Untuk sebuah pertanyaan: “Apakah yang dapat menyatukan kita?” dalam penggalan lirik lagunya, Project Pop menjawab dengan sebuah klaim, “Salah satunya dengan musik. Dangdut is the music of my country!” Selanjutnya alunan musik dimeriahkan dengan suling bambu, gendang dari kulit lembu, tak lupa pinggul yang ikut bergoyang, rasanya ingin terus berdendang.

Di samping nikmat lantunan musiknya, dangdut juga memiliki kekuatan pada lirik, juga isunya: sosial, agama, pesan moral, hingga yang melibatkan urusan perasaan, bahkan sampai kasus perselingkuhan. Semua dapat diselipkan dalam lirik lagu dangdut.

Bagaimana tak terngiang di kepala ketika Meggy Z mendakwa bahwa sakit gigi masih lebih baik ketimbang sakit hati? Bahkan repetisi kata “work” pada lagu Rihanna-meskipun itu bukan lagu dangdut-belum bisa menandingi kata “teganya” pada lagu Meggy Z dalam satu tarikan napas.

Dalam lagu yang dilantunkan Elvy Sukaesih, yang pernah didaulat sebagai Ratu Dangdut, pun menyampaikan bahwa ada satu tanda yang dapat dijadikan sebagai pengganti komunikasi. Ada unsur semiotika yang ditempatkan pada sekuntum mawar merah. Tak perlu penjelasan, cukup si mawar tadi yang akan bercerita. Mereka sama-sama telah sepakat atas apa yang ditandai dengan kembang itu.

Kiprah dangdut juga tak terlepas dari nama besar sang raja, Rhoma Irama. Rhoma berhasil membawa dangdut menjadi musik yang sarat makna dalam liriknya. Dangdut dijadikan olehnya untuk menyampaikan nada dalam dakwah atau sebaliknya. Bang Haji, sapaan akrab sang Raja Dangdut, mampu menjangkau apa yang tak tersentuh sebelumnya oleh dangdut. Melahirkan banyak karya dengan gitar buntung.

Seorang peneliti dangdut sekaligus guru besar musik di Pittsburgh University, Philadelphia, Amerika Serikat, Prof. Andrew Weintraub, dalam bukunya berjudul “Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia” mengatakan bahwa musik selalu berproses, mengikuti lingkungan dan keadaan sosial yang berubah. Ide-ide pun harus berubah.

Seperti pada genre lainnya, dangdut pun mengalami perubahan. Entah karena keadaan sosial yang berubah atau ide yang berkembang. Koplo muncul ke permukaan. Sediakanlah sepersekian detik untuk menikmati hentakan bu ka si tik jos!.

Koplo memaksa kita untuk memisahkan diri dari ruang dan waktu, membiarkan bumi berhenti berputar sejenak, demi dung tak dung dung ces! Dalam hal ini, lirik mulai dikesampingkan.

kredit: ppcorn.com

Semakin dikesampingkan ketika pengaruh electronic dance music (EDM) kian populer. Dangdut pun tak mau ketinggalan untuk ikut ambil bagian. Tak jadi soal jika suara khas cengkok suara sengau mulai luntur. Suling tak lagi jadi unsur penting, memukul gendang kulit lembu pun semakin tabu.

Kekuatan lirik dangdut kini ditentukan oleh netizen, yang mulai memegang kendali penuh atas dunia maya. Jika masih teringat fenomena meme “Di situ kadang saya merasa sedih”, lagu dangdut hadir dengan judul serupa. Ketika riuh memburu Pokemon, dangdut tak ingin absen berkarya tentang Pokemon. Apalagi “Om Telolet Om” yang mendunia, agak mustahil jika dangdut tidak ikut berkecimpung. Entah apalagi yang akan terjadi nanti dan ramai diperbincangkan, hampir dipastikan lagu dangdut baru pun akan hadir beberapa hari kemudian.

Tidak ada yang mengharuskan, tapi alangkah nikmatnya jika dangdut dapat kembali ke era jayanya. Bukan hanya dangdut yang mengandalkan fenomena kontemporer, bukan pula dangdut yang hanya menjual kemolekan biduan. Bukankah akan lebih nikmat bila dangdut kembali pada jalur musik yang asyik, serta lirik yang mencekik.

Kompetisi dangdut di televisi pun rasanya tak memiliki efek yang signifikan terhadap perkembangan dangdut kini. Menaruh harapan pada sang raja untuk mengembalikan dangdut pada kejayaannya bukanlah solusi yang paling tepat saat ini.

Alih-alih menelurkan karya baru, sang raja dangdut pun kian sibuk menjadi ‘idaman’. Rupanya dangdut tak cukup memberikan kepuasan meski sudah ditasbihkan sebagai raja. Masih ada yang mesti dikejar: menjadi ‘idaman’, meski tak semuanya mendambakan.

Berharap pada generasi milenial pun agak muskil. Silakan tanyakan pada kawan-kawan di sekitar Anda, genre musik apa yang paling disukai? Berapa persen yang langsung menjawab dangdut??

Boro-boro generasi milenial mendekat pada dangdut, untuk meliriknya saja sudah enggan. Padahal untuk menikmatinya sangat murah. Amat jarang untuk menonton pertunjukan dangdut mesti beli harga tiket masuk. Apalagi di sudut-sudut daerah minor (bila tak terjangkau, silakan cari di YouTube) yang tadinya pertunjukan dangdut murah, bisa berubah menjadi murahan. Kualitas vokal ya urusan nanti, yang penting terlihat seksi dan dekat dengan pornografi selama tak dikecam ormas.

Jika keadaan dangdut sudah seperti ini, harus bagaimana? Duh, ya sudah, apa boleh bikin. Dangdut juga bagian dari musik. Mestinya dapat dinikmati biar hidup makin asyik, bukannya malah jadi tambah pelik.