Suatu hari saya berdiskusi bersama Rio (@bibirjahe) mengenai konsep visual @IndonesianYouth (IYC) tahun ini. IYC 2014 merupakan IYC terakhir kami berdua sebagai panitia, karena itu kami ingin memberikan yang paling optimal. Kami membicarakan banyak hal, mulai dari user experience pada film Her, sampai tren desain 2014. Kami lalu sepakat untuk membuat perubahan gaya visual pada desain IYC tahun ini, membuatnya berbeda agar memberikan kesan yang mendalam bagi kami.

Kemudian kami memikirkan apa saja hal yang ingin kami buat. Kami menulis satu per satu aktivitas/kegiatan apa saja yang ada di IYC, lalu mengembangkannya menjadi karya visual apa saja yang diperlukan. Ketika membahas kegiatan Forum IYC, kami akhirnya sadar bahwa kami memiliki gambaran yang sama mengenai konsep dan gaya visual IYC 2014: flat design.

Flat design bukan hanya “gaya-gayaan” mengikuti perkembangan tren. Flat design adalah sebuah statement, sebuah pernyataan, mengenai pendekatan desain yang mengutamakan kegunaan. Bagi saya pribadi, flat design adalah sebuah jawaban untuk mengembalikan fungsi dan peran utama desain: forms follow function; dan juga me-rebranding desainer yang selama ini hanya dianggap “tukang dekor” saja.

Yaudah, lo coba eksplor dulu aja Fat sebelum kita bikin pakem yang pas buat IYC,” kata Rio kepada saya.

Ujian pertama saya adalah membuat sebuah e-flyer mengenai Hari Musik Nasional. Seperti yang dituliskan di atas, forms follow functions, maka desain yang dibuat menitikberatkan kepada pesan yang ingin disampaikan.

Ujian kedua adalah membuat animasi untuk Hari Film Nasional. Kali ini saya berkolaborasi dengan Mia, Tia, dan Rizka untuk membuat karakter dari beberapa film di Indonesia.

Kemudian saya kembali melakukan eksplorasi visual untuk IYC. Saya mencoba membuat simbol mengenai provinsi-provinsi yang ada di Indonesia untuk menggambarkan perwakilan Forum IYC nanti. Dari hasil diskusi dengan Rio, simbol yang bisa mewakili suatu provinsi adalah baju daerah.

Saya lalu menggambar beberapa baju daerah. Ternyata untuk membuat satu baju daerah saja sangat sulit, memakan waktu lebih dari 30 menit belum termasuk riset, apalagi kalau membuat 34 pasang? Resources yang dihabiskan sangat besar, dan saya merasa sayang apabila aset yang saya buat ini hanya dipakai sekali saja.

Gimana kalo kita rilis baju daerah ini ke publik?” tanya saya ke Rio.

Wah boleh banget tuh Fat!”

Saya menghabiskan waktu selama dua malam untuk memikirkan konsep pengemasan aset visual ini. “Bikin web aja kali ya,” ujar saya dalam hati. “Tapi kalo gitu butuh nama buat domainnya.” Saya mencari kata kunci yang menggambarkan aset ini dan mendapatkan dua kata: Flat dan Indonesia. Lalu saya mencoba mengombinasikan kedua kata kunci tersebut.

  1. Nusantaflat
  2. FlatIndonesia
  3. IndonesiaFlat
  4. Flatnesia

Pilihan saya jatuh ke nomor 4 walau pelafalannya bagi saya agak sulit.

Dua malam selanjutnya saya habiskan untuk membuat sketsa halaman situsnya. Tidak ada yang sesuai.

Ketika sedang menunggu khutbah Jumat selesai, saya termenung memikirkan Flatnesia. Tiba-tiba saya langsung tahu harus membuatnya seperti apa walau saya tidak tahu saya bisa membuatnya atau tidak. Sepulangnya dari kantor saya langsung melakukan riset tentang Javascript, Google Maps, Bootstrap, dan berbagai istilah web design lainnya. Merasa sudah cukup, saya mencoba menerjemahkannya menjadi sebuah situs web.

Sekitar 3 hari 5 malam saya habiskan untuk trial and error sampai akhirnya saya berhasil membuat tampilan situs web yang saya inginkan.

Setelah itu, saya meluangkan 2-3 jam sepulang kerja untuk membuat baju daerah. Dari mulai Sumatera sampai Papua, selama sekitar dua minggu. Alhamdulillah pada 1 April lalu akhirnya saya menyelesaikan baju daerah Papua dan saya mengunggahnya ke server dan mulai mempublikasikan Flatnesia.

Selama lebih dari 100 jam waktu yang saya luangkan untuk membuat Flatnesia, ada banyak hal yang saya pelajari.

  1. Saya bisa mengembangkan diri saya dengan membuat sesuatu di luar pekerjaan saya.
  2. Saya bisa membuat sesuatu yang saya inginkan karena saya mau mempelajarinya.
  3. Ternyata sangat sulit mencari referensi gambar baju daerah di Indonesia, baik menggunakan search engine maupun mencari di toko buku. Kalaupun ada, resolusi gambarnya kecil dan gambarnya pecah.
  4. Satu provinsi di Indonesia terdiri dari berbagai macam adat. Hasil pencariannya berbeda-beda karena baju adat yang ditampilkan berbeda pula.
  5. Indonesia memiliki banyak sekali kekayaan budaya dan sayang sekali kalau tidak ada yang melestarikannya.

Sesuai misi utama saya, merilis aset visual ini ke publik, maka saya mempersilahkan siapa saja untuk mengunduhnya di http://flatnesia.com. Saya juga terbuka bagi siapa saja yang ingin memakai theme WordPress yang saya kembangkan untuk Flatnesia, tinggal mention saya di @RifatNajmi.

Ke depannya, saya ingin menambahkan banyak hal yang berhubungan dengan kebudayaan Indonesia dan memperkenalkannya ke publik yang lebih luas dengan kemasan yang dibuat secara pop ini. Jika ada yang ingin berkolaborasi atau berpartisipasi di Flatnesia, hubungi saya di @RifatNajmi.

Untuk mendukung Flatnesia agar selalu berkembang, kamu bisa membeli merchandise-nya di shop.flatnesia.com. Ada beragam pilihan, mulai dari t-shirt, sweater, tote bag, sampai casing hp.


Catatan: Tulisan ini merupakan arsip MUDAzine yang kami terbitkan kembali