Perkara kebebasan berekspresi bukanlah semata-mata terbebas dari belenggu untuk berkontes atas apa yang kita lakukan dan pikirkan. Tentunya hal ini menjadi problematis, dan menempatkan jati diri pada kerentanan di era “bebas” berekspresi.

Rasanya, perlu kita berkontemplasi terlebih dahulu, memahami siapakah diri kira, siapa kah yang kita hadapi, apa mau kita, atau di manakah kita berada. Hal ini tidaklah mudah, terkadang beberapa blunder membuat kita terjebak atas apa yang kita ungkapkan, bahkan lebih buruk –kita terpinggirkan sehingga sulit menggapai makna “kebebasan”.

Banyak gejala-gejala yang terjadi di sekitar kita dalam perkara kebebasan berekspresi. Seringkali kita diperlihatkan fenomena seberti cyber bullying, debat kusir warganet, atau sekadar mengimpun suara untuk menghadap sesuatu
yang penting atau tidak. Tentunya ini memberikan punish and reward atas apa yang kita ekspresikan dan membuat kita takut atau justru menghindar dalam arena berekspresi karena pemberian itu.

Karenanya, marilah kita merunut persoalan apa saja yang berkaitan dengan kebebasan berekspresi, terutama bagi anak muda.

Pertama, kebebasan berekspresi tidak dapat terlepas dari pergelutan identitas, dalam perkara ini individu mencari jati diri-nya dengan cara menilai atau membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Individu akan terus mencari titik yang tepat untuk merumuskan identitas dirinya dan terus bereproduksi.

Namun, ada perkara yang perlu dihadapi dalam rangka merumuskan identitas. Sebut saja bagaimana seseorang berupaya mendeklarasikan dirinya sebagai anak hipster, beraliran kiri, dan sebagainya, namun dirinya berada ditengah-tengah lingkungan yang salah, sehingga dia perlu untuk merumuskan kembali makna identitas dia agar sesuai dengan lingkungan, atau jika perlu, melakukan perlawanan di dalam lingkungannya tersebut. Dengan demikian, mau tidak mau, individu menegosiasikan jati dirinya di tengah-tengah lingkungan sekitarnya.

Misal, si A bilang “gue anak hipster nih yang dengerin Phoenix, kalo lo anak 40 billboard ya?”, dan lalu si B bilang, “sok iye, mang lo ngerti”, begitulah kira-kira banalitas yang kerap muncul di kala seseorang sedang “menekankan” jati dirinya.

Oleh karena itu, hal ini menunjukan bahwa identitas sesungguhnya tidaklah kaku, akan tetap cair, dan sebagai bentukan atas relasi kuasa yang terjadi disekiar individu.

Kesalahan fatal seseorang dalam perkara ini biasanya adalah terlalu cepat menjustifikasi atau melabel dirinya atas identitas tertentu, sehingga ketika menghadapi permasalahan demikian, dirinya akan mengalami rasa tidak percaya diri dan atau bahkan di bully.

Selain itu, di dalam persoalan aktivitas digital, terkadang kita selalu sulit, tertukar, atau tercampur aduk dalam menentukan dunia digital yang manakah sebagai ruang privat dan ruang publik.

Dalam media sosial, bolehlah kita berkontes ria soal selera musik dengan mengunggah di berbagai platform media sosial, ataupun mengkritik figur. Namun, kita harus mengetahui jika ruang publik saat ini sangatlah judgemental. Itu bisa terlihat dari betapa reaktifnya para fanboy ataupun fangirl seleb atau figur apapun di media sosial.

Berikutnya adalah mengenai literasi dan hoax, entah sebuah keluguan anak muda ataupun banalitas aktivisme digital yang membuat seseorang berfikir keras untuk menelannya –sering kali kita juga terjebak, begitu tersadar, kita membuat sebuah perlawanan dengan mencari-cari informasi tandingan. Patut kita akui, sebagai besar anak muda masih rentan
dalam problematika ini.

Sekadar mengingatkan, hal ini dinilai berbahaya, tidak hanya bagi individu yang mengkonsumsi informasi tersebut, melainkan berdampak pada lingkup kehidupan yang lebih luas. Kita bisa meliat bagaimana tensi perpolitikan tanah air yang
diwarnai dengan informasi hoax, begitu pula debat kusir antara bumi datar vs bumi bulat, atapun spekulasi mengenai sepak terjang figur x yang belum tentu sebagai keniscayaan.

Masalah literasi memang pada nyatanya bersumber dari informasi yang disebar secara rulang-ulang sehingga menjadi suatu kebenaran yang mutlak. Selain itu, informasi tersebut ditegaskan oleh tokoh atau figur yang memang banyak pengikutnya. Dengan ini, seseorang sembarangan menjustifikasi sebuah persoalan yang mengacu dari kebenaran manipulatif.
Dengan demikian, sangatlah diperlukan untuk berhati-hati ketika mencerna suatu informasi
dengan cara mengklarifikasinya.

Maka demikian, perlulah kita kembali tegaskan persoalan yang kita hadapi di dunia digital terkait kebebebasan berkarya. Pertama, anak muda selalu mereproduksi identitasnya sehingga menjadi suatu kerentanan yang mungkin dapat berimplikasi pula di dunia yang riil.

Kedua, persoalan ruang privat vs publik, media sosial bukanlah serta-merta bebas untuk menyerang, beropini, mengemukakan susuatu. Banyak konsekuensi yang perlu dipertimbangkan perihal ini. Terakhir, masalah literasi media yang bukan hal sepele,
mengingat berbagai persoalan di dunia riil banyak sekali bersumber dari literasi yang di media sosial.