Debat terbuka Pilkada DKI Jakarta 2017 kembali digelar dengan tema Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (27/01/2017). Dalam debat tersebut, salah satu Calon Gubernur (Cagub) menyebut kalimat ungkapan “asal bapak senang”.

Asal bapak senang tentu bukan ungkapan baru. Pada masa era Orde Baru di zaman Suharto, ungkapan itu berbau politis. Intinya untuk membuat si bos atau atasan atau pejabat tersenyum senang.

Ungkapan ini ternyata sudah ada sejak Orde Lama, di zaman Sukarno. Asal bapak senang rupanya adalah sebuah band bentukan ajudan Sukarno dengan nama sama, Asal Bapak Senang (ABS). Ketika itu belum berbau politis.

Sukarno memiliki kegemaran menari lenso. Dalam tiap aksinya Bapak Proklamator itu selalu meminta pengiring musik, tetapi tidak pernah ada yang cocok.

Sampai pada akhirnya, Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP), Mangil Martowidjojo, berinisiatif membentuk sebuah band untuk mengiringi Sukarno ngelenso. Band tersebut dipimpin mantan mayor polisi bagian urusan kepagawaian Markas Besar Kepolisian, Iskandar Winata.

Awalnya, band ini senang-senang saja mengiringi presiden pertama Indonesia itu. Namun lama-kelamaan mulai bosan lantaran dua hingga tiga jam non-stop hanya bermain di nada itu-itu saja. Iskandar Winata dan kawan-kawan mencoba mengubah irama.

Hasilnya justru di luar dugaan. Sukarno menolak dengan keras dan memerintahkan Iskandar dan kolega agar bermain di irama semula. Sejak saat itulah lahir istilah –yang sekaligus menjadi nama band– Asal Bapak Senang. Tentunya nama ini tidak pernah diketahui sang presiden hingga akhir hayatnya.

Sebaliknya, Sukarno memberi nama band itu Brul Apen. Secara harfiah berarti monyet-monyet yang terus mengerang dan cecowetan tiada henti.

Sumber: historia.id