“Pada titik ini, suara kita sangat diperlukan. Seperti yang pernah dibilang Toni Morrison, ‘Inilah waktunya para seniman bekerja. Tiada waktu bersedih, tiada tempat untuk mengasihani diri sendiri, kesunyian tidak diperlukan dan tiada ruang untuk ketakutan. Kita bekerja dengan bahasa. Inilah cara peradaban pulih.’ Malam ini, kita merayakan bahasa paling universal: musik. Seraya menghormati suara-suara masa lalu dan masa kini, kita berikat kesempatan untuk suara-suara baru.”

Kutipan di atas diambil dari pidato Jennifer Lopez sebelum mengumumkan pemenang kategori Best New Artist. Pidato ini menyajikan pesan untuk membuat perubahan, kemudian bertransisi untuk mengapresiasi seniman-seniman yang akan dia umumkan.

Sebagai acara penghargaan musik berskala global, Grammy Awards dipakai sebagai panggung untuk menyuarakan berbagai hal dari syukur, kemarahan, pernyataan politik hingga lelucon-lelucon menggelitik. Begitulah yang terjadi di Grammy Award ke-59 Minggu malam lalu waktu Amerika Serikat.

Grammy Awards kali ini dibuka oleh pembawa acara James Corden yang terkenal karena acara Carpool Karaoke dengan tingkahnya yang jenaka dan menyanyi rap. Dalam lagunya, ia bertanya pada para penonton, pernahkah di masa anak-anak mereka berpikir bahwa mereka akan berada di Grammy Awards. Tema ini mirip dengan penampilan pembukanya saat menjadi pembawa acara di Tony Awards, di mana ia menyemangati anak-anak untuk mengejar karier di dunia teater.

Momen jenaka dan mengharukan selanjutnya datang dari Twenty One Pilots yang memenangkan kategori Pop Duo/Group Performance. Setelah nama mereka diumumkan, mereka lekas melepaskan celana di lorong antara kursi-kursi penonton dan berjalan naik panggung.

Tyler Joseph, vokalis Twenty One Pilots kemudian menceritakan bahwa saat menonton Grammy beberapa tahun lalu, Josh Dun, sang drummer, mengatakan suatu hari jika mereka memenangkan Grammy, mereka akan menerimanya dengan keadaan yang sama saat mereka menonton waktu itu: hanya dengan pakaian dalam. Saat itu, Twenty One Pilots bahkan belum menghasilkan uang sama sekali.

“Saya ingin semua penonton di rumah tahu bahwa kamu bisa jadi yang selanjutnya. Karena siapapun, dari manapun, bisa melakukan apapun,” Tyler menutup pidatonya.

Satir pun tak ketinggalan. Sebagai skenario selingan, James Corden menyebut Grammy’s kali ini sepenuhnya interaktif dan semua orang bisa men-tweet #grammys dan tweet-tweet mereka akan ditayangkan. Semua tweet yang muncul berisi komentar negatif tentangnya. Ia kemudian menyebut tweet-tweet tersebut “fake tweets“: sebuah komentar tentang Donald Trump yang menyebut berita-berita negatif tentangnya “fake news.”

Pernyataan-pernyataan politis lain juga muncul di Grammy’s kali ini. Busta Rhymes dengan tegas memprotes Donald Trump dalam penampilannya dengan A Tribe Called Quest. “Saya ingin berterima kasih pada President Agent Orange karena kau telah melanggengkan semua kejahatan yang selama ini kau langgengkan. Saya ingin berterima kasih pada President Agent Orange atas percobaan larangan masuk bagi para muslim yang tidak berhasil,” serunya.

Selain Jennifer Lopez, Presiden Recording Academy, Neil Portnow, juga menyerukan musik sebagai hal yang mempersatukan. “Kita selalu diingatkan tentang hal-hal yang memisahkan kita, …, namun, kita harus mengingat apa saja yang menyatukan kita –sejarah, nilai-nilai dan dedikasi kita untuk membangun persatuan yang sempurna,” ujarnya. Kemudian, ia menuntut pembaruan dalam hukum terkait musik dan melindungi pendidikan musik agar pemersatu masyarakat ini tetap lestari.

Beyonce, dalam pidato penerimaan piala Grammy dalam kategori Best Urban Contemporary Album, menyebut bahwa album karya dan filmnya, Lemonade, dibuat untuk menyuarakan rasa sakit, perjuangan, kegelapan, dan sejarah kaumnya. Ia menyebut pentingnya menunjukkan pada semua anak bahwa mereka cerdas dan mampu. Ia juga menyerukan perlunya belajar dari masa lalu dan memahami bahwa manusia memiliki kecenderungan mengulangi kesalahan.

Tujuan pembuatan Lemonade diamini oleh Adele saat menerima penghargaan Album Of The Year. Selain menceritakan bahwa menjadi seorang ibu masih menjadi hal yang sulit baginya, ia menyebut bahwa dirinya sesungguhnya tidak pantas menerima penghargaan ini. Menurutnya, Lemonade oleh Beyonce lebih layak meraih Album Of The Year. Ia menyebut Lemonade sebagai album yang monumental, indah dan memberdayakan.

“Caramu mengubah perasaan saya, teman-teman saya, caramu mengubah perasaan teman-teman kulit hitam saya, itu memberdayakan. Kamu membuat mereka berdiri untuk diri mereka sendiri,” ujar Adele.

Di tempat di mana para musisi dari berbagai latar belakang berkumpul seperti Grammy Awards tentu adalah platform untuk bersuara –atau bahkan tidak bersuara, seperti Kanye West yang menolak datang ke Grammy’s karena Frank Ocean tidak menjadi kandidat di kategori apapun. Karena se-kontroversial apapun Grammy Awards, ia tetap adalah acara yang masif dan berpotensi mempengaruhi masyarakat.