Catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut angka pelecehan seksual terhadap anak-anak semakin meningkat setiap tahunnya. Bahkan peningkatan yang terjadi pada tahun 2013-2014 sangat signifikan, yaitu sejumlah 100 persen. Bisakah Indonesia dikategorikan darurat kekerasan seksual pada anak?

Komisi Perlindungan Anak menyatakan bahwa Indonesia ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual pada anak. Berdasarkan data lembaga perlindungan anak pada tahun 2010-2014, tercatat ada 21,6 juta kasus pelanggaran hak anak. Dari angka tersebut, 58 persen dikategorikan sebagai kekerasan seksual.

Data di atas tentu memperlihatkan kurangnya aksi represif dan preventif di Indonesia (pemerintah, lingkungan sosial, keluarga, dsb) untuk menghentikan pelecehan seksual pada anak. Hal itu tentu tidak bisa didiamkan.

Mengutip tulisan Tempo.co, Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, ketika itu, Arist Merdeka Sirait, menyebut ada tiga faktor yang mengakibatkan kekerasan seksual pada anak. Faktor pertama, posisi anak berpotensi menjadi korban. Kedua, keberadaan anak dan orang tua yang memiliki potensi untuk melakukan tindak kekerasan seksual, dan faktor pendukung ketiga adalah adanya peluang untuk kekerasan itu terjadi.

Perlu diwaspadai bahwa setiap anak berpotensi untuk menjadi korban kekerasan seksual. Namun, anak yang penakut, suka berpakaian dengan baju yang ketat dan cenderung hiperaktif merupakan anak yang memiliki potensi lebih kuat.

Orang tua sebaiknya waspada dan menjaga anak-anaknya. Terlebih lagi bagi mereka yang sering bermain di rumah tetangga yang tidak memiliki anak kecilnya, karena lengahnya pengawasan dari orang tua akan memperbesar peluang kekerasan seksual itu terjadi.

Orang dewasa yang maniak pornografi, miras dan narkotika memiliki potensi untuk menjadi pelaku kekerasan seksual. Selain itu, dorongan untuk menjadi pelaku kekerasan seksual juga bisa datang saat orang dewasa tersebut tengah mengalami konflik dengan keluarganya, pisah ranjang atau bertengkar dengan pasangan. Faktor ekonomi juga tak lepas menjadi penyebab dari maraknya jumlah pelaku kekerasan seksual pada anak.

Pada sisi si anak, orang tua pun mesti mengajarkan untuk berani menolak: ketika ada orang lain yang ingin memeluk, memangku, atau mencium, misalnya. Saat kekerasan seksual itu terjadi, anak harus bisa teriak dan melakukan perlawanan diri sebisa mungkin. Tindakan-tindakan seperti menendang dan berlari adalah tindakan yang membantu proses penyelamatan diri.

Menurut Sutanto (2006) pelecehan seksual adalah, “Perlakuan orang dewasa atau anak yang lebih tua dengan menggunakan kekuasaan/otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab dari orangtua atau pengasuh yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat/kematian. Kekerasan pada anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka pada tubuh sang anak.”

Perlindungan yang seharusnya didapatkan dari orang dewasa ini malah berputar sebaliknya, orang dewasa yang memperkosa mereka. Lucu bukan? Orang dewasa yang seharusnya melindungi malah menusuk? Memanfaatkan ketidakberdayaan anak-anak di bawah umur? Kenapa orang-orang dewasa itu tega menyodomi/memperkosa? Apa yang mereka pikirkan?

Libido yang merekah-rekah, tidak ada yang menampung bisa jadi faktor penyebab utama. Tapi seharusnya, mereka cukup dewasa untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Dibutakan oleh nafsu tentu tidak bisa dibenarkan. Tetapi ketidakharmonisan dalam hidup berpasangan juga tak boleh dipungkiri sehingga mempengaruhi niat buruk untuk memperkosa. Misalnya, sang istri menolak melakukan hubungan seksual dengan suami, membuat suami mencari penampung lain yang sekiranya tidak bisa melawan, anak-anak kemudian jadi jawabannya.

Lain hal, dan ini yang paling mengerikan, jika ternyata memang ada indikasi kelainan nafsu seksual menyimpang pada diri orang dewasa tersebut, yang dikenal dengan istilah Paedofilia. Paedofilia sebuah jenis penyimpangan seksual di mana pelaku menemukan nafsu seksualnya kepada anak-anak di bawah usia 13 tahun. Jenis preferensi seksual yang menyimpang itu tentu sangat membahayakan dan merugikan anak-anak di bawah umur. Masa depan mereka terenggut.

Moralitas rendah, hati nurani yang dangkal, sampai-sampai tega memperkosa anak yang tingginya hanya sampai perut orang dewasa. Setiap individu wajib untuk terus menerus mempertajam nuraninya, mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Edukasi yang rendah menjadi faktor pendukung pembentukan karakter yang kurang sempurna. Karakter-karakter yang kurang dewasa seperti ini, yang bisa dibutakan oleh nafsu. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau ada pelaku kekerasan seksual yang datang dari golongan terpelajar dan mapan.

Melihat itu, memang menjadi perkara mudah untuk menurunkan angka pelecahan seksual pada anak-anak, butuh kerja sama seluruh pihak. Masyarakat bisa menjadi kekuatan utama yang mendukung upaya pemberantasan pelaku pelecahan seksual pada anak. Karena masyarakat adalah pihak yang paling dekat dengan pelaku, lokasi dan huru hara kejadian.

Mengisi hari-hari dengan kegiatan yang produktif dan menghasilkan bisa dijadikan salah satu solusi untuk terus berpikir positif dan sewajarnya. Sudah sewajarnya, sebagai orang dewasa bertindak produktif demi masa deoan yang lebih baik.

Aksi cepat dan tanggap sangat dibutuhkan oleh para korban. Tangkap, dan adukan ke pihak yang berwenang menjadi cara yang bijaksana yang bisa dilakukan sebagai langka represif di masyarakat.

Aksi preventif pun sepatutnya perlu digalakkan untuk mencegah aksi para pelaku. Pengawasan sangat diperlukan guna membangun lingkungan yang bebas aksi kekerasan seksual terhadap anak. Dimulai dari satu lingkungan yang akan mempengaruhi lingkungan lainnya untuk bertindak demikian. Edukasi bagi sang anak dari orang tua juga penting, ajari anak untuk berkata tidak ketika ada orang asing yang mencoba memeluk atau berani mencium.

Anak-anak membutuhkan pertolongan dan dukungan dari orang dewasa yang bermoral di sekelilingnya, pengawasan dari lingkungan itu penting. Mereka tidak bisa melawan dan berteriak sendirian. Tidak cukup kuat. Kasarnya, tangan mereka saja hanya sebesar betis orang dewasa. Mereka butuh kita, ya kita orang dewasa (yang bermoral) katanya. Karena baginya, kita adalah orang tuanya.

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!