Sejak kecil Frank Abagnale, Jr. memiliki kehidupan berbeda dengan anak seusianya. Di usianya yang masih 16 tahun ia sudah mampu mencari uang sendiri dengan cara tak lazim, yakni dengan menjadi penipu, pemalsu, dan penyamar guna mengembalikan semua kerugian ayahnya –yang berbuntut pada perceraian dengan sang istri– sekaligus membuat orang tuanya kembali harmonis.

Hanya bermodalkan USD 25, Abagnale melarikan diri ke Manhattan. Di sana, kehidupan Abagnale dimulai. Dengan cara yang tidak biasa, ia sudah harus menjadi buronan FBI lantaran berhasil menipu hingga jutaan Dollar di usianya yang belum genap 19 tahun. Dan selama menjadi buronan, segala cara dilakukan Abagnale. Mulai dari jadi dokter anak, pilot, hingga pengacara. Pekerjaan terakhir dilakoni dengan modal gelar dari Universitas Harvard –yang dipalsukan sendiri.

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Selihai-lihainya Abagnale menipu, kepolisian meringkusnya juga. Tetapi, ia cukup beruntung, pria yang mengidolakan ayahnya ini direkrut FBI menjadi konsultan keamanan Amerika dalam urusan pemeriksa cek palsu berkat keahliannya.

Cerita di atas sebenarnya diambil dari kisah hidup seorang Frank Abagnale, Jr. yang sempat difilmkan dengan judul Catch Me if You Can dan dibintangi oleh Leondardo DiCaprio. Abagnale begitu mahir menipu, Abegnale begitu pandai menyamar, dan, bahkan, kebohongan menjadi semacam ‘survival instinct‘ seorang Abagnale.

Seperti Abagnale, di dalam keadaan tertentu sering kali, suka tidak suka, kita terpaksa “taat” dengan kebohongan yang memang harus diakui dilakukan dengan mudah: baik berbohong kecil atau besar; kepada orang asing, teman, maupun keluarga –meski kita tidak suka disebut pembohong.

Majalah National Geographic Indonesia berujdul Mengapa Kita Berbohong?, pernah mengulasnya yang pada dasarnya berbohong sama mendasarnya dengan kebutuhan memercayai orang lain, yang ironisnya membuat kita tidak pandai mendeteksi kebohongan itu sendiri. Ketidakjujuran adalah bagian dari diri kita, jadi tidak keliru jika dikatakan bahwa berbohong itu manusiawi.

Kebohongan, ketidakjujuran, dusta, atau lain sejenisnya, pertama kali didokumentasikan secara sistematis oleh Bella DePaulo, Psikolog Sosial University of California, Santa Barbara, Amerika Serikat, dua dasawarsa lalu. DePaulo dan rekan-rekannya meminta 147 orang dewasa mencatat selama seminggu, setiap kali mereka mencoba mengelabui orang lain. Para peneliti menemukan, bahwa para subjek berbohong rata-rata satu atau dua kali sehari. Dan sebagian besar ketidakjujuran itu tidak merugikan, diniatkan untuk menyembunyikan kekurangan diri atau menjaga perasaan orang lain.

Dusta lain yang terhitung kecil juga ada dengan tujuan memberikan citra palsu, seperti mengaku menjadi anak pejabat, misalnya. DePaulo dan rekan-rekannya –dengan sampel serupa– juga pernah menemukan dusta besar atau serius yang pernah dilakukan –satu kali atau lebih– sebagian besar dari para subjek. Contohnya, menyembunyikan perselingkuhan. Kalian pernah mengaku kalau selingkuh?

Kebohongan itu tidak aneh sama kali dan memang wajar, bila melihat eksperimen Psikolog University of Toronto, Amerika Serikat, Kang Lee, yang melihat kemunculan berbohong sudah ada sejak batita. Bagi semua orang tua tentu fakta tersebut sangat meresahkan. Tetapi menurut Lee itu adalah hasil melegakan, karena perkembangan kognitif anak batita berjalan sesuai jadwal.

Lee dan kawan-kawannya coba membuktikan dengan mengujinya melalui eksperimen sederhana. Mereka meminta anak-anak menebak identitas mainan yang tersembunyi, berdasarkan petunjuk suara. Untuk mainan pertama, petunjuknya jelas, –suara gonggongan untuk anjing, ngeong untuk kucing– dan anak-anak menjawab dengan mudah.

Tingkat selanjutnya, sedikit berbeda. Di mana suara yang diputar tidak berkaitan sama sekali mainannya. “Misalnya Beethoven, tetapi mainannya mobil,” Lee menjelaskan, seperti dikutip dari majalah National Geographic Indonesia berujdul Mengapa Kita Berbohong?.

Di sela waktu, Lee coba meninggalkan ruangan dan meminta kepada anak-anak untuk tidak mengintip ke dalam ruangan. Sekembalinya Lee ke ruangan, dirinya menanyakan jawabannya, yang dilanjutkan dengan pertanyaan, “Apa kamu mengintip?” kepada anak-anak.

Lucunya, –dilihat dari kamera tersembunyi– sebagian anak-anak tak tahan untuk mengintip. Persentase anak yang mengintip dan berbohong pun berbeda-beda, tergantung rentan umurnya. Untuk pengintip di umur dua tahun hanya 30 persen yang berbohong. Yang berumur tiga tahun 50 persen. Dan yang berumur delapan tahun, 80 persennya mengaku tidak mengintip.

Lee berkesimpulan, anak-anak semakin mahir berbohong seiring usia bertambah. Saat menebak mainan yang diintipnya diam-diam, anak berusia tiga dan empat tahun biasanya mencetuskan jawaban yang benar, tanpa menyadari bahwa jawaban ini mengungkapkan bahwa mereka sudah mengintip lebih dulu dan berbohong.

Pada umur tujuh dan delapan tahun, anak-anak belajar menutupi dusta dengan sengaja memberi jawaban salah, atau mencoba memberikan kesan jawaban itu hasil penalaran dirinya sendiri. Biar enggak ketahuan kalau mereka mengintip kali ya?

Sedangkan anak berumur lima dan enam tahun, berada di antara keduanya. Dalam satu kajian Lee menggunakan Barney si dinosaurus sebagai mainannya. Hasilnya cukup lucu juga: Seorang perempuan lima tahun yang menyangkal telah mengintip ke dalam ruangan tadi diminta untuk menebak mainan apa yang disembunyikan di bawah kain. Anak perempuan itu kemudian meminta izin kepada Lee untuk meraba sebelum menebaknya.

“Dia menyusupkan tangan di bawah kain, memejamkan mata, dan berkata, ‘Ah, aku tahu itu si Barney,'” cerita Lee. “Saya tanya, ‘Mengapa?’ Dia jawab, ‘Karena terasa ungu.'”

Seperti tadi, semakin bertambah umur maka semakin bertambah pula kemampuan seseorang berbohong. Itu lebih dikarenakan ada hal yang mendorong peningkatan kemampuan berbohong seperti perkembangan teori pikiran, yaitu kemampuan untuk memahami keyakinan, niat, dan pengetahuan orang lain. Dan untuk berbohong juga diperlukan untuk perencanaan, perhatian, dan kendali diri.

Anak dua tahun yang berbohong dalam eksperimen Lee pada akhirnya meraih nilai lebih tinggi dalam tes teori pikiran dan fungsi eksekutif daripada anak yang tidak berbohong. Sedangkan di umur 16 tahun pun, anak yang pandai berbohong mendapat nilai lebih tinggi daripada pembohong yang buruk.

“Saya harus kreatif untuk bertahan hidup. Saya terus menyesalinya seumur hidup,” kata Frank Abagnale, Jr.