Beberapa pekan lalu, jurnal tentang penemuan hidrogen logam ditemukan. Materi ini disebut revolusioner. Ia bisa berfungsi sebagai konduktor super yang bisa berfungsi pada temperatur ruangan, yang diantaranya bisa meningkatkan efisiensi listrik dan mempercepat fungsi komputer. Materi ini juga dipercaya bisa digunakan untuk membuat bahan bakar roket yang lebih kuat dari jenis-jenis yang sebelumnya dibuat.

Untuk membuat hidrogen logam, sebuah sampel hidrogen ditekan dengan kekuatan sangat besar, yaitu 495 gigapascal – lebih besar dari tekanan di inti bumi – oleh 2 butir berlian kecil. Berlian-berlian ini dilindungi oleh lapisan tipis aluminium oksida.

Hidrogen logam diteorikan sebagai sebuah materi yang metastabil. Artinya, ia tidak akan melepaskan energi yang membuatnya berbentuk logam ketika ia sudah tidak diberi tekanan lagi. Salah satu contoh benda metastabil lainnya adalah berlian. Berlian adalah karbon yang mengalami tekanan dan panas yang besar. Setelah tekanan ini dilepaskan, berlian tidak melepaskan energi tekanan dan panas ini, kemudian kembali ke bentuk awalnya.

Namun, sampel hidrogen logam yang sebelumnya belum pernah ada ini dinyatakan hilang.

Sampel hidrogen logam ini disimpan di antara 2 butir berlian yang menekannya, di dalam sebuah gasket yang terbuat dari logam pada temperatur mendekati 273 derajat di bawah nol Celsius. Hal ini dilakukan untuk menjaga sampel hidrogen logam, karena sampel ini berisiko kembali ke bentuk aslinya.

Saat properti materi ini sedang dipelajari menggunakan cahaya laser berkekuatan rendah dalam keadaan tersebut, terdengar bunyi “klik,” tanda salah satu berlian telah pecah menjadi bubuk halus.

“Saya belum pernah melihat berlian pecah seperti itu. Bentuknya (berlian) itu bubuk, seperti soda kue atau semacamnya,” ujar Profesor Isaac Silvera.

Menurutnya, ada dua penjelasan atas belum (atau tidak) ditemukannya sampel hidrogen logam dalam gasket setelah hancurnya berlian itu. Pertama, sampel ini mungkin masih berada dalam gasket, namun belum ditemukan karena ukurannya yang luar biasa kecil.

Penjelasan kedua adalah salahnya teori yang menyebut bahwa hidrogen logam bersifat metastabil. Setelah tidak lagi mengalami tekanan, sampel hidrogen logam ini kembali ke bentuk aslinya, yaitu gas. Hal ini tentu sangat mengecewakan bagi yang mengharapkan hidrogen logam bisa menjadi materi yang merevolusionerkan bidang energi.

Beberapa fisikawan lain mengira bahwa sebenarnya Ranga Dias dan Isaac Silvera tidak pernah menciptakan hidrogen logam. Hidrogen logam ini memang belum pernah keluar dari cengkeraman kedua berlian itu. Jadi, selama ini sampel ini hanya bisa dilihat melalui berlian yang mendistorsi cahaya, dan tentunya dengan mikroskop.

Dari yang dilihat para peneliti, terdapat sampel kecil yang mengkilap, dan dipercayai sebagai logam. Namun peneliti-peneliti lain tidak sepenuhnya percaya bahwa sampel ini adalah hidrogen logam. Menurut mereka, sampel mengkilap ini bisa saja merupakan aluminium oksida pelindung berlian, yang bisa tampak mengkilap pada tekanan tinggi.

Silvera dan Dias juga dikritik karena mempublikasi jurnal sebelum sampel kecil ini diambil dari gasket. Eksperimen ini juga dikritik karena dianggap tidak cukup detail.

Menanggapi kritik-kritik ini, Silvera dan Dias mengatakan tidak akan mempublikasi hasil penemuannya jika mereka tidak yakin. “Terutama setelah menyangkal beberapa orang yang mengklaim telah menemukan hidrogen logam,” tambahnya.

Namun, Silvera tetap optimistis. Ia percaya saat percobaan diulang, mereka akan mendapatkan hasil yang sama.

sumber: independent.co.uk