Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan desain mata uang Rupiah terbaru (kertas dan logam). Pembaruan ini berlandaskan pada Kepres Presiden No. 31 Tahun 2016 tanggal 5 September 2016 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional Sebagai Gambar Utama Pada Bagian Depan Uang Rupiah Kertas dan Rupiah Logam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mata uang Rupiah dengan desain terbaru tersebut yakni pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5 ribu, Rp 2 ribu, dan Rp 1 ribu. Sedangkan untuk pecahan uang logamnya Rp 1.000, Rp 500, Rp 200 dan Rp 100.

“Kami bersyukur pengeluaran ini dapat berjalan lancar dan sesuai rencana. Terima kasih dan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang mendukung dan membantu,” jelas Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo.

Desain baru ini mendapat tanggapan beragam, mulai dari apresiasi desain yang terbilang segar sampai ada juga yang ‘nyinyir’, kalau uang Rupiah baru ini mirip mata uang negara tetangga. Belum lagi kabar-kabar miring lainnya yang tak perlu dibahas lebih jauh.

Padahal, dikatakan kata Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), menghina rupiah sama saja dengan menghina Indonesia. Rupiah tidak akan diganti dan tergantikan. Kamu setuju?

Nah, bicara soal desain, tidak bisa tidak, berbicara juga siapa orang di baliknya.

Mata uang Indonesia hampir beriringan sejalan dengan sejarah panjang negerinya. Melihat itu, berarti sudah ada banyak desainer mata uang Rupiah dari dulu hingga sekarang.

Dihimpun IndonesianYouth.org, terhitung paling tidak ada sepuluh desainer yang pernah membuat desain mata uang Rupiah.

Nama pertama jatuh pada Junalies atau Yunalies dalam ejaan baru. Junalies memulai kiprahnya saat usia muda, 21 tahun. Ketika itu dia bekerja di Percetakan Kebayoran (Pertjetakan Kebajoran) yang juga menjadi cikal bakal Peruri (perusahaan pecetakan uang negara).

Dia mengerjakan beberapa desain mata uang Rupiah seperti Rp 1 dan Rp 2.5. Namun, maha karya paling terkenal hingga saat ini yaitu pecahan Rp 10 ribu Barong dan relief Borobudur di tahun 1975. Bahkan, desain itu disebut-sebut yang terbaik di Asia.

Kemudian ada juga Sadjiroen, yang sempat bekerja bersama Junalies, dengan desain pecahan Rp 5 hingga Rp 10 ribu. Lalu ada Risman Supianto, Heru Soeroso, AL. Roring, Sudirno, Soeripto Gan, dan Mujirun. Nama Mujirun merupakan desainer terakhir, setidaknya sampai tahun 2009 yang didapat informasinya sampai tulisan ini ditayangkan.

Mujirun sendiri pertama kali mendesain pecahan Rp 50 ribu dengan wajah mantan Presiden Soeharto. Sedangkan desain terkahir pria kelahiran 26 November 1958 itu pecahan Rp 50 ribu dengan gambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai di tahun 2009 dengan lama pengerjaan 3-4 bulan.

Namun, karya Mujirun sempat melejit melalui desain pecahan Rp 20 ribu dengan gambar pahlawan Ki Hajar Dewantara. Ketika itu, situs moneychoice.org pada arsip tulisan 1 Maret 2013 menobatkan desain Mujirun sebagai salah satu uang terunik sejagat.

Sang penulis artikel, Yvonne McArthur, merasa pecahan Rp 20 ribu sangat berbeda dengan mata uang negara lain dan cenderung tidak lazim.

“Pecahan ini menampilkan kombinasi warna dan sosok yang menarik, dengan wajah mantan menteri pendidikan itu sorot matanya penuh misteri,” tulis Yvonne McArthur seperti dikutip dari merdeka.com.

Desainer mata uang Rupiah juga pernah diisi oleh orang luar. Di antaranya C.A Mechelse mendesain bagian belakang pecahan Rp 5 tahun 1952 dan F. Massino-Bessi untuk bagian depannya. Sedangkan S.L Hertz asal Belanda yang mencetak pecahan Rp 10 di tahun yang sama.

Sederet desainer lokal dan luar sudah pernah menjadi bagian sejarah mata uang itu sendiri. Berbagai rancangan dan desain juga sudah didapuk secara nasional. Kini, saatnya giliran kamu Anak Muda Indonesia menjadi penerus nama-nama di atas.

sumber: uanglama.com, asidharta.blogspot.co.id, merdeka.com