan mengakui mereka sebagai warga negara, yang secara efektif membuat mereka tidak memiliki kewarganegaraan.

Semua berawal pada lima tahun silam, sebuah bentrokan etnis Rohingya dengan umat Budha di Rakhine. Dan berujung beranjaknya mereka dari tanahnya sendiri.

Gerakan nasionalis ekstremis Myanmar bersikeras bahwa kelompok tersebut adalah imigran ilegal dari Bangladesh. Rohingya membantah, mereka asli negara Rakhine.

Sedangkan, kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Myanmar menuduh pemerintah telah melakukan “pembersihan” etnis Rohingya secara sistematis. Pemerintah membantahnya.

Rohingya di Myanmar/The Guardian

Dunia turut mengecam. Malala Yousafzai, perempuan 20 tahun yang namanya melejit karena pernah tertembak di bagian kepalanya akibat menyuarakan perdamaian dan mendapat Nobel Perdamaian, turut bersuara.

Malala bersedih. Dia mengaku hancur hatinya setiap melihat berita karena penderitaan Rohingya di Myanmar. Kenangan perih di masa silam kembali terbayang. Karenanya dia meminta menghentikan segala kekerasan yang terjadi di Rakhine.

“Hari ini kita telah melihat foto anak-anak kecil yang dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar. Anak-anak ini tidak menyerang siapapun, namun rumah mereka dibakar sampai habis,” tulis Malala di akun Twitter miliknya.

“Jika rumah mereka bukan di Myanmar, di mana mereka tinggal untuk beberapa generasi, lantas di mana lagi? Warga Rohingya harus diberi kewarganegaraan Myanmar, negara tempat mereka dilahirkan.”

“Negara lain, termasuk negara saya, Pakistan, harus mengikuti contoh Bangladesh yang memberi makanan, tempat tinggal, dan akses pendidikan kepada keluarga Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan dan teror.”

Pernyataan Malala mengundang tarik. Dia menyebut nama Aung San Suu Kyi sebagai rekannya sesama penerima Nobel Perdamaian. Lewat Suu Kyi, Malala berharap yang terjadi di Rakhine terhenti.

“Saya masih menunggu rekan saya, sesama penerima penghargaan Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi untuk melakukan hal yang sama. Dunia menunggu dan Muslim Rohingya menunggu,” ujar Malala.

Apa yang diharapkan Malala sebenarnya tak lebih kuat dari apa yang pernah dilakukan PBB. Mei lalu, Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sempat ingin menyelidiki dugaan kejahatan pasukan keamanan Myanmar terhadap minoritas muslim Rohingya. Apa daya, Suu Kyi menolaknya.

“Kami tidak setuju dengan itu. Resolusi itu tidak sesuai dengan yang terjadi sebenarnya di lapangan,” sebutnya, mengutip The Telegraph.

Tak heran hingga kini “operasi bersih-bersih” militer Myanmar terhadap etnis Rohingya, di Rakhine, masih berlanjut. Keadaannya semakin mengkhawatirkan. Pemimpin de Facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, memilih menutup matanya. Padahal, Suu Kyi salah satu peraih Nobel Perdamaian, 16 tahun lalu.

Foto Presiden Myanmar Aung San Suu Kyi dibakar/The Guardian

Aung San Suu Kyi adalah salah satu seorang aktivis prodemokrasi tersohor Myanmar –dan pemimpin National League for Democracy (Persatuan Nasional untuk Demokrasi atau NLD).

Dirinya pernah mendekam sebagai tahanan rumah selama 15 tahun –dari 21 tahun masa penahanannya. 2010 lalu dia dibebaskan, dan pada 2015 wanita yang akrab disapa Daw Suu itu (Ibu Suu) terpilih sebagai Presiden Myanmar.

Namun aturan yang berlaku membuatnya terjegal untuk meraih kursi kepresidenan. Pasalnya dia adalah janda dan ibu dari orang asing. Dari itu, dirinya hanya menjabat sebagai State Counsellor atau Penasihat Negara. Maka dia disebut sebagai pemimpin de Facto Myanmar.

Akan tetapi, di bawah kepemimpinan Aung San Suu Kyi, lewat kekuatan militer, dia justru melakukan tindakan yang menyayat rasa kemanusiaan: Pengusiran dan pembantaian terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar.

Agak ironi, sebab, peraih Nobel Perdamaian pada tahun 1991 –dalam urusan memajukan demokrasi di Myanmar: Perjuangan anti kekerasan untuk demokrasi dan hak asasi manusia serta menentang kekuasaan militer– kini mengkhianatai pencapaiannya sendiri.

“Saya tidak berpikir ada pembersihan etnis yang terjadi. Saya pikir pembersihan etnis terlalu kuat dipakai sebagai ekspresi untuk [menggambarkan] apa yang terjadi,” ucap Suu Kyi pada BBC, April lalu.

sumber: The Guardian, The Telegraph, The Washington Post, BBC