Pada poin ketiga Sumpah Pemuda, diketahui bahwa “Kami putra dan putri Indonesia menujunjung tinggi Bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Kendati kalimat tersebut disebutkan sebagai sumpah, masih saja penggunaan bahasa nasional kita seolah tergantikan oleh bahasa asing yang lebih populer.

Pada kesempatan ini, Komunitas Faktabahasa (Faba) se-Jabodetabek pun memberikan pandangan mereka terkait penggunaan bahasa Indonesia dalam sesi diskusi Eksistensi Bahasa indonesia di Tengah Terpaan Media Sosial di Kantor Sinergi Muda (SM), Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (11/3/2017). Acara ini pun diselenggarakan oleh yang diadakan oleh Cluster Budaya dan Bahasa SM.

Ketua Region Faba Jakarta Selatan, M. Jeihan Farensyah mengungkapkan, bahasa Indonesia tergolong bahasa baru sehingga masih banyak orang yang lebih suka menggunakan bahasa daerah. Di sisi lain, bahasa Indonesia yang baku lebih sulit dipahami. Maka, tidak heran apabila masyarakat lebih suka menggunakan bahasa Inggris atau bahasa daerahnya sendiri. Alasannya, bahasa tersebut memang lebih mudah dipahami.

“Bahasa Indonesia masih asing bagi masyarakat Indonesia sendiri karena media pembelajarannya kurang dan banyak sekolah yang menomorsatukan bahasa internasional, tambahnya lagi ketika ditemui di Sinergi Muda Head Office, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (11/3/2017).

Jeihan merasa, Jeihan pun merasa apabila bahasa internasional bisa menjadi ancaman bagi bahasa nasional kita. Apalagi, tidak sedikit orang yang memandang bahwa apabila mereka bisa berbicara dalam bahasa internasional, hal tersebut bisa menunjukan status sosial mereka.

“Semakin orang lancar atau fasih dalam berbahasa asing, seharusnya semakin lancar atau fasih juga orang tersebut dalam berbahasa Indonesia,” imbuhnya.

Tak heran, setelah mempelajari tiga bahasa asing, Jeihan mengaku bahwa dirinya malah semakin suka untuk mempelajari bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Pandangan lain terkait bahasa Indonesia muncul dari Felicia Yulianti, anggota Faba Depok. Ia merasa kalau banyak bahasa Indonesia yang ribet atau jarang dipakai sehingga menggunakan bahasa Ingris menjadi lebih mudah dipahami.

“Bahasa Indonesia, khususnya mengenai kata-kata imbuhan adalah hal yang sulit untuk dipahami,” tukasnya.

Tak dimungkiri, banyak anak kecil yang sudah diajari bahasa Inggris sejak kecil. Tidak ada salahnya, memang. Hanya saja, hal tersebut membuat si anak akan lebih lancer berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia.

“Hal ini tentunya menimbulkan banyak kerugian,” tambahnya lagi.

Banyak bahasa Indonesia yang terlalu baku dan sulit dipahami membuat banyak anak muda lebih suka membaca buku/artikel dalam bahasa Inggris.

Novia Lathifah dari Faba Jakarta Selatan pun sependapat apabila bahasa Indonesia memang agak sulit dipahami. Ditambah lagi, Jakarta sebagai ibukota Indonesia dijadikan kiblat peradaban yang bisa memberikan contoh kurang baik bagi orang-orang daerah.

Kendati demikian, penggunaan bahasa asing sebenarnya juga dibutuhkan, sebab kita juga harus bersikap terbuka dalam menerima informasi dari dunia luar. Adapun bahasa internasional ini dijadikan sebagai nilai plus seseorang. Salah satunya, ketika sedang melamar kerja.

“Kemampuan untuk berbicara dalam bahasa asing (selain bahasa Inggris) merupakan nilai plus tersendiri, mungkin itu alasan mengapa menguasai bahasa asing dianggap keren,” tambah Novia.

Bahasa asing, menurut Luthfi Arief dari Faba Depok, juga bisa dijadikan sebagai alat untuk mengahrgai satu sama lain.

“Orang asing menghargai saat kita bisa berbicara dalam bahasa negara mereka. Ada kebanggan tersendiri saat menggunakan bahasa asing baik di media sosial atau secara langsung, tapi tergantung dari pesan yang akan disampaikan,” ujarnya.