Jika kamu sering menonton rangkaian acara kartun pagi hari akhir pekan, mungkin sudah familiar dengan Avatar: The Last Airbender. Serial ini bercerita tentang petualangan Avatar Aang dan teman-temannya untuk mengakhiri Perang Seratus Tahun.

Bila kita memahami cerita anak-anak pra-remaja yang ambisius ini lebih dalam, sebenarnya kita bisa melihat ada isu-isu yang menarik untuk dibahas. Isu-isu ini, paling tidak, bisa membuat orangtua membimbing anak-anaknya menonton tanpa harus kehilangan esensinya.

Serial ini –juga komik-komik lanjutannya– memang kerap dipuji karena penulisan karakter, dan jalan cerita mereka yang baik serta pengangkatan isu-isu relevan dengan kehidupan nyata.

Perang, kolonialisme dan pengungsi

“Namun semua berubah ketika Negara Api menyerang.” Potongan kalimat yang kini kerap dijadikan meme dengan berbagai variasinya ini tidak memiliki arti yang dangkal. Sozin, pencetus Perang Seratus Tahun, mengklaim bahwa perang ini adalah cara Negara Api membagi kekayaannya. Bagian dari perang ini adalah membangun koloni-koloni di wilayah-wilayah yang diserang. Ada sebagian warga Negara Api yang ditempatkan di koloni-koloni ini, dan kemudian memegang posisi sosial dan politik yang lebih tinggi dari penduduk asli wilayah tersebut: perubahan struktur sosial yang sudah ada.

Perang juga menyebabkan penduduk wilayah terserang mengungsi ke wilayah-wilayah yang lebih aman (atau sekadar belum diserang). Contohnya di episode The Great Divide, ada dua suku yang harus melewati ngarai –-yang disebut sebagai ngarai terlebar di dunia-– untuk mencapai tempat yang aman.

Contoh lain adalah banyaknya orang yang mengungsi ke Ba Sing Se, kota bertembok tak tertembus. Tidak semua orang bisa masuk ke Ba Sing Se dengan aman, karena tidak semua memiliki paspor. Jika orang-orang ini tetap ingin mengungsi ke Ba Sing Se, mereka harus melewati jalur yang berbahaya dan putus di tengahnya. Digambarkan juga orang-orang yang menunggu belas kasihan agar bisa masuk.

Setelah perang, digambarkan dunia baru pasca-kolonialisme. Untuk mengembalikan keseimbangan dunia, dibuat Harmony Restoration Movement, yang mengharuskan warga Negara Api kembali ke negara asalnya. Hal ini didukung oleh orang-orang yang ikut berjuang melawan peperangan, namun ternyata tidak berjalan semulus itu.
Di koloni-koloni yang tua, keturunan pendatang dari Negara Api sudah berbaur dengan warga pribumi. Banyak yang sudah bekerja sama membangun industri yang memadukan teknologi asal kedua kebudayaan yang berbeda. Kebanyakan keturunan pendatang memang masih memegang derajat yang lebih tinggi dari pribumi, namun memindahkan keturunan pendatang kembali ke Negara Api dianggap merusak struktur yang sudah terbangun. Karena ini, dibangunlah peradaban yang inklusif bagi semua orang, tanpa memperhatikan asalnya.

Propaganda

Di balik keamanan tembok tinggi Ba Sing Se, ternyata dilakukan tindakan-tindakan yang menutupi kebenaran. Pembicaraan tentang perang yang terjadi di luar dilarang oleh pemerintah setempat. Orang-orang yang membicarakan perang ini dibantah, bahkan ada pula yang diculik dan dicuci otak.

Di sekolah-sekolah Negara Api, fakta bahwa Negara Api melakukan kejahatan perang ditutupi dan disebut agresi yang bermartabat. Sejarah sebelum Sozin –-pencetus perang-– juga tidak diajarkan. Di seri komik lanjutan serial kartun ini, Smoke and Shadows, ditunjukkan situs yang menyimpan sejarah lengkap Negara Api, namun bagian yang memuat sejarah sebelum Sozin diblokir.

Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan karakter

Karakter-karakter mayor di serial ini ditulis dengan baik dan penyebab sikap-sikapnya dapat ditelusuri dari perjalanan hidupnya. Karakter antagonis pun tak luput dari desain yang teliti.

Karakter antagonis yang dimaksud adalah Azula. Azula adalah putri raja yang cerdas, licik dan haus kekuasaan. Ia disebut ayahnya terlahir beruntung –sejak kecil ia adalah pengendali api yang berbakat–- sementara kakaknya, Zuko, disebut beruntung dilahirkan.

Sejak kecil, Azula selalu berusaha mendapatkan kasih sayang dan apresiasi dari ayahnya yang megalomaniak dan keras. Ia memiliki hubungan yang bergejolak dengan ibunya yang berhati lembut, dan merasa dianggap seorang monster oleh ibunya. Karena merasa lebih dihargai dan lebih berkuasa sejak kecil, ia biasa mengganggu kakaknya, mulai dari keisengan kekanakan hingga memanipulasi emosi kakaknya saat sudah berkuasa menjadi raja.

Tokoh lain yang menarik diobservasi adalah Katara. Ia adalah anak perempuan yang penuh semangat, ambisius dan bijak, tanpa terbebas dari konflik internal dan dendam. Sejak kecil, neneknya menceritakan kisah-kisah damai sebelum perang. Ibunya merelakan diri dibawa oleh tentara Negara Api yang menginvasi desanya untuk melindung Katara –-yang waktu itu masih anak-anak-– yang merupakan pengendali air terakhir di desa itu. Kemudian, ayahnya pergi meninggalkan keluarganya untuk berperang.

Hal-hal tersebut membentuknya menjadi karakter yang berkembang sedemikian rupa: perlu balas dendam atas kehilangan ibunya dan yang berani menentang tradisi melarang perempuan belajar pengendalian air sebagai bela diri.

Selain dua karakter di atas, ada juga Sokka yang cerdas dan ambisius. Ada Zuko yang berkembang dari antagonis utama menjadi pembantu protagonis, dan beberapa tokoh lain yang tidak dianalisa di tulisan ini.

Di luar isu-isu ini, ada juga gagasan-gagasan yang bisa dibahas, diantaranya isu klasisme dan berbagai ideologi yang dipegang berbagai pihak.

Dengan tulisan ini, kami mengajak pembaca untuk mengkaji substansi tontonan yang dikonsumsi. Seringkali, acara anak-anak pun tidak hanya memiliki jalan cerita yang menarik dan pesan moral yang bisa dipahami langsung saat menonton, namun juga tema-tema yang bisa didiskusikan dengan mendalam.