Bayangkan sebuah tangga, yang di bawahnya dinomori 0 dan di paling atas dinomori 10. Atas tangga menandakan hidup terbaik yang mungkin bagimu dan bawah tangga menandakan hidup terburuk bagimu. Menurut pendapat pribadimu, pada anak tangga ke berapa kamu sekarang berada?

Pertanyaan di atas adalah penilaian tangga Cantril –-penanda kebahagiaan masyarakat (atau setidaknya responden) yang menjadi dasar penelitian World Happiness Record.

Untuk menjelaskan kebahagiaan responden, para peneliti juga memperhatikan 6 variabel: kekayaan (dengan indikator produk domestik bruto (PDB) per kapita), bantuan sosial (ada atau tidaknya orang yang bisa membantu), harapan hidup sehat, kebebasan sosial, kedermawanan dan tidak adanya korupsi.

Semua data  dari 6 variabel tersebut diproses dan dibandingkan dengan negara hipotetis bernama Dystopia, yang digambarkan sebagai negara paling tidak bahagia. Kehidupan di Dystopia dibayangkan paling tidak menyenangkan: paling miskin, harapan hidup paling rendah, kedermawanan paling jarang, dan korupsi paling merajalela.

kredit: World Happiness Report 2017

Warna biru muda di kiri menandakan PDB per kapita, oranye menandakan bantuan sosial, merah menandakan harapan hidup sehat, biru tua menandakan kebebasan pilihan hidup, hijau menandakan kedermawanan, ungu menandakan persepsi tentang korupsi, dan abu-abu menandakan skor dari negara Dystopia, ditambah dengan residu (skor kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan oleh 6 variabel di atas).

Data dari 6 variabel di atas dicari selisihnya dengan “negara” Dystopia agar tidak ada angka negatif pada diagram. Oleh karena itu, skor negara Dystopia (1,85) perlu dimasukkan kembali pada data tiap negara agar data tidak terganggu. Indonesia berada di peringkat ke-81 dengan skor 5,262. Skor tertinggi dipegang oleh Norwegia, yaitu 7,537.

Setelah memahami data, mungkin kamu bertanya-tanya, “Lho, kok sub-bar ungu Indonesia nyaris tidak terlihat?”

Skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia memang masih rendah. Skala yang digunakan dalam IPK adalah 0-100, dimana 0 sangat buruk dan 100 sangat baik. Skor IPK Indonesia pada 2016 adalah 37, yang merupakan peningkatan satu poin dari tahun sebelumnya, dan lebih rendah dari rerata dunia, yaitu 43.

Syukurlah, laporan ini juga membawa kabar gembira; masyarakat Indonesia sangat dermawan.

Indonesia, menurut Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index, adalah negara ke-7 paling dermawan sedunia. Laporan ini didasari tiga pertanyaan: dalam sebulan terakhir, pernahkah responden membantu seorang asing, menyumbang uang atau menjadi relawan. Hasilnya, 43 persen responden menjawab telah membantu orang asing, 75 persen menyumbang uang dan 50 persen menjadi relawan.

Menurut World Happiness Report, kebahagiaan Indonesia meningkat 0,243 poin. Kenaikan kebahagiaan Indonesia berada di peringkat ke-45. Tentu itu berita baik, yang semoga makin membaik, karena sebentar lagi Pilkada selesai dan berita tak lagi gaduh.