Apa sih sebenarnya yang elo cari?

Begitu pertanyaan yang sering hendak saya utarakan ke orang lain, terutama mereka yang seusia. Kita-kita ini, yang mereka sering labeli dengan julukan “millennials”, lahir di akhir tahun 1980-an atau awal 1990-an. Ada banyak asumsi orang soal generasi ini. Millennials hanya mau yang instan, millennials suka pindah-pindah tempat kerja, millennials mau gaji besar tapi enggak mau kelelahan kerja (harus ada work-life balance, katanya). Tapi, siapa sih yang enggak mau itu semua? Apa yang lebih menyenangkan dibanding punya pemasukan besar tapi bisa mengatur jam kerja sendiri? Saya pikir, enggak hanya millennials yang menginginkan hal itu. Siapapun juga pasti mau –tapi mungkin selama puluhan tahun ini, baru millennials yang punya kesempatan paling besar untuk mewujudkannya, dengan adanya media sosial maupun fenomena startup.

Tatkala mempelajari lebih lanjut soal hal ini, saya menemukan sejumlah fakta yang menurut saya menarik –atau bahkan sedikit mencengangkan. Saya jadi tahu bahwa ada make-up artist yang bisa berpenghasilan sebanyak lebih dari Rp 15 juta untuk satu kali sesi make-up. Sekarang, saya jadi mengerti kenapa ia meninggalkan pekerjaan penuh waktunya di sebuah agensi periklanan. Saya jadi tahu bahwa ada pembawa acara dalam usia millennial bisa memperoleh pemasukan sebanyak Rp 30 juta dalam waktu dua jam (apalagi Becky Tumewu?). Saya jadi tahu bahwa berbagai korporasi di luar sana memperebutkan bakat dengan menawarkan gaji lebih dan lebih tinggi: mungkin Rp 15 juta per bulan di tahun pertama, tapi lalu tiba-tiba naik menjadi Rp 35 juta per bulan di tahun kedua –meski pengalaman kerjanya belum banyak, ‘hanya’ modal sekolah di luar negeri. Saya juga jadi tahu bahwa ada orang-orang seusia saya yang mendirikan startup, menjadikan dirinya CEO, dan memberi dirinya gaji di atas Rp 50 juta per bulan. Terlebih lagi, jangan lupakan fenomena Awkarin, yang bisa memperoleh jutaan Rupiah hanya dengan mempublikasikan satu buah unggahan di Instagram.

Pekerjaan-pekerjaan ini mungkin menjadi pekerjaan impian bagi kita. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak mau kemewahan seperti itu? Pekerjaan-pekerjaan ini tidak mudah, memang, tapi memberikan timbal balik yang jauh lebih baik dibandingkan pekerjaan-pekerjaan ‘biasa’ yang kita tahu selama ini. Akhirnya, impian kita pun berubah: mungkin kita ingin bisa menjadi seperti itu dan memperoleh pekerjaan-pekerjaan itu.

Sampai pada suatu kali, ketika sedang mengerjakan tugas kampus, saya menemukan hasil riset yang membuat kepala agak pening.

Berdasarkan laporan dari Oxfam yang melansir hasil laporan Credit Suisse, kekayaan empat orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta orang termiskin di Indonesia. Bunga dari kekayaan orang terkaya di Indonesia selama satu tahun (ingat, hanya bunganya saja lho, dan hanya bunga kekayaan/tabungan –bukan yang lainnya), mampu mengeluarkan orang-orang Indonesia yang berada dalam kategori kemiskinan ekstrim (saat ini, jumlah orangnya ada sekitar 20 juta orang). Lebih dari 50% kekayaan di Indonesia dikuasai oleh 1% orang terkaya, membuat Indonesia menjadi negara dengan konsentrasi kekayaan tertinggi ketiga di dunia setelah Rusia dan Thailand. Indonesia adalah negara dengan disparitas ekonomi tertinggi keenam di dunia –tidak jauh dari Amerika Serikat di mana Stiglitz dan Piketty berkoar-koar soal akibat keberadaan disparitas.

Lalu? Mungkin begitu kita bertanya. Memangnya kenapa kalau ada disparitas? Bukankah Amerika Serikat mereka sebut ‘negara maju’ atau bahkan ‘adidaya’?

Disparitas membawa efek negatif terhadap kesejahteraan masyarakat. Negara dengan disparitas yang tinggi cenderung memiliki masalah sosial lebih banyak, mulai dari tingkat kehamilan remaja, angka kematian bayi, angka kriminalitas, hingga persentase dari populasi yang memiliki penyakit mental. Lebih dari itu, di Indonesia, adanya disparitas juga berkaitan erat dengan kemunculan kejahatan kekerasan (violent crime). Daerah-daerah yang memiliki disparitas lebih tinggi di Indonesia cenderung memiliki lebih banyak konflik ketimbang daerah-daerah lebih setara. Kekerasan ini tidak hanya kekerasan-kekerasan rutin seperti tawuran, tetapi juga kekerasan antar-etnis maupun antaragama.

Di sisi lain, tentunya dengan perkembangan ekonomi, Indonesia sedang melaju dengan cukup kencang dari segi kesejahteraan absolut (dalam nilai uang). Laporan McKinsey menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia (nomor lima) di tahun 2030, apalagi dengan adanya bonus demografi yang sedang dimiliki negara ini. Bonus demografi itu, ya, kita-kita ini –yang mereka sebut sebagai millennials dan akan menjadi pekerja di usia produktif di tahun 2030. Fakta yang menyenangkan untuk dibaca, bukan?

Tapi, apakah fakta yang lain –bahwa Indonesia memiliki disparitas yang sangat besar dan cenderung meningkat setiap tahunnya –tidak membuat kepala kamu pusing? Saat ini, koefisien Gini Indonesia ada di angka 0,41 (nilai tertingginya adalah 1). Bukannya tidak mungkin, keberadaan pekerjaan-pekerjaan dan industri-industri impian itu bisa membuat koefisiennya menjadi semakin besar dan disparitas meningkat, apalagi jika hanya itu yang kita kejar.

Setiap harinya, melihat apa yang ada di media sosial mungkin membuat kita menjadi lebih tertarik untuk berjalan ke arah sana. “Enak kali ya, kalau bisa punya gaji sebesar itu?” Atau semacam, “Enak kali ya, kalau bisa membuat startup seperti Snapchat yang membuat Evan Spiegel menjadi miliarder (dalam USD) termuda di dunia di usia 26 tahun?”

Tanpa disadari, kita jadi mengejar cita-cita tersebut.

Apa sih yang sebenarnya elo cari? tanya saya, kadang juga ke diri sendiri. Mungkin pengakuan. Mungkin tujuan hidup. Mungkin ingin jadi terkenal. Tapi, juga bisa jadi uang.

Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Asalkan…

Apapun yang kamu cari, saya berharap kita bisa terus-terusan mengingat fakta-fakta di atas: jenjang yang terlalu jauh antara si kaya dan si miskin di Indonesia, dan bagaimana itu bisa memberi pengaruh terhadap banyak hal. Kita tidak pernah menemukan masyarakat yang sehat di tengah disparitas yang tinggi. Kita punya tanggungjawab untuk menjaga agar hal itu tidak memburuk ketika generasi kita memimpin dan memegang kendali.

Dengan mengingat hal ini, mudah-mudahan, berapapun angka yang kita peroleh setiap bulannya, atau bahkan setiap unggahan Instagram-nya, kita tidak lupa untuk memikirkan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Ada banyak jalan menuju ke sana. Kita bisa berperilaku filantropis, memberi sumbangan, atau bahkan mengembangkan program beasiswa untuk mereka. Kita bisa membangun sebuah kewirausahaan sosial yang berusaha menyelesaikan tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Kita bisa memilih untuk mendapatkan gaji yang biasa-biasa saja sebagai pendiri startup/bisnis (atau bahkan nyaris 0 Rupiah a la Steve Jobs!), tapi memberikan lebih banyak kesempatan bagi teman-teman yang tidak seberuntung kita dalam bidang kesempatan berkarya dan membanting tulang dengan memberi mereka pekerjaan di usaha yang kita bangun.

Yakin sekali, kalau kita memegang prinsip itu, Indonesia benar-benar bisa menjadi salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030, tanpa meninggalkan teman-teman kurang beruntung jauh di belakang.

Sebab, benar yang mereka bilang: masa depan itu berada di tangan anak muda. Kalau anak mudanya hanya peduli dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya kekayaan, bisa jadi harapan itu hanya menjadi harapan kosong.