“Gue agent of change. Gue harus mampu berkontribusi agar Indonesia lebih baik ke depannya. Dan kalau bukan karena gue, karena kalian semua, siapa lagi yang mau bantu mengubah Indonesia?”

Senyumnya hangat. Jabat tangannya erat. Ada wibawa yang dipikul ke mana pun ia melangkah. Siapa sangka, lelaki berkumis ini dulunya seorang apatis. “This is my life, not your life,” begitu katanya saat mengutarakan prinsipnya. Namun, siapa pula yang dapat menduga, lelaki ini malah berhasil menjadi Relawan Terpilih dalam Festival Relawan 2016 yang diselenggarakan di Komunitas Salihara, pada Minggu (18/12/2016) lalu. Bagaimana bisa?

Fahrul Herdiandika atau lelaki yang akrab disapa Fahrul ini sadar bahwa dirinya diciptakan untuk menjadi berguna bagi orang lain. “Kalau aku enggak berguna, sama saja aku enggak mensyukuri karunia Tuhan yang sudah menciptakan aku,” ujarnya.

Kepekaan menjadi kunci timbulnya jiwa sosial di dalam diri. Melihat permasalahan dan isu-isu sosial yang terjadi di sekitar, membuat Fahrul tergerak untuk saling membantu sesama.

Awalnya, Fahrul mengikuti sebuah kegiatan bersih-bersih sampah di Jakarta beberapa waktu lalu. Di sana, ia bertemu dengan Capri Everitt, gadis mungil berusia 12 tahun yang sudah berkeliling ke 80 negara untuk berkampanye dan menggalang dana untuk SOS Children’s Village dengan cara menyanyikan lagu kebangsaan setiap negara yang didatangi, termasuk Indonesia Raya.

Rupanya, pertemuan Fahrul dengan gadis ini membawanya pada suatu titik. Ia merasa, SOS Children’s Village benar-benar bersahabat dan sifat kekeluargaannya begitu terasa. Inilah yang membawa Fahrul untuk terjun langsung ke dalam komunitas ini, lalu ikut berkampanye dan menggalang dana bagi anak-anak SOS Children’s Village di Indonesia.

SOS Children’s Village Indonesia sendiri adalah salah satu Non-Governmental Organization yang berusaha untuk memerdekakan hak anak-anak terlantar, anak-anak dengan orangtua yang sedang berhadapan dengan hukum, juga anak-anak dengan ekonomi rendah atau minim sehingga pihak SOS Children’s Village Indonesia berperan dalam menyalurkan kasih sayang.

Kasih sayang sesosok Ayah

Pertemuannya dengan Capri membuat kepedulian lelaki 21 tahun ini terhadap anak-anak semakin besar dan membuatnya ingin berbuat sesuatu yang lebih. Baginya, selain memiliki hak untuk bermain dan belajar, anak-anak juga berhak mendapatkan kasih sayang. Memang, tak mudah untuk mewujudkannya dalam bentuk nyata. Namun, Fahrul selalu berusaha menyampaikannya lewat caranya sendiri.

“Ketika aku berada di keramaian, ketika ada anak yang menangis, aku akan menyamperi dan menghibur dia. Aku ke mana-mana mengantungi permen dan akan aku kasih ke dia. Kalau di village sendiri, anak-anak sering minta gendong. Aku pasti dengan senang hati menggendong mereka. Kanan, kiri, depan, belakang, aku gendong. Walaupun cuma begitu, aku juga merasa bahagia kalau mereka senang,” ucap lelaki kelahiran 1995 ini.

Bukan sekadar inisiatif yang menuntun Fahrul menjadi sesosok Ayah yang dibutuhkan anak-anak. Ada ingatan jelas masa lalu yang membuatnya percaya, bahwa seorang Ayah juga bisa melabuhkan kasih sayang yang besar kepada anak-anaknya. Pun, seorang Ayah juga bisa menjadi sosok seorang Ibu. Persis seperti cerita yang digambarkan dalam buku Sabtu Bersama Bapak, karya Adhitya Mulya.

“Orangtuaku sibuk bekerja dan aku kurang merasakan kasih sayang. Aku bilang ke diriku sendiri, aku enggak bisa membiarkan orang lain merasakan apa yang aku rasakan. Kelak, aku akan punya keluarga kecil dan aku akan menjadi seorang Ayah. Sesibuk apapun, aku harus tetap ada untuk anak-anakku.”

Sama seperti dulu ia dibimbing oleh Ayahanda tercinta. Ia bercerita, dulu Ayahnya adalah seorang yang sibuk. Namun, kesadaran dari hati nurani membuat Ayahnya menjanjikan waktu bersama-sama bagi dirinya. Hal sederhana saja, mengantar Fahrul ke sekolah, misalnya.

“Sampai sekarang, meski sudah almarhum, apa yang dia contohkan, apa yang dia perlihatkan ke aku, masih tertanam di dalam diri. Rasanya bahagia mendapat perhatian lebih dari seorang Ayah,” tuturnya sembari tersenyum kecil.

Meski baru delapan bulan bergabung dengan SOS Children’s Village Indonesia, Fahrul dirinya tidak pernah merasa spesial menjadi relawan. “Jadi relawan itu keinginan pribadi, dari hati nurani. Jadi relawan itu enggak spesial, karena memang sebuah keharusan kita.”

Ia menambahkan, menjadi relawan merupakan hal yang menyenangkan. Selain bisa menerapkan Ilmu Kesejahteraan Sosial yang dipelajarinya saat kuliah, Fahrul juga bisa bertemu teman-teman baru dengan karakteristik dan kebudayaan yang berbeda.

“Aku belajar memahami mereka semua dan itu adalah hal yang luar biasa. Volunteering bukanlah sesuatu yang monoton, dan tentunya bisa bikin kita senang bareng-bareng.”

Tentu, kesenangan itu tidak ingin disimpannya sendiri. Fahrul juga mengajak teman-teman lainnya untuk ikut terjun langsung sebagai relawan. Ia bercerita, saat dirinya masih mengenyam pendidikan di semester 1, Fahrul sering menyebar pesan terkait info kerelawanan. Namun, banyak yang tidak memedulikannya. Sering dibilang nyampah katanya.

Kendati begitu, ia mampu membuktikan bahwa menjadi seorang relawan sungguh bisa mengubah hidup orang banyak, juga menginspirasi orang lain untuk ikut bergerak membuat perubahan di negeri sendiri. Justru, teman-teman Fahrul kini berbalik aktif bertanya info kerelawanan padanya.

“Ajak gue jadi relawan, dong!” ucap Fahrul mengulang kembali sahutan temannya seraya tersenyum kecil.

Tak perlu banyak bicara memang, untuk bisa merealisasikan transformasi. Hanya aksi nyatalah yang menjadi saksi bagaimana regenerasi bangsa terjadi.

Ya, kini tak ada lagi Fahrul yang apatis, Fahrul yang egosentris. Yang ada, hanyalah sikap optimis penuh harapan serta kepedulian akan masa depan yang lebih berharga.