Setelah melibatkan salah satu seorang pengendara ojek daring dalam sebuah film pendek, Sinergi Muda mencoba untuk menggali lebih dalam kehidupan Agus Purwanto, pengendara ojek daring yang memiliki keterbatasan dalam komunikasi langsung. Kami mengundang Mas Agus ke kantor Sinergi Muda secara khusus, untuk bercerita seputar kehidupannya.

Mas Agus, begitu kami menyapanya, mengalami kesulitan berbicara sejak masih balita. Kala itu, Mas Agus mengalami demam selama seminggu lantaran suhu badannya tinggi. Demam yang awalnya hanya sakit biasa, rupanya, mengakibatkan Mas Agus menjadi sulit berbicara.

Semasa kecil, Mas Agus menghabiskan masa waktunya di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, sebelum ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Setelah itu, pria kelahiran Tegal 28 tahun lalu ini mencoba kembali mengadu nasib di Jakarta. “Di Tegal sepi,” ungkapnya saat ditanya alasan kembali ke Jakarta.

Di Jakarta, Mas Agus mencoba berjuang untuk hidup dengan cara menjual kantong plastik di pasar Kramat Jati. Hal itulah yang bisa ia lakukan dan menjadi pilihannya ketika kembali menginjak tanah Jakarta.

Nasib Mas Agus berubah menjadi lebih baik. Suatu hari, di tahun 2008, datang seorang wanita paruh baya kepadanya dan menawarkan pekerjaan baru. Wanita tersebut nyatanya merupakan kerabat dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mohammad Nuh. Sejak saat itu, pria yang hanya menyelesaikan pendidikannya hingga kelas 4 SD ini, menjadi pekerja rumah tangga di kediaman tersebut. Entah sebuah prestasi atau ironi.

Mas Agus kembali harus mengalami getir pahit dalam hidupnya. Usai Mohammad Nuh mengakhiri masa jabatannya, dirinya pun harus selesai juga bekerja di sana. Meski sempat ikut ke Surabaya, kampung halaman Mohammad Nuh, ketika beliau memasuki masa pensiun sebagai pejabat negara. Namun itu hanya bertahan beberapa minggu saja. Saat kembali ditanya mengenai alasan kembali ke Jakarta, ia hanya menjawab: “di Surbaya panas”.

Mungking Mas Agus sudah terlanjur cinta dengan Jakarta. Untuk itu ia tak butuh banyak alasan untuk kembali ke Ibu Kota.