Lulus dari bangku kuliah merupakan hal yang paling menyenangkan bagi para mahasiswa. Mereka secara resmi telah menjadi sarjana. Keluarga senang, orang tua bangga. Namun, bukan berarti harus berpuas diri, karena hidup masih terus berjalan.

Para sarjana biasanya dituntut mencari kerja untuk menuangkan ilmu yang didapatnya selama mengenyam pendidikan, agar ilmunya tidak menjadi sia-sia. Tetapi, biasanya pelaku lulusan baru atau fresh graduate ini sering merasa canggung untuk mencari atau melamar pekerjaan.

Program dari Sinergi Muda, Cluster Post Graduated & Worklife bersama IndonesianYouth.org berusaha menjawab permasalahan tersebut dengan menggelar diskusi yang dinarasumberi oleh Fitria Umami, Human Resource Recruitment Specialist Tokopedia, di Kantor Sinergi Muda, Kemang, Jakarta, Rabu (18/03/2017).

Dalam diskusi itu, Fitria menjelaskan apa yang dicari dari Human Resource (HR) untuk menentukan kandidat. Menurutnya, pengetahuan dan ketertarikan pelamar tentang posisi yang dilamarnya menjadi hal yang cukup menentukan, begitu pun dengan CV.

“Biasanya lebih sering melihat experience (pengalaman kerja, magang, atau pernah ikut project), latar belakang pendidikan, tahun lulus, reputasi sekolah atau perguruan tinggi, dan rentang lulus sampai punya kegiatan seberapa lama (untuk mencari tahu pengalaman setelah lulus),” katanya.

Fitria mengatakan kalau latar belakang universitas rupanya tidak menjadi penilaian utama. Sebab, kebanyakan perusahaan membuka kesempatan dari berbagai universitas.

“Untuk pengaruh penerimaan tidak, karena kita membuka kesempatan dari banyak perguruan tinggi, tetapi untuk pengaruh talent pool cenderung tinggi bagi perusahaan startup,” ujarnya.

Untuk diterima di sebuah perusahaan yang dituju, para pelamar tentunya harus memiliki kemampuan atau skill sesuai bidang yang diinginkan, namun kemampuan seperti apa yang biasanya dicari perusahaan?

Fitria mengungkapkan soft dan hard skill harus seimbang. Meski, diakuinya, cukup sulit untuk mendapatkan kandidat seperti itu. Akan tetapi, semuanya kembali pada posisi pekerjaannya.

“Untuk posisi pekerjaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan dan manajerial ke atas lebih cenderung melihat soft skill, baru kemudian hard skill,” sebutnya.

Kekhawatiran fresh graduate lantaran masih minimnya merasakan budaya di perusahaan rupanya, dikatakan Fitria, jangan dijadikan halangan untuk mencari pekerjaan. Sebab, fresh graduate tidak terlalu bermasalah dengan budaya perusahaan.

“Tergantung posisi yang dibutuhkan. Tetapi fresh graduate tidak terlalu bermasalah untuk penyesuaian corporate culture, karena yang sudah berpengalaman akan cenderung lebih susah (mengikuti),” ucapnya.

Fitria pun menyarankan bagi first jobber untuk mencari terlebih dahulu latar belakang pekerjaan yang diinginkan dan memperbanyak training skill.

“Mencari tau latar belakang pekerjaan yang ingin dilamar itu sangat penting untuk pengetahuan dasar kita sebelum berhadapan langsung dengan pihak perusahaan tersebut, banyak-banyakin melakukan riset sebelum melamar pekerjaan di suatu perusahaan, dan jangan lupa perbanyak training skill supaya kita lebih bijaksana bersikap,” sarannya.

Tak ketinggalan, bagi kamu yang masih magang, perusahaan juga tetap memberikan ruang lantaran kehadiran anak magang akan sangat membantu dan yang paling penting bisa mempelajari sistem kerja secara nyata.

“Kalau ada kesempatan magang lebih baik diambil, karena akan sangat mempengaruhi mental dan pengalaman kita. Kalau tidak ada jadwal magang, lebih baik jatah liburannya digunakan untuk magang daripada untuk sekadar bermain dan buang-buang waktu secara sia-sia,” tutup Fitria.