Tanyalah kepada anak kecil zaman sekarang, tahukah dia lagu “Anak Gembala”? Saya rasa tidak. Di tengah gempuran pasar industri musik yang kian merajalela, anak-anak mau tak mau terpaksa mendengar lagu-lagu yang sebenarnya belum pantas untuk mereka dengarkan.

Lagu bertemakan cinta sepasang kekasih, perselingkuhan, patah hati, dan lain-lain bisa kita dengar setiap hari di TV. Berbagai stasiun TV berlomba-lomba membuat acara musik yang memperdengarkan lagu-lagu yang sedang hits. Acara musik kini menjadi lahan yang menguntungkan bagi para produser.

Kita mengenal sebuah program di salah satu stasiun TV swasta yang mengadakan kontes menyanyi anak-anak. Seharusnya yang dinyanyikan oleh para pesertanya adalah lagu anak-anak. Tapi nyatanya tidak, jarang sekali lagu anak dibawakan dalam kontes ini. Mereka yang masih berusia antara 6-12 tahun ini kebanyakan menyanyikan lagu bertema cinta, walaupun sebagian liriknya diubah. Sungguh ironis.

Enam atau tujuh tahun yang lalu saya masih bisa mendengarkan suara si penyanyi cilik Tasya, Joshua dan juga penyanyi lainnya, mengalun indah dalam lagu yang polos dan ceria. Zaman itu, lagu anak Indonesia mencapai puncak kejayaan. Di berbagai tempat senantiasa diputar lagu-lagu anak. Tapi kini, apa kita masih bisa mendengarkan lagu-lagu mereka?

Beberapa tahun belakangan ini, lagu anak bagaikan hilang ditelan waktu. Hal ini dikarenakan para penyanyi cilik yang berjaya saat itu mulai beranjak dewasa dan sayangnya tak ada regenerasi. Kalaupun ada, biasanya mereka tak se-booming Tasya atau Joshua. Sehingga lagunya dilupakan begitu saja bagai angin lewat.

Lalu lagu apa yang didengarkan anak kecil zaman sekarang? Seperti yang telah saya ungkapkan di awal: lagu-lagu bertema cinta, patah hati, perselingkuhan, dsb. Hanya sedikit lagu anak yang bisa didengar mereka. Saya pernah mendengar sekelompok anak kecil di dekat rumah saya sedang bermain-main dan menyanyikan sebuah lagu. Apa yang mereka nyanyikan?

Ketika saya dekati, ternyata mereka menyanyikan lagu orang dewasa tentang seseorang yang selalu gagal dalam percintaan. Saya tersentak. Kok anak kecil zaman sekarang nyanyinya malah lagu ginian sih, saya menggerutu dalam hati. Seringkali saya merasa prihatin dengan anak-anak yang lahir di zaman sekarang. Saya merasa beruntung dilahirkan di tahun 90-an di mana banyak lagu anak yang booming dan mendapat porsi yang seimbang dengan lagu genre lain.

Kita semua tahu, anak-anak adalah tunas penerus bangsa. Merekalah yang akan meneruskan perjuangan kita sebagai generasi muda di masa yang akan datang. Bagaimana nasib mereka di masa depan nanti?

Perlu kita ketahui bahwa lirik-lirik lagu dewasa tak selamanya baik bagi perkembangan mental anak. Akibatnya, sering kita temukan anak-anak yang usianya masih sangat muda tampak tumbuh lebih dewasa dari umur sebenarnya. Anak kecil seusia mereka sudah fasih berbicara soal percintaan. Selain itu juga terjadi degradasi moral pada anak-anak zaman sekarang.

Padahal lagu sesungguhnya adalah media yang paling tepat untuk memperkenalkan dunia kepada anak-anak. Lewat lagu anak yang liriknya polos dan lugu, tersirat berbagai nilai dan moral yang sangat baik dan sesuai untuk perkembangan mereka.

Selain itu, mereka pun dapat mengasah kemampuan berbahasa Indonesia. Lewat musiknya, anak-anak Indonesia diharapkan menjadi kreatif karena musik dipercaya dapat menstimulasi kecerdasan otak.

Hal ini merupakan salah satu keprihatinan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, saya berharap kepada para produser musik Indonesia untuk lebih memperhatikan lagu anak-anak di industri musik. Kita sangat membutuhkan komposer lagu anak macam Pak AT Mahmud untuk mengembalikan masa kejayaan lagu anak Indonesia.

Pilihan ada di tangan kita: inginkah kita memperbaiki akhlak dan moral anak-anak dan memperdengarkan kembali lagu-lagu yang polos dan ceria?

Catatan: Artikel ini merupakan bagian dari arsip MUDAzine yang kami terbitkan kembali.

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!