Pengaturan keuangan seringkali menjadi momok tersendiri. Terlebih lagi pada akhir bulan.Pengeluaran yang tidak teratur jadi penyebabnya.

Masalah sebenarnya bukan berapa jumlah pemasukan, namun bagaimana cara mengaturnya. Ternyata hal itu bisa diatasi dengan cara menghemat makan siang.

Kenapa makan siang?

Begini perandaiannya: asumsikan sekali makan siang kita mengeluarkan uang Rp 25.000: Rp 20.000  untuk makan, sisanya untuk minum.

Dalam seminggu, anggaplah kita makan siang sebanyak lima kali, di luar Sabtu dan Minggu. Maka, 5 (hari) x Rp 25.000 jumlahnya Rp 125.000. Dalam sebulan jumlahnya Rp 500.000. Bila diakumulasikan dalam setahun maka sudah mencapai Rp 6.000.000.

Bagaimana bila ditambah dengan makan siang pada hari Sabtu dan Minggu? Yang biasanya justru pada hari Sabtu dan Minggu ini pengeluaran kita membengkak.

Kita asumsikan lagi, saat Sabtu atau Minggu, paling tidak kita harus keluarkan Rp 50.000 untuk makan siang. Maka, 4 (minggu) x Rp 50.000 jumlahnya Rp 200.000. Bila Rp 200.000 x 48 (Minggu/setahun), maka pengeluaran kita akan sebanyak Rp 2.400.000.

Artinya, kalau makan siang hari kerja ditambah makan siang di akhir pekan berjumlah Rp 700.000 dalam seminggu atau Rp 8.400.000 dalam satu tahunnya.

Jumlah tersebut baru dari makan siang, dan masih mungkin lebih besar lagi, seandainya, kita tak sempat sarapan pagi, atau bagi yang biasa membeli sarapan pagi di luar.

Kesimpulannya, membawa bekal bakal siang ternyata cukup bermanfaat untuk menghemat pengeluaran yang signifikan. Ini bisa dicoba untuk kamu yang mau menikah atau lagi cicil rumah.