Dalam bukunya yang berjudul Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer di Indonesia, Agung Hujatnikajennong memaparkan bahwa adanya sinergi di antara kurator, seniman, dan galeri sebagai buah dari pameran, patron, pengamat, hingga pengunjung atau penikmat. Ia pun menjelaskan bagaimana galeri bisa bertahan di tengah arus ekonomi dan politik yang turun naik di pengujung tahun 90-an, ketika itu galeri seni rupa (masih) dikukuhkan sebagai sarana penyegaran bagi kaum elite di mana stigma ini akhirnya pudar seiring kemajuan teknologi dan expanded lifestyle yang terjadi di kota besar di Indonesia.

Kurator Indonesia, Hafiz Rancajale dalam acara Indonesian Contemporary Art & Design Desember lalu di Jakarta mengatakan, setelah lebih dari 15 tahun Indonesia reformasi aktivitas berkesenian baik untuk industri, pemberdayaan, seni urban, dan lainnya sudah berkembang jauh. Begitu pula dengan dinamika pengunjung karena seakan tak ada lagi hal ikrar yang membedakan antara seniman dan penggiat. Sehingga, adanya gejolak dari pengunjung yang ingin menaruh karya ke dalam ruang pamer dan gejolak itu membuahkan permintaan pada ruang-ruang alternatif yang muncul.

Tak ada gading yang tak retak. Maraknya ruang-ruang alternatif seni rupa untuk berkarya malah membuat jatuhnya esensi dari karya-karya itu sendiri. Ini merujuk kepada tata kelola seni yang diinisiasi tiap pemilik ruang dengan enggan menyinggung ekspresi yang dianggap subversif sehingga membentuk gerakan-gerakan yang mengacu pada elitis dan itu yang terjadi pada pertumbuhan ruang-ruang alternatif barus yang lebih prefernsif.

Pula bagi seniman yang seakan menemukan hal praktis dan dapat di-share ‘seakan menjadikan adu gengsi atau penyegaran diri– yang disalah artikan: menjadikan ruang pamer sebagai tempat pengeksperesi praktis yang lantas kurang disanjung baik apresiasi dan kritik, dengan kata lain galeri prematur.

Galeri prematur ini tumbuh menjadi tak mandiri “berkat” si pengusung yang melatarbelakangi bisnis dan kebutuhan gaya hidup. Dampaknya, banyak komponen ruang pamer yang prematur menyebabkan banyak tim kuratorial yang merampungkan pameran secara mentah.

Sebetulnya tidak ada masalah dengan siapapun yang ingin memamerkan karya. Dan sah-sah saja bagi mereka yang mau membuat wadah tersebut. Tapi disayangkan, banyaknya karya yang masih dirasa mentah dan kita para pengunjung harus memahami karya prematur.

Saya juga tidak menuntut bahwa seniman di era digital informasi ini harus menyelesaikan studi seni atau paling tidak berkuliah di jurusuan disiplin seni. Tapi adanya mungkin hal ini dipacu dengan adanya fenomena ekspansi urban yang menciptakan euforia dan gerakan.

Perkembangan tersebut bisa dirasakan seturut hadirnya fitur-fitur tambahan dari sosial media yang men-drive user-nya untuk berinteraksi dan menata hidup di sebuah utopia dunia maya, dan pergi ke tempat berkonsep seperti itu layaknya menambahkan kenangan yang dapat ditambahkan dalam menata kehidupan dunia maya.

Hal yang menjadi perhatian utama tak adanya kualifikasi kompeten pada praktik dalam bidang seni rupa. Baik seniman dan penyedia ruang tampaknya masih  prematur dan lebih menitikberatkan eskpresi sesaat yang sudah dirasuki refrensi-refrensi seniman besar yang mendahuluinya.