Pramoedya Ananta Toer dituduh anggota PKI (Partai Komunis Indonesia), partai yang disebut mendalangi pembunuhan para jenderal TNI Angkatan Darat. Dirinya dipenjara bertahun-tahun di masa Orde Baru (Orba). Tulisannya diberangus, hidupnya penuh teror, karakternya dibunuh, dirinya menjadi tahanan politik (tapol) tanpa pernah diadili. Pramoedya marah besar terhadap penguasa.

Pram, begitu dia akrab disapa, bahkan secara terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap penguasa ketika itu, Suharto. Pram tak ragu menyebut mantan Presiden Indonesia itu sebagai penjahat kemanusiaan.

“Berdasarkan pengalaman saya sendiri, Suharto adalah penjahat kemanusiaan,” katanya seperti dikutip Jawa Pos.

“Yang mengangkat saya menjadi PKI itu kan Orba, yang kemudian dikembangkan oleh pers Orba. Saya ini PKI nomor berapa? Hanya Orba saja yang bikin-bikin itu, yang lalu dikembangkan pers Orba. Kan komunis semua mempunyai tanda keanggotaan. Tidak ada yang pernah bisa menjawab,” ungkapnya.

Bertahun-tahun menjadi tapol, tidak membuat Pram berhenti berkarya. Tulisan-tulisannya terus saja ia ukir. Di dalam jeruji besi, bahkan, tulisan pria asal Blora, Jawa Tengah, ini semakin menjadi-jadi. Tetralogi Buru, yang paling dikenal hingga mancanegara, ia tulis selama dalam penjara tanpa alat tulis.

Pada 1979, Pram bebas dan dinyatakan tidak bersalah. Namun, permintaan maaf dari penguasa Orde Baru tak pernah datang ke dirinya. Baru pada 1999, saat Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Presiden ke-4 Indonesia dan meminta maaf kepada korban dari Gerakan 30 S/PKI, termasuk kepada Pram serta menyatakan tidak keberatan membuka kembali kasus tersebut. Meski penulis Nyanyian Sunyi Seorang Bisu itu menganggap permintaan maaf Gus Dur hanya basa-basi.

“Gus Dur sendiri sowan kepada Suharto. Itu mengecewakan. Rekonsiliasi bagaimana yang diinginkan? Kok, sepertinya gampang amat,” kata Pram saat diwawancarai Forum Keadilan (26/04/2000). “Omong kosong saja rekonsiliasi. Lihat saja, pelarangan buku-buku saya. Memangnya negara bisa membuat naskah saya? Lantas, menaruh konsep rekonsiliasi dalam bentuk salaman begitu saja. Gampang amat!” katanya lagi.

Bung Pram, sapaan lainnya, enggan menerima permintaan maaf Gus Dur. Sastrawan Indonesia, Goenawan Mohamad (GM) mencoba membantu dengan cara merayu. Dalam tulisannya yang berjudul “Surat Terbuka untuk Pramoedya Ananta Toer”, GM mencoba menggambarkan bagaimana Nelson Mandela memaafkan rezim apartheid, rezim yang pernah memenjarakan Mandela puluhan tahun.

(Nelson) Mandela bertahun-tahun di penjara, orang hitam Afrika Selatan bertahun-tahun ditindas, tapi kemudian ketika ia menang, ia membuktikan bahwa abad ke-20 tak sepenuhnya benar: manusia ternyata bisa untuk tak jadi penakluk. Ia menawarkan rekonsiliasi dengan bekas musuh. Ia tak membalikkan posisi dari si objek jadi sang subjek,” tulis GM ketika itu.

Pram, penerima Ramon Magsaysay Award pada 1995 itu, membalas dengan cara sama, melalui surat terbuka, enam tahun setelah menerima surat terbuka dari GM. Pram menulis surat terbuka dengan judul “Saya Bukan Nelson Mandela”. Di awal tulisan, ia lantang dan tegas menjawab bahwa dirinya bukanlah seorang Nelson Mandela. Menurut Pram, GM keliru: Indonesia bukan Afrika Selatan.

Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika Selatan. Dia berharap saya menerima permintaan maaf yang diungkapkan Presiden Abdurrahman Wahid (Tempo, 9 April 2000), seperti Mandela memaafkan rezim kulit putih yang telah menindas bangsanya, bahkan memenjarakannya. Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia.

“Di Afrika Selatan penindasan dan diskriminasi dilakukan oleh kulit putih terhadap kulit hitam. Putih melawan hitam, seperti Belanda melawan Indonesia. Mudah. Apa yang terjadi di Indonesia tidak sesederhana itu: kulit cokelat menindas kulit cokelat. Lebih dari itu, saya menganggap permintaan maaf Gus Dur dan idenya tentang rekonsiliasi cuma basa-basi. Dan gampang amat meminta maaf setelah semua yang terjadi itu. Saya tidak memerlukan basa-basi.”

“… Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia,” tulisnya.

Pram yang lahir 1925 silam, kini sudah tiada. Ia meninggal April 2006 lalu lantaran sakit diabetes dan jantung. Hingga akhir hayatnya, Pram tak sekalipun menerima permintaan maaf dari penguasa Orba. Ia juga tidak pernah memaafkan sang penguasa.