Isu pengembangan diri merupakan salah satu isu yang sangat krusial di kalangan anak muda. Mengingat pengembangan diri adalah proses yang dilalui sepanjang hidup. Maka sedari awal, anak muda harus bisa mengenali dirinya sendiri, setelah itu mereka harus mampu mengasah baik itu soft skill maupun hardskill yang nantinya akan digunakan untuk merancang masa depan mereka. Dari itu, tahap pengenalan diri (self-discovery) sangatlah penting.’

Berdasarkan hal tersebut, salah satu program Sinergi Muda, Cluster Personal Development menggelar diskusi bersama youthmanual.com seputar isu pengenalan diri pada generasi millennials, di Kantor Sinergi Muda, Kemang, Jakarta Selatan.

youthmanual.com adalah platform pengenalan diri (self discovery) untuk membantu pelajar merancang masa depan. Pelajar bisa mengikuti banyak modul pengenalan diri seperti: minat, potensi, kepribadian, gaya belajar dan preferensi diri secara daring dan mesin algoritma youthmanual.com secara otomatis akan memberikan hasilnya beserta rekomendasi profesi, karier, jurusan dan kuliah yang sesuai. Hal tersebut memicu cluster Personal Development ini untuk melakukan sharing session dengan youthmanual.com dan bertujuan untuk membahas tentang pengembangan diri anak muda saat ini yang berfokus pada tahap mengenali diri sendiri.

Pada awal diskusi, Rizky Muhammad selaku founder dari youthmanual.com menjelaskan, website youthmanual.com merupakan platform pengenalan diri untuk membantu pelajar merancang masa depan. Pelajar bisa mengikuti banyak modul pengenalan diri seperti minat, potensi, kepribadian, gaya belajar.

“Preferensi diri secara online dan mesin algoritma youthmanual.com secara otomatis akan memberikan hasilnya beserta rekomendasi profesi, karier, jurusan dan kuliah yang sesuai,” katanya.

youthmanual.com membantu anak muda agar mereka tahu apa yang mereka ingin lakukan untuk sukses. Karena parameter sukses itu banyak dan berbeda-beda. Sukses bukan hanya kaya secara materiil, tapi bisa mengerjakan sesuatu sesuai dengan passion. Untuk itu, menurut Rizky, anak muda harus punya value, dan output dari youthmanual.com selanjutnya adalah scoring anak muda agar memiliki value.

Youthmanual.com mengurus 13 dimensi mulai dari kemampuan kognitif, kemampuan abad 21, literasi, kreativitas, komunikasi, teamwork, dan kemampuan lainnya yang dibutuhkan di dunia kerja,”

Berangkat dari data yang menunjukkan 74 juta anak Indonesia yang duduk di bangku SD dan SMP, 10 juta di bangku SMA, dan 5 juta di bangku kuliah, Rizky menyebutkan 80 persen anak muda salah mengambil jurusan di bangku kuliah.

Pandangan mengenai generasi millennials, Rizky Muhammad menjelaskan bahwa mindset mereka masih sebatas pendidikan formal dan karier. Juga evolusi media yang sudah terekspose dengan hal atau berita negatif.

“Generasi millennials saat ini benar-benar hidup di tengah ketakutan. Mereka stress memikirkan tentang masalah yang ada di depan nanti. Mulai dari pekerjaan hingga ke dampak global warming. Dan akhirnya mereka melampiaskannya ke passion point. Dampaknya adalah menjadi banyaknya organisasi dan juga movement yang berasal dari anak muda. Jadinya, generasi millennials sangat ambisius dan akan melakukan segalanya untuk sukses, mereka ingin selalu bisa menghasilkan sesuatu yang positif dengan background ketakutan mereka di masa mendatang tersebut,” sebutnya.

Anak muda saat ini pun sangat berorientasi kepada reward, sayangnya pengalaman mereka masih minim. Dan fakta menarik yang ditemukan oleh Rizky, anak muda yang lebih ambisi dan sukses adalah perempuan. Mereka cenderung lebih high performing dan sangat mudah menjadi influencer yang terpercaya dan berpengaruh.

Generasi millennials memang terbanjiri oleh arus informasi dan itu yang membuat mereka menjadi lack of authenticity. Maka itu diperlukannya informasi literasi dan juga kemampuan abad 21. Tanpa itu, generasi millennials bisa overwhelmed atau tidak karuan. Diharapkan, dengan kemampuan abad 21 tersebut, anak muda bisa setidaknya menganalisa dan bersikap skeptis.

Selain itu Rizky Muhammad juga berpendapat bahwa anak muda saat ini memiliki passion ingin maju, tetapi jatuhnya mereka menetas secara mentah. Mereka peduli untuk perubahan dan juga passionate terhadap hal-hal tertentu yang mereka sukai.

“Mereka hanya ingin mencoba dan bukan karena ingin mendalami. Generasi millennials ini adalah instant gratifikasi. Mereka melihat sesuatu dengan cepat dan langsung ingin menerapkannya ke dalam kehidupan mereka. Mereka tidak memiliki role model atau panutan. Mereka lebih senang mengidolakan Youtuber atau selebgram. Konteksnya sudah berbeda, mereka mengagumi seseorang bukan dari prosesnya,” tuturnya.

Akhirnya, banyak anak muda yang ketakutan hingga ingin melarikan diri dari beberapa fase kehidupannya karena tidak memiliki guidance dan lack of skills. Mereka bahkan belum mengenali siapa diri mereka sendiri. Maka itu sangat penting tahap pengenalan diri. Passion harus dicari karena itu berupa proses. Anak muda sudah seharusnya mencoba sesuatu yang baru. Anak muda harus berbicara dengan orang-orang baru.

Selain itu diperlukan juga networking, juga pemikiran baru dan harus mengeksplorasi diri sejak awal dan diharapkan pemikiran anak muda bisa lebih kaya akan diversity.