Foto patung harimau di Komandan Rayon Militer (Koramil) 1123 Cisewu, yang bernaung di bawah Komandan Distrik Militer (Kodim) 0611 Garut, Jawa Barat, belakangan mendadak viral dan menjadi perbincangan netizen.

Sebab, patung harimau loreng di Koramil Cisewu tersebut dianggap memiliki bentuk tak biasa dari kebanyakan patung harimau lainnya. Netizen menganggap patung macan tersebut berwajah lucu.

Namun, setelah ramai diperbincangkan netizen, akhirnya patung macan itu dibongkar. Saya mencoba untuk berempati pada si harimau. Saya memberanikan diri untuk melakukan wawancara (imajiner) dengan harimau tersebut. Berikut wawancaranya:

Harimau: Silakan duduk dulu, mau minum apa?

Saya: Apa saja, boleh.

Harimau: Baik, tunggu sebentar.

—– 7 menit kemudian —–

Harimau: Ini, silakan kau minum.

Saya: Terima kasih. Tapi apa ini?

Harimau: Air putih.

Saya: Bisa kita mulai?

Harimau: Apa?

Saya: Wawancara.

Harimau: Santai lah sedikit anak muda. Tapi baiklah.

Saya: Harimau, saya dengar Anda dihancurkan dan diganti dengan sosok harimau baru. Padahal Anda sudah bercokol di sana selama 6 tahun. Bagaimana perasaan Anda?

Harimau: PERTANYAAN MACAM APA INI?! Adakah di dunia ini yang terkena musibah lalu ia bergembira? Sudah barang tentu hatiku sedih. Hatiku gundah. Tak ingin pergi berpisah.

Saya bergumam dalam diam, mirip lagu Sherina.

Saya: Apa Anda memang sengaja memamerkan wajah ramah dengan senyum lebar seperti itu?

Harimau: Kau tak paham apa yang sudah kubangun selama ini. Itu bagian dari personal branding. Harimau selalu saja dimaknai dengan hewan buas dan berbahaya. Aku mencobanya untuk mengubah imej tersebut. Oleh sebab itu aku tampil dengan wajah riang.

Saya: Tapi Anda mewakili, katakanlah, markas militer, yang mestinya disiplin, kuat, tangguh. Apa Anda bertolak belakang dengan hal itu?

Harimau: Jelas! Aku bertengger di depan, sementara para serdadu kongkow di belakangku.

Saya: Kicauan netizen ada yang menamai Anda dengan istilah “macan lucu” atau saya lebih suka menyebut “harimau humanis”, bagaimana tanggapan Anda akan hal itu?”

Harimau: Ya tak ada yang salah. Sah-sah saja. Aku tampil seperti itu juga agar masyarakat tak menilai aku selalu tampil garang. Di sisi lain, aku juga bisa humanis, lho.

Saya: Tapi kan Anda representasi harimau yang, mestinya buas. Apa yang Anda pikirkan?

Harimau: Hei anak muda! Biar sedikit kuberi gambaran agar kau paham maksudku. Tapi aku sendiri bingung dari mana mulainya. Hmm…, begini saja. Mochtar Lubis, sebelum dia sampaikan pidatonnya di Taman Ismail Marzuki pada 1977 yang berjudul Manusia Indonesia, beliau lebih dulu mempopulerkan aku lewat tulisannya yang berjudul Harimau! Harimau!. Beliau luncurkan buku itu pada 1975. Bukankah harimau lebih utama ketimbang karakter Manusia Indonesia?

Saya: Hanya sebatas itu?

Harimau: Aku belum selesai menjelaskan. Jangan cepat kau sanggah!

Saya: …

Harimau: Dalam buku Harimau Harimau karangan beliau itu, bercerita tentang petualangan sekelompok manusia di sebuah rimba raya, yang kemudian mereka diburu oleh seekor harimau kelaparan. Sekelompok manusia itu berada di bawah ancaman, namun dalam setiap individunya, terjadi proses refleksi diri. Hingga satu di antara mereka berpikir bahwa sebelum membunuh harimau yang sedang memangsa mereka, tak kalah penting bunuhlah dulu sifat harimau yang ada di setiap masing-masing individu.

Saya: Saya tak terlalu paham maksud Anda.

Harimau: Ya sudah, lupakan saja.

Saya: Ah, bagaimana dengan nasib kawan-kawan Anda yang serupa dengan Anda? Saya dengar Anda tak sendirian membangun personal branding ini.

Harimau: Cepat atau lambat, semua akan sirna pada waktunya. Macan kumbang, macan tutul, dan macan-macan lainnya yang mencoba untuk memperbaiki diri, usahanya tak akan berhasil. Beberapa manusia bahkan mencoba memburu kami. Dengan poster Fantastic Beast and Where to Find Them yang diganti dengan foto-foto kami yang humanis, dan itu tersebar di pelosok dunia maya, kami terus diburu.

Saya: Saya turut prihatin akan hal itu.

Harimau: Ah, anak muda. Bicaramu ini…

Saya: Sebelum kita sudahi, adakah yang ingin Anda katakan lagi?

Harimau: Hidupku ini sudah terlalu banyak makan asam garam. Terlalu banyak yang ingin aku katakan.

Saya: …

Harimau: Ada pepatah lama bilang begini, “Rumah adalah di mana anda merasa berada di rumah dan diperlakukan dengan baik dan tujuan utama kita dalam hidup ini adalah menolong orang lain. Dan jika anda tak bisa menolong mereka, setidaknya jangan menyakiti mereka.

Saya: Maksudnya?

Harimau: Sudah, suatu saat kau akan mengerti anak muda.

Saya: Ya sudah kalau begitu terima kasih atas tanya jawab terkait pembongkaran ini ya. Semoga Anda senantiasa diberikan kehidupan yang lebih baik.

Harimau: Ya, sama-sama. Sampaikan salamku pada netizen ya. Mohon maaf tak bisa menghibur lebih lama lagi.

Saya: Baik.

Harimau: Ah, satu lagi!

Saya: … (apalagi sih???)

Harimau: Hidup di zaman seperti ini jadi manusia jangan terlalu baper.