Sumber daya alam non-renewable (tidak bisa diperbarui) kini sudah sangat terbatas, termasuk bahan bakar fosil yang baisanya digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Di sisi lain, sudah banyak inovasi mengenai pemberdayaan energi di sekitar kita dan justru merupakan sumber energi bersih. Pertanyaannya, apa kita sebagai anak muda dapat lakukan untuk mengatasi permasalahan pemberdayaan energi ini? Apakah Indonesia sudah mampu menggunakan inovasi dari energi bersih?

Pemberdayaan energi menjadi suatu hal yang menarik untuk dibahas, rupanya hal ini sudah diterapkan di skala rumahan. Misal, pembangkit listrik tenaga pikohidro dan mikrohidro yang memanfaatkan air sebagai media penggerak, turbin dan dinamo motor. Pembangkit listrik ini rupanya sudah dijual ke Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Selain itu, ada pemberdayaan energi dengan solar panel yang memanfaatkan panas matahari untuk memenuhi kebutuhan listrik di skala rumahan.

Di Bandung, misalnya, banyak rumah–rumah menggunakan solar panel untuk keperluan water heater. Bahkan, pemerintah Indonesia sudah menerapkan penggunaan solar panel melalui program IDT (Inpres Desa Tertinggal).

Kemudian ada penggunaan kincir angin untuk menghasilkan energi listrik. Namun, penggunaan kincir angin tidak bisa diterapkan di semua daerah. Hanya daerah yang cocok untuk menggunakan kincir angin, biasanya daerah selatan Indonesia.

Jika kita lihat dari alternatif lainnya, ada pemanfaatan hayati berupa sisa tebu yang dapat menghasilkan methanol. Ada pula pemanfaatan kotoran manusia dan hewan ternak yang dapat dijadikan biogas (gas untuk memasak) dengan menggunakan tangki biotank untuk satu perumahan secara terkonsentrasi, bisa pula menggunakan teknologi plastik gembung.

Begitu juga dengan pemanfaatan panas bumi. Indonesia ternyata adalah salah satu negara yang memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, sebesar 29 Giga Watt dan baru dimanfaatkan sebesar 1,2 Giga Watt. Panas bumi ini merupakan jenis energi terbarukan dengan emisi rendah dan ramah lingkungan. WWF Indonesia sudah melakukan hal itu melalui program Geothermal Ring of Fire.

Nah, setelah mendengar inovasi alternatif pengganti SDA non-renewable di atas, jangan berpikir bahwa kita masih muda dan belum bisa berkontribusi. Nyatanya, hal–hal di atas sudah dilakukan di skala rumahan, dan bahkan ada yang membuat solar panel sendiri di rumahnya untuk kebutuhan water heater. Atau, lakukan hal mudah yang bisa diterapkan, sesimple mengefisiensikan energi. Gimana sih caranya? Dengan menggunakan energi secara bijaksana dan mengurangi kebocoran energi yang tidak perlu. Contohnya dengan mematikan lampu ketika tidak digunakan, mematikan alat elektronik (AC dan televisi) saat sudah tidak digunakan, dan lainnya.

Ringkasan di atas merupakan hasil dikusi antara Sinergi Muda melalui program Cluster Lingkungan bersama WWF Indonesia, di Kantor Sinergi Muda, Kemang, Jakarta, Rabu (18/03/2017).