Apa pendapat kalian ketika mendapati satu fakta berikut ini: seorang remaja mahir bermain piano dan bernyanyi, tetapi di bidang sains ia begitu tidak terlalu bagus. Anak itu pandai atau anak itu bodoh?

Manusia memiliki beberapa tipe kecerdasan yang disebut multiple intelligence, yaitu: word smart (kecerdasan berbahasa), picture smart (kecerdasan visual), music smart (kecerdesan bermusik),  logic smart (kecerdasan logika), people smart (kecerdasan bersosialisasi), nature smart (bakat alami), dan body smart (kecerdasan olahraga).

Pertanyaan di awal adalah seorang remaja yang pandai bermusik, namun minus di bidang nature smart. Jika hal ini diperhatikan lebih dalam lagi, sebenarnya yang dilihat hanyalah persoalan unggul di satu bidang namun minus di satu bidang lain. Sayangnya, yang menjadi masalah nomor satu di sistem pendidikan Indonesia saat ini adalah mereka memandang dari sudut pandang bodoh di satu bidang dan pintar di satu bidang.

Perbedaan antara bodoh dan minus di berbagai bidang itu berbeda. Konotasi kata ‘bodoh’ jelas saja negatif, karena bisa menitikberatkan pada satu bidang saja, namun kepintaran si individu di bidang lain itu bisa saja diabaikan. Namun kata ‘minus’ berkonotasi bahwa si individu masih punya ‘plus’ di bidang lain.

Yang kita lihat di sistem pendidikan Indonesia adalah satu: kita masih menekankan standar kecerdasan seseorang dari pelajaran yang ada di sekolah. Dan pelajaran apa di sekolah yang membuat seseorang dicap pintar? Sains? Jelas. Karena sains dipandang beberapa tingkat lebih tinggi dibanding intelegensia lainnya.

Bagaimana dengan pelajaran sosial? Mari kita lihat. Berapa persen dari total siswa SMA yang menganggap gengsi masuk kelas IPA lebih tinggi kastanya dibanding hanya menjadi murid IPS? Jika benar-benar diadakan survei, saya yakin jawabannya adalah banyak. Pelajaran sosial dianggap hanya seujung kuku dibanding rangkaian listrik, atau ikatan kimia, maupun logaritma.

Jadi, jika si anak ternyata mendapat angka-angka merah dalam IPA, namun hampir selalu bagus pada nilai IPS, bisa jadi si guru masih memandang sebelah mata anak tersebut. Apalagi jika ternyata kecerdasan anak itu sama sekali bukan di bidang sekolah. Karena kita tahu, masih banyak bidang lain. Contohnya ya fakta si remaja pandai bermusik tadi. Kita tidak tahu, kan, nasib dia di sekolah seperti apa.

Jujur saja, saya sendiri punya pengalaman kurang mengenakkan dengan stigma anak IPS itu bodoh. Dulu, saya menargetkan untuk masuk IPA dan mati-matian mengejar nilai. Padahal jauh di lubuk hati saya, saya punya passion begitu besar pada sastra, industri mode, dan sejarah dunia. Jauh dari tetek-bengek IPA. Tapi setelah saya memantapkan diri untuk gak hanya memikirkan gengsi di IPA, akhirnya saya banting setir dan mengubah mind set saya sebagai IPS, Ikatan Pelajar Sukses 😛

Awalnya banyak yang bertanya, “Serius mau masuk IPS?” Saat itu saya cuma cengar-cengir. Entah kenapa setiap saya menjawab begitu, sebagian besar dari mereka langsung keki, apalagi setelah menambahkan, “It’s my futurre, not yours.”

Inti dari tulisan ini hanya satu: setiap individu mempunyai kecerdasan, di berbagai bidang. Jadi siapa pun kalian, jika kalian merasa minus di pelajaran-pelajaran sekolah, itu bukan berarti kalian bodoh! Saya yakin Tuhan menciptakan kita dengan kecerdasan masing-masing. Jika kalian sudah tahu bakat kalian di bidang apa, bersyukurlah dan mulai menekuninya dengan sungguh-sungguh. Jika belum menemukannya, galilah, lewat cara apapun, jangan pernah merasa ‘mentok’, karena kecerdasan itu pasti ada.

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!