Tepat pada hari Rabu, 15 Februari 2017 nanti kita akan melaksanankan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Pilkada kali ini akan diikuti secara serentak oleh 101 daerah yang terbagi dalam kota, kabupaten, dan provinsi.

Untuk itu, kami merangkum hal-hal yang jarang diketahui seputar pilkada dan jarang dibicarakan, tetapi itu menarik untuk diketahui:

Simulasi bagi penyandang difabel

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) membuat simulasi pencoblosan untuk penyandang difabel dengan tujuan agar para pemilih disabilitas dapat mengetahui tata cara pemilihan suara, dan tidak canggung saat berada di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hal ini sudah diterapkan ke dalam beberapa pmilihan untuk perisapan bagi penyandang disabilitas

Tata cara pencoblosan

Indonesia masih menerapkan sistem konvensional dengan mencoblos kertas suara dengan paku. Tapi tahukah bahwa di tahun ini untuk menanggulangi surat suara tercoblos yang tak sah, KPU membuat aturan yang ternyata lebih rigid yang tidak diketahui banyak rakyat seperti: (1) mencobolos sebanyak apapun pada kotak pasangan calon di surat suara menjadikannya sah, (2) dan mencoblos pada garis pinggir kotak pasangan calon di surat suara menjadikannya juga sah.

Tak boleh memotret di bilik

Saat masuk bilik suara para pemilih tidak diperkenankan membawa alat elektronik berkamera dengan tujuan untuk memotret momen saat mencoblos, atau bahkan sekedar ber-selfie –apalagi untuk update status– di bilik suara. .

Kampanye di media sosial pada masa tenang terancam penjara

Peningkatan aktifitas rakyat pada media sosial pun menjadi imbauan pemerintah dalam melaksanakan penertiban, dalam hal ini berdasarkan pasal 187 ayat 1 Undang-Udang Pemilu, karena kegiatan berkampanye pada media sosial adalah hal yang diperbolehkan. Tetapi, berkampanye pada masa tenang (12-14 febuari) meski melalui media sosial akan dikenakan ancaman hukuman pidana 15 hari hingga 3 bulan penjara. Akan tetapi sanksi pidana diberikan kepada tim kampanye atau relawan calon kepala daerah terkait.

Maskot pilkada

Maskot PILKADA 2017 di 7 Provinsi; Aceh (Si Tamboe), Banten (Si Taban), DKI Jakarta (Abang & None Monas), Papua Barat (Burung Kasuari), Gorontalo (Si Palo), Sulawesi Barat (Perahu Sandeq)

Mengingat bahwa akan ada pemilihan gubernur di tujuh provinsi nanti (DKI, Banten, Gorontalo, Aceh, Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Papua Barat), KPU mengimbau para pemilih untuk melaksanakan PILKADA di daerahnya masing-masing dengan membuat maskot serta jinggle sebagai sarana komunikasi yang lebih kreatif.

Diantaranya, DKI Jakarta dengan maskot Abang & None Monas. Maskot PILKADA yang mengambil bentuk pasangan berbadan Monas yang memakai pakaian khas Betawi.

Kemudian ada Banlih, yang merupakan kepanjangan dari Banten Memilih ialah maskot PILKADA provinsi Banten yang berbentuk menara masjid Banten lama.

Si Palo, maskot Pilkada Gorontalo yang diambil dari kata “Palo Palo” yang merupakan alat musik Gorontalo yang terbuat dari bambu.

Lalu Aceh, yang mempunyai maskot menyerupai bedug besar yang berguna untuk mengumpulkan rakyat untuk salat berjamaah yang bernama Si Tamboe.

Ada juga Si Tabon, yaitu khas Bangka Belitung dengan nama ilmiah Tarsius Bancanus atau yang lebih dikenal dengan nama Mentilin oleh warga setempat.

Maskot Pilkada Sulawesi Barat ialah Perahu Sandeq yaitu jenis perahu bercadik yang digunakan oleh pelaut Mandar dalam mencari ikan dan transportasi.

Sedangkan Maskot Pilkada Papua Barat menggunakan ikon burung kasuari, sebagaimana ciri khas hewan dari daerah tersebut.