Berdasarkan artikel dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2010, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 31,02 juta jiwa, atau mencapai 13,33 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

To be honest, I can’t be more concerned. This wasn’t the thing expected by our ancestors. This wasn’t the thing wanted by our founding fathers. There must be something that can be done to decrease this number.

Yang membuat saya lebih prihatin adalah, kebanyakan remaja di negeri ini seolah tidak peduli dengan fakta ini. Jangankan remaja, sebagian besar pejabat negara saja seolah tutup mata tutup telinga dengan kenyataan ini. Buktinya masih banyak koruptor berkeliaran di negeri ini tanpa adanya kepastian hukum yang jelas yang dapat menjerat mereka. Well, money talks.

Selain itu, sebagian besar media massa tidak menyoroti hal tersebut. Apa yang menjadi sorotan di media? Artis A bercerai dengan Artis B. Eh, si Artis C kabarnya putus lho dari Artis D. Denger-denger, Artis E abis operasi plastik. Berita seperti itukah yang diperlukan bangsa ini? Halo, jutaan orang lainnya di bumi pertiwi ini masih pusing berpikir, “Besok gimana saya mau makan?” “Aduh, penghasilan segini mana cukup buat sehari-hari!” “Daripada sekolah, mending saya kerja bantu orang tua.” “Saya ga boleh sakit, biaya berobat mahal.”

Mungkin buat kita yang uang jajan per minggunya rata-rata berlebih, uang Rp 20.000 ga ada artinya. Tapi tahukah? Nominal tersebut rupanya sangat besar bagi sebagian orang. Banyak sekali masyarakat di Indonesia yang penghasilan per harinya cuma Rp 20.000, bahkan banyak yang lebih kurang beruntung, penghasilan per harinya cuma Rp 10.000 bahkan Rp 5.000. Coba kalau orang tersebut sudah berkeluarga, bagaimana anak istrinya mau makan cuma dengan Rp 5.000 per hari? Selain itu, keperluan sehari-hari tidak hanya makan saja. Anaknya harus sekolah, kalau sakit harus berobat, dan sebagainya. Bahkan berdasarkan suatu sumber, per menit, 5 anak Indonesia putus sekolah. Seperti yang dialami mbak saya di rumah. Suatu hari mbak saya bilang, “saya mau ketemu anak saya dulu ya, dia kerja di rumah tetangga.” Padahal setahu saya, anak dari mbak saya itu baru berumur 12 atau 13 tahun. Saya tanya, “lho mbak anaknya ga sekolah?” Hal tersebut ditanggapi mbak saya. “Yah gimana mau sekolah, duitnya ga ada.”

Saya memang tidak pandai merangkai kata atau memotivasi orang untuk lebih peduli dengan masyarakat miskin lainnya. Tapi kenyataan ini memang di depan mata dan bukanlah sesuatu yang saya karang-karang sendiri. Marilah kita berpikir, apa yang bisa kita, sebagai generasi muda bangsa Indonesia, bisa lakukan untuk mengurangi kemiskinan di negeri ini? Mungkin kita tidak dapat melakukan perubahan besar dan signifikan, namun ini semua bisa dimulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri. Banyak kok yang bisa kita lakukan untuk masyarakat miskin. Ikut bakti sosial, menyumbang ke panti asuhan, mengajari anak-anak yatim piatu, adalah sebagian hal kecil yang bisa kita lakukan. Bayangkan kalau teman-teman kita termotivasi untuk melakukan hal yang sama, maka akan terjadi perubahan yang besar.

Satu hal yang ingin saya tekankan. Janganlah terus mengeluh dengan keadaan kita karena apa yang kita miliki merupakan karunia yang sangat besar dari Tuhan. Masih banyak jutaan orang di dunia ini yang memiliki nasib tak lebih baik dari kita. Be thankful with what you have and do something good for the world.


Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!