Sinergi Muda melalui program Cluster-nya kembali mengadakan kegiatan diskusi dengan tema kesehatan mental di kantor Sinergi Muda, Jakarta, Minggu (05/02/2017). Tema tersebut muncul mengingat kesehatan mental, khususnya di Indonesia, masih terbilang sedikit –kalau tidak bisa dikatakan sangat sedikit– yang peduli pada pengidapnya.

Pada diskusi tersebut Sinergi Muda mengundang beberapa narasumber seperti Benny dari Organisasi Into The Light, Syilla dan Adis dari Mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia, Ivan dan Alika dari Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, dan Dimas dari Mahasiswa Atma jaya.

Dalam paparannya, keenam narasumber percaya bahwa orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Indonesia masih memperihatinkan lantaran masih rendahnya dukungan sosial dan tingginya stigma kurang baik masyarakat terhadap pengidapnya.

Ini sesuai dengan poin pertama tentang (empat) Seruan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tahun 2014 yang berbunyi, “Tidak melakukan stigmatisasi dan diskriminasi kepada siapapun juga dalam pelayanan kesehatan.”

Namun, untuk di poin kedua yang berbunyi, “Tidak melakukan penolakan atau menunjukkan keengganan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada ODGJ”, masih agak rancu. Sebab, menurut Benny, BPJS tidak mengatur itu.

“BPJS tidak mengcover teman-teman yang self harm, dan obat-obatnya juga sangt terbatas. (Pernah) mengadvokasi BPJS untuk mencoba cover self harm tapi gatau hasilnya gimana, di-approve atau enggak,” katanya.

Sedangkan, untuk di poin ketiga yang bunyinya, “Senantiasa memberikan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan, baik akses pemeriksaan, pengobatan, rehabilitasi maupun reintegrasi ke masyarakat pasca perawatan di rumah sakit jiwa atau di panti sosial”, sedikit bertentangan dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007.

Riset tersebut menemukan bahwa penderita gangguan mental yang diberikan fasilitas pengobatan sangatlah sedikit. Menurut perhitungan utilisasi layanan kesehatan jiwa di tingka primer, sekunder, dan tersier kesenjangan pengobatan diperkirakan lebih dari 90 persen. Artinya, hanya di bawah 10 persen orang dan masalah kesehatan jiwa terlayani di fasilitas kesehatan.

Untuk (seruan) poin keempat, Kemenkes mengajak melakukan berbagai upaya prmotif dan preventif untuk mencegah terjadinya masalah kejiwaan, mencegah timbulnya dan/atau kambuhnya gangguan jiwa, meminimalisasi faktor risiko masalah kesehatan jiwa, serta mencegah timbulnya dampak psikososial.

Keenam narasumber sepakat bahwa tujuan semacam itu perlu dilakukan, hanya saja perlu dikemas dengan yang lebih segar. Seperti Benny, Dimas, dan Syilla, misalnya, yang mengatakan kalau kegiatan seminar saat ini sudah tidak “kena”. Sedangkan, tiga narasumber lainnya masih setuju dengan kegiatan seminar, dengan catatan narasumbernya harus yang lebih afektif dan memiliki pengalaman langsung.

Dapat disimpulkan bahwa, kondisi ODGJ saat ini masih jauh dari dukungan sosial dan juga pelayanan kesehatannya. Hal itu juga bisa dilihat dari hasil riset yang telah dipaparkan sebelumnya. Untuk menghapus itu semua, tentu, bukan hanya peran dari penyelenggara kesehatan, namun juga kita sebagai Anak Muda Indonesia yang ikut berperan sama besarnya dengan pemerintah.