Banyak cara untuk melamar sebuah pekerjaan. Misal melalui JobStreet, jobsDB, karir.com, hingga pameran bursa kerja atau job fair sekalipun. Untuk yang tak ingin dikirimi email oleh mbak Lina JobStreet secara sering, kamu boleh tak daftar di situs itu. Untuk kamu yang lebih senang dengan cara offline, job fair bisa jadi alternatif –selain menitip lamaran di kantor teman.

Job fair memang selalu banyak mengundang minat, terutama bagi first jobber. Sebab, ada banyak pilihan perusahaan‎ yang memang tidak membuka lowongan pekerjaan di situs-situs online. Kemudian, para pelamar juga memiliki kesempatan interview langsung kalau memang cocok dengan apa yang dibutuhkan perusahaan.

Besarnya minat para pelamar, bahkan hingga membludak, kerap dimanfatkan oleh penyelenggara‎ untuk memungut biaya masuk atau biaya apapun kepada pelamar. Padahal hal itu tidak boleh dan diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan.‎

Penyelenggaraan pamerna bursa kerja yang memungut biaya apapaun kepada si pelamar berarti telah melanggar Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan Keppres 36 tahun 2002 tentang pengesahan ratifikasi konvensi ILO nomor 88 mengenai lembaga pelayanan penempatan tenaga kerja.

Selain itu, mereka melanggar Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 39 Tahun 2016 Pasal 54 ayat 3 yang menyebutkan bahwa penyelenggara pameran kesempatan kerja (Job Fair) dilarang melakukan pungutan biaya dalam bentuk apapun kepada pencari kerja.

“Job fair harus gratis apapun alasannya apakah itu khusus member atau pencaker secara umum. Tidak boleh ada pungutan,” demikian keterangan resmi Kemnaker.

Jadi, para untuk kamu yang berniat mencari kerja melaluo Job Fair dan diminta biaya –apalagi diiming-imingi jabatan– jangan pernah meng-iya-kan untuk membayar.