Biasanya, viralnya sebuah VLog bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, isi dari kontennya betul-betul berbobot. Dan kedua, populer berkat si pemilik akun atau pembuat konten –meski isi videonya sangat tak layak tonton.

Akan tetapi tak hanya itu saja. Ada sisi lain yang membuat sebuah video menjadi viral.

Profesor pemasaran dari Wharton, Amerika Serikat, Jonah Berger, seperti dilansir The Next Web memberikan alasannya. Menurutnya, ada enam –di luar dua hal tadi– yang membuat sebuah video bisa viral, yakni STEPPS. Apa itu?

Social Currency

Biasanya, kita membuat atau membagikan konten, dalam hal ini video, di media sosial untuk ditafsirkan oleh orang lain dari berbagai sudut pandang. Mengapa demikian? Karena kita terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan terhadap kita, hal ini mempengaruhi perilaku berinternet kita. Sehingga, supaya terlihat keren –atau paling tidak biar dibilang update terus– kita membagikan konten populer, dan seringkali menambahkan pendapat kita sendiri.

Triggers

Nilai sosial memang membuat orang-orang mulai membicarakan sebuah isu. Namun agar dibicarakan terus-menerus, triggers dibutuhkan. Triggers adalah pengingat terkait konsep dan ide yang berhubungan.

Coba tengok lagu Friday dari Rebecca Black viral tahun 2011 lalu. Bagaimana bisa, video yang penuh hujatan itu ratusan juta kali ditonton?

Jika ditelaah lagi, membuka rekaman sejarah pencarian video ini, kita bisa melihat sebuah pola: setiap hari Jumat ada lonjakan pencarian.

Jumat (sebagai hari) berperan sebagai triggers atau pemicu yang hampir memaksa warganet untuk berpikir bahkan berbagi lagu konyol tersebut setiap minggunya.

Emosi

Untuk alasan ini, meman tak lepas dari sosok manusia yang memang makhluk sosial. Misalnya, kalau kamu kebetulan video yang lucu atau menyentuh, di Facebook atau Youtube, sampai pada akhirnya mood kembali bagus dan kemudian beraksi -seperti like, komentar, retweet, atau bagikan.

Jadi tak heran, kalau Berger, dalam penelitiannya, menekankan bahwa saat kita peduli maka kita akan berbagi.

Publik

Berger menjelaskan alasan berikutnya, yakni publik. Sebab, semakin populer sebuah konten, semakin besar kemungkinan seseorang tertarik, atau dikenal dengan ‘bukti sosial’: seseorang akan menirukan perlaku orang lain karena mendapatkan informasi dari orang yang ditirunya.

Practical value

Warganet, begitu juga kamu, amat sangat senang dengan konten praktis dan informasi yang dianggap berguna karena bermanfaat bagi kerabat dan kawan. Dan itu, banyak dibagikan secara berulang-ulang sehingga akhirnya viral.

Misal, video Buzzfedd memberikan penonton resep-resep terjangkau yang mudah dibuat. Video yang menggiurkan ini mendominasi Facebook karena jutaan orang merasa mendapat manfaat.

Story

Story menjadi alasan terakhir berdasarkan pemaparan Berger. Sebab, ada studi yang menunjukkan satu-satunya cara otak kita bisa tetap fokus adalah dengan mengonsumsi cerita.

Kebanyakan, orang-orang susuah untuk menolak dari sebuah cerita yang bagus. Kemudian mereka membagikan konten semacam itu untuk alasan yang sudah disebutkan tadi: nilai sosial (social currency), emosional, dan nilai praktis.