Sinergi Muda (SM) memulai kegiatan Program Cluster pertamanya melalui diskusi dengan tema Pendidikan bersama perwakilan Indonesia Mengajar dan Swanayaka di Kantor Sinergi Muda, Jakarta, (28/01/2017).

Dalam kegiatan diskusi tersebut, pengurus SM mencari akar permasalahan pendidikan di Indonesia yang kerap kali masih menjadi permasalahan. Padahal, pendidikan merupakan elemen penting majunya sebuah bangsa.

Perwakilan Indonesia Mengajar, Afrizal, mengatakan kalau pendidikan di Indonesia saat ini terlalu fokus kepada anak, sedangkan orangtua menjadi faktor penting.

“Kita terlalu fokus ke anak, padahal orangtua kuncinya. Pendidikan juga harus dituju ke orangtuanya,” kata Afrizal.

Pendapat pria 23 tahun itu bukan tanpa alasan. Bergabung di Indonesia Mengajar dan pernah berkontribusi mengajar ke Papua selama satu tahun, Afrizal mengakui orangtua di sana tidak menempatkan pendidikan sebagai hal penting.

Pengalamannya selama mengajar di Papua juga membuat Afrizal berkeyakinan bahwa sebenarnya tidak ada seorang anak pun yang bodoh. Yang ada, hanya anak tersebut lebih menyukai bidang tertentu.

“Saya enggak percaya ada anak bodoh. Enggak ada di dunia anak yang bodoh. Apa kalau bisa main bola itu bodoh? Apa anak band itu anak bodoh? Karena anggapan kita sekarang itu anak kuliah pinter. Enggak begitu,” jelas Afrizal.

Cerita berbeda disampaikan Fikri, perwakilan Swanayaka. Lama mengenyam pendidikan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta, dia merasakan ada yang salah dengan sekolah itu.

“Menurut saya, sekolah ada yang salah dengan pendidikan STM. Doktrin mereka setelah lulus dari situ, mereka bisa kerja. Padahal belumm tentu,” sebut Fikri.

Pria yang menjadi Ketua Swayanaka sejak 2013 itu juga menilai guru-guru di sekolah SMK hanya sekadar menjalani kewajiban saja.

“Dari sisi guru, mereka hanya sekadar kewajiban saja. Enggak ada dorongan, enggak ada motivasi dll,” ungkapnya.

Selepas lulus dan di akhir bangku kuliah, diceritakan Fikri, dirinya pernah mengajar di salah satu sekolah STM. Menurutnya, kesejahteraan guru juga saat ini menjadi hal perlu diperhatikan.

“Saya mengajar full Senin sampai Jumat, terus terang gaji saya di bawah Rp 1 juta. Padahal di Jakarta,” sebut Fikri.

Senada dengan Afrizal, Fikri juga memiliki pendapat sama yakni kunci pendidikan di Indonesia, khususnya di Jakarta, terletak di peran orangtua.

“Ada di orangtua. Lingkungan di orangtua memang tidak mendukung. Dalam artian tidak begitu mendukung pendidikan. Jadi itu terus-menerus ke anaknya. Padahal negara itu bisa maju kalau pendidikan di nomor satukan,” terangnya.

Cluster sendiri merupakan program Sinergi Muda untuk terus mengakomodir kebutuhan Anak Muda Indonesia yang sesuai minat dan ketertarikan mereka, yang terdiri dari sembilan kelompok isu yakni Pendidikan, Post Graduate, Minat dan Bakat, Bahasa dan Budaya, Information Communication and Technology (ICT), Kesehatan dan Kesejahteraan, Media, dan Lingkungan.