Malam itu secara tumben-tumbenan saya menonton Indonesia Lawyers Club di TV One. Pembahasannya tentu yang terhangat, Saracen.

Saya kebetulan menonton di mana giliran anggota Komisi III DPR RI Akbar Faizal berbicara. Di sana, ia menjelaskan tentang organisasi Saracen yang terbentuk pada tahun 2015.

Ia membeberkan kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan Saracen. Penjelaasan Akbar, mulai dari hate speech yang beredar mengenai Kapolri mengadu domba HTI dengan Banser (NU) dan 27 indikasi Jokowi adalah PKI. Sebenarnya, Akbar ingin menjelaskan 3 hal, tetapi berhenti ketika sampai di Jokowi.

Kemudian Akbar beralih kepada seseorang paling fenomenal karena statusnya di media sosial –Jonru Ginting– dan bertanya, “Apakah benar Anda pernah memposting juga di Facebook Anda, ini karena menyangkut soal Jokowi, Anda mengatakan bahwa ‘Jokowi adalah satu-satunya calon presiden yang belum jelas siapa orangtuanya. Sungguh aneh untuk jabatan sepenting presiden begitu banyak orang yang percaya kepada orang asal-muasalnya serba belum jelas.’ Apakah betul Anda pernah memposting ini?” tanya Akbar. Jonru pun mengakui.

Akbar, yang merupakan salah satu tim transisi Jokowi saat menjadi presiden, mengungkapkan bahwa dirinya tahu betul siapa ibu dari mantan Wali Kota Solo itu.

“Saya tahu betul siapa ibu pak Jokowi. Tahu betul. Saya bisa membayangkan bagaimana ibu Jonru dihina seperti ini,” keluh Akbar menahan kesal.

Jonru membantah dengan menganggap hal sepreti itu bukan menghina. “Maaf pak, itu bukan menghina,” bantah Jonru. “Saya tidak bilang menghina. Saya hanya mengatakan menulis (status) itu benar. Saya tidak mengatakan saya tidak menghina. Bapak yang menuduh saya menghina,” sambungnya.

“Pak polisi, mohon diproses manusia ini,” pinta Akbar kepada pihak kepolisian yang memang juga hadir di sana.

Tidak sampai satu minggu kabar bahwa Jonru dilaporkan polisi pun mencuat. Adalah seorang pengacara, Muannas Alaidid, yang melaporkan Jonru atas tuduhan penyebaran ujaran kebencian.

Walaupun, ia membantah lewat akun Facebook-nya, “Soal info bahwa saya dilaporkan ke polisi, perlu saya sampaikan bahwa saya justru baru mendapat informasinya tadi malam di Facebook. Sampai saat ini, belum ada panggilan resmi dari polisi,” tulisnya di Facebook, “alhamdulillah, sejumlah pengacara papan atas Indonesia telah menyatakan bersedia mendampingi saya.”

Bukan pertama kali JOnru berbuat seperti itu. Belum lama, kala momen salat Idul Fitri, dirinya menyerukan untuk tidak salat di Masjid Istiqlal lantara Prof. Quraish Shihab menjadi penceramahnya.

Jonru beralasan karena Prof. Quraish tidak layak menjadi khatib karena tiga hal: tidak mewajibkan jilbab, berpendapat bahwa Nabi Muhammad tidak dijamin masuk surga, dan membela Karbala.

Tak usahlah mempreteli satu per satu di balik alasan Jonru. Tapi secara logika, Prof. Quraish adalah orang yang tak perlu diragukan lagi mengenai ke-Islaman-nya. Bandingkan saja karya Jonru dengan karya Prof. Quraish –yang bisa kamu cari di dunia maya sebanyak-banyaknya dan, tentu, kamu akan tercengang melihat hasilnya.

Kalau kamu sedikit malas karena “ngapain lihat karya Jonru?” atau “Ya iyalah Prof. Quraish mah udah gak perlu diragukan,” maka saya akan tampilkan sedikit di bawah ini dan coba bandingkan:

Karya Jonru Ginting:

  • Saya Tobat! (Dapur Buku, 2015).
  • Cinta Tak Sempurna (Dapur Buku, 2014).
  • Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat (Dapur Buku, 2009).

Karya Prof. Quraish Shihab:

  • Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, dalam sorotan Al-Quran dan Hadits Shahih (Jakarta: Lentera Hati, Juni 2011).
  • Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an (15 Volume, Jakarta: Lentera Hati, 2003).
  • Rasionalitas al-Qur’an; Studi Kritis atas Tafsir al-Manar (Jakarta: Lentera Hati, 2006).