Leaderless Group Discussion, atau yang disingkat LGD, merupakan salah satu tes yang ada dalam seleksi substansial Beasiswa LPDP. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kepribadian dan kapabillitasmu dalam memahami, serta mengutarakan pendapat terkait isu-isu yang sedang hangat. Tak hanya isu nasional, tetapi juga mancanegara.

(Baca juga: Begini Cara Mendaftar Beasiswa di LPDP)

Hana Krisviana, awardee LPDP yang tengah menempuh pendidikan Marketing Communication di University of Twente, Belanda, mengungkapkan kepada IndonesianYouth.org soal LGD tersebut.

Waktu itu, kelompok Hana berjumlah enam orang, terdiri dari empat laki-laki dan dua perempuan. Di sana, mereka diberikan sebuah artikel dari koran dan diminta untuk mengutarakan pendapat mengenai artikel tersebut.

“Kebetulan artikel yang kami terima mengenai tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum di Indonesia,” ujarnya ketika ditanya mengenai topik LGD.

Waktu yang diberikan dalam grup diskusi ini kurang lebih 30 menit. Akan tetapi, hal tersebut bergantung pada keputusan psikolog yang mendampingi diskusi. Ia berhak menghentikan diskusi bila dirasa waktunya sudah cukup.

Nah, sebagai informasi, saat Hana mengikuti seleksi Beasiswa LPDP pada 2015 lalu, LGD dilangsungkan dalam bahasa Indonesia. Para calon awardee pun digabung menjadi satu, baik dalam maupun luar negeri.

Semenjak seleksi batch ketiga tahun 2016, dikabarkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris tidaklah menentu. Ada yang melakukan perkenalan dalam bahasa Inggris dan berdiskusi dengan bahasa Indonesia, ada yang keseluruhan diskusi dengan bahasa Inggris, dan sebagainya.

Maka, tidak ada salahnya apabila kita menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik. Dengan begitu, kita tidak akan kaget nantinya saat menjalani seleksi.

(Baca juga: 5 kanal YouTube yang Bisa Bikin Kita Jago Bahasa Inggris)

Hana menjelaskan, sebelum LGD berlangsung, ada baiknya berkenalan dengan teman-teman satu grup. Sebab, tidak ada sesi ice-breaking khusus sebelum LGD dimulai. Namun untungnya, Hana bisa membaur dengan cepat, meski dirinya adalah peserta yang paling muda di dalam kelompok.

Lantas, apa sih, yang menjadi bobot penilaian dari LGD ini?

“Dari namanya, Leaderless Group Discussion, saya juga berasumsi bahwa yang dicari bukanlah orang yang terlalu mendominasi dalam diskusi. Namun, orang yang tahu bagaimana menempatkan diri dalam forum. Yang bisa mengutarakan pendapat, namun tetap beretika,” kata perempuan berambut panjang ini.

Ya, etika dalam mengutarakan pendapat bisa dijadikan salah satu substansi yang perlu dipersiapkan.

“Tapi saya rasa yang paling penting adalah kejujuran dalam bersikap. Banyak blog atau website yang memberikan kriteria penilaian LGD LPDP, tapi saya kira itu rawan membuat orang kurang jujur dalam bersikap. Psikolog tentu bisa membedakan mana personality yang asli dan yang dibuat-buat untuk memenuhi ‘syarat’,” imbuhnya lagi.

Supaya berhasil dalam tahap LGD ini, Hana memberi saran agar kita banyak membaca koran dan mengetahui berita-berita terkini. Membaca kolom opini di berbagai media juga bisa membantu kita untuk memformulasikan argumen kita.

Nah, apabila nanti saat LGD, kita mendapatkan topik yang tidak dikuasai, bacalah artikel yang diberikan secara seksama dan utarakanlah opini secara jujur dan logis.

“Lalu, tanggapi jawaban orang lain dengan jujur dan logis juga. Yang pasti, yang sesuai dengan hati nurani atau common sense pribadi. Jika tidak setuju, ya tidak perlu ikut-ikutan opini orang lain. Yang pasti jangan panik,” katanya.

Selanjutnya, Hana berpesan agar para peserta seleksi bisa lebih percaya diri dan tidak terlalu mendominasi. Ketika tengah berdiskusi, anggap saja sedang mengobrol dengan teman-teman seperti biasa.

“Tidak perlu terlalu mengikuti tips-tips dari orang lain di blog karena saya rasa LPDP mencari orang yang jujur dalam bersikap,” tutupnya.

(Baca juga: Ini Dia Gambaran Suasana Saat Seleksi Wawancara LPDP)