Sebagai anak muda Indonesia produktif yang punya segudang ide, topik tentang kebebasan berekspresi pastinya bukan suatu yang asing lagi. Termasuk bagi anak-anak Cluster Kebebasan Berekspresi dari Sinergi Muda yang beberapa hari lalu mengundang Daffa Andika dan Ariel Nayaka dalam acara sharing session.

Daffa sendiri merupakan label manager di Kolibri Rekords yang membawahi tujuh band indie, sementara Ariel Nayaka atau yang lebih dikenal sebagai A. Nayaka pernah disebut sebagai salah satu dari 10 punggawa Rapper di Indonesia dari majalah Rolling Stones tahun 2016 kemarin.

Berteman kopi dan kentang goreng, moderator memulai diskusi dengan pertanyaan pembuka tentang batasan dalam berkarya. “Kalau gue sih selalu ngebedain apakah ini cuma buat fun aja atau emang bisnis,” kata Ariel Nayaka.

Dia juga bilang kalau bikin karya yang emang dia mau buat, tinggal gimana caranya mengatur strategi untuk memasarkan karya itu saja. Sementara dari perspektif Kolibri Rekords, yang dimulai tahun 2013 karena kurangnya medium untuk rilis lagu dari genre spesifik seperti band Bedchamber punya mereka, batasan itu sebanarnya tidak ada, tapi karena adanya market, brand, imej, dan konsep yang spesifik jadi band yang mereka asuh boleh bebas berkarya.

“Kalaupun mau rilis karya juga dipikirin dari segi potensi pasar dan balik lagi ke strategi pasar,” tambah Daffa.

Meski datang dari dua latar belakang berbeda, ternyata baik Ariel maupun Daffa sama-sama berupaya menyuguhkan karya untuk pasar musik Indonesia, bukan sebaliknya. “Sebenarnya enggak pernah berorientasi pada pasar sih, justru maunya mereka yang ikut Kolibri Rekords. Kalo diperhatiin, anak muda Indonesia itu, ketika sudah percaya sama lo pasti akan suka aja sama karya lo. Yang penting itu konsisten,” kata Daffa.

Sementara Ariel mengatakan, karena dia dulu besar di Amerika Serikat, dia jadi agak kesusahan kalau bikin lagu bahasa Indonesia. “Kalau gue mau survive di industri ini, gue harus bisa bawa pasar dengan selera gue. Karena kurangnya kemampuan gue berbahasa Indonesia tadi,” ungkapnya.

Waktu ditanya lebih dalam kenapa mereka mau memproduksi musik, Daffa bersama Kolibri Rekords ternyata punya visi panjang selain untuk bikin orang suka dengan musik yang mereka suka juga untuk jadi penanda zaman dan untuk regenerasi di dalam industri musik itu sendiri.

“Jadi ketika 20-30 tahun lagi mereka bisa lihat ke periode ini. Oh zaman itu ada Kolibri Rekords dengan indie pop-nya,” ujarnya.

Daffa juga bicara tentang bagaimana scene musik yang diisi sama orang yang sudah aktif dari tahun 90-an, yang melihat ini bukan untuk fun lagi tapi sudah jadi mata pencahariaan. Di sini perannya dia bersama Kolibri Rekords untuk berkecimpung langsung sebagai generasi baru supaya anak muda juga bisa ikutan. Daffa bersama Kolibri Rekords ingin menunjukkan kalau semua orang bisa bermusik, semua orang bisa produksi musik. Oleh karenanya, mereka selalu mencoba untuk bikin video musik yang kalau orang-orang lihat bisa menginspirasi mereka juga untuk berkarya.

“Gue enggak mau nurunin kualitas, tapi gimana caranya supaya bisa tetap kelihatan humble,” sebutnya.

Saat disinggung tentang tanggapan negatif dari pendengar, Ariel mengaku kalau dia enggak terlalu peduli karena, ia lebih fokus untuk mengembangkan diri sendiri. Daffa sendiri juga bilang kalau dari yang sudah dirasakan selama ini, komentar yang ada itu komentar basic yang biasa aja.

“‘Lagu dari Kolibri Rekords sama semua nih,’ kata orang-orang, padahal emang itu tujuannya, gitu loh,” katanya. “Kan jadi bingung nanggepinnya gimana,” tambahnya sambil ketawa.

Ariel mendefinisikan kebebasan berekspresi ketika kita sudah bisa nyaman dengan diri kita sendiri dan bisa berkarya tanpa menahan diri sendiri.

“You have to love yourself before you can express yourself,” kata Ariel yang mengaku bahwa cuma butuh 15 menit waktu bikin lagu 3 AM in Jakarta.

Lain lagi dengan Daffa yang berpendapat bahwa kebebasan berekspresi adalah kebutuhan. “Selama itu bikin lo nyaman ya kerjain aja. Semirip apapun karya yang satu dengan yang lain pasti tiap-tiapnya ada nada ciri khas sendiri dari yang kita bikin,” ujarnya.

Menurut Daffa juga, dari kebebasan berkespersi kita bisa membangun diri sendiri apalagi ketemu keluarga baru. “Sebelum lo ekspresikan, lo gak akan tau siapa yang ada di sisi lo,” katanya yang juga merupakan akhir dari diskusi sore itu.