Indonesian Youth Pitstop2017 “Gara-gara Jadi Relawan” diselenggarakan oleh Sinergi Muda di Universitas Pertamina, Jakarta, Sabtu (06/05/2017). Forum diskusi itu membahas soal betapa pentingnya mengeksplorasi diri, melatih kemampuan berorganisasi, serta meningkatkan jiwa sosial melalui kegiatan kerelawanan.

Activation Organization Manager Indorelawan, Maritta Rastuti, mengatakan, masih banyak orang yang salah paham terkait relawan dan volunteer. Ada yang berpikiran, relawan harus mapan, punya waktu, juga selalu member tanpa timbal balik.

“Jadi relawan, sebenarnya yang penting itu niat. Kita juga bias mempercepat hal-hal yang ingin diselesaikan,” kata Maritta.

“Ketika kita menjadi relawan, kita merasa benefit-nya hanya untuk orang yang menerima saja. Sebenarnya, benefit-nya jauh lebih banyak ke kita. Misalnya, belajar menganalisis masalah, belajar tentang bersyukur,” sambungnya.

Menjadi relawan memiliki banyak keuntungan, contohnya merasa puas lahir dan batin. Hal itu juga dirasakan Ari Khusuma, wirausahawan muda yang aktif sebagai relawan. Ari mengatakan, dengan menjadi relawan, ia merasa bisa mendapatkan kepuasan batin. Apalagi, dirinya bisa berjejaring dengan orang-orang baru, serta meningkatkan soft skill yang tak pernah didapatkannya dari pendidikan formal.

“Jangan merasa enggak ada manfaatnya. Kalau disadari, kalian ada manfaatnya. Kegiatan volunteering sangat mempengaruhi penilaian dari orang-orang untuk menerima saya. Kita bisa bertemu banyak komunitas, bisa dapat pelatihan yang enggak kita temukan sebelumnya,” ucap Ari.

“Menjadi relawan bukan soal menjadi keren, melainkan bagaimana caranya menjadi bernilai dan ada isinya,” imbuhnya.

Di sisi lain, Head of KompasKarier, Bimo Wikantiyoso, menjelaskan, pengalaman volunteering memang berguna dalam dunia kerja. Pengalaman berorganisasi menjadi salah satu elemen yang dilihat dalam resume seseorang yang nantinya bisa menjadi pertimbangan. Harapannya, Anak Muda Indonesia sudah terlebih dulu mengalami dunia kerja, bisa berpikir secara kritis dan kompleks, dan tahu bagaimana berorganisasi.

“Tahun 2020 nanti ada 3 hal yang dibutuhkan, yaitu complex problem solving, critical thinking, dan creativity. Yang kita butuhin itu kualitas, yang didapatkan dari pengalaman kerelawanan. Volunteering ini bisa dilakukan di manapun,” kata Bimo.

Diharapkan, Anak Muda Indonesia bisa memanfaatkan kesempatan untuk berkontribusi langsung di tengah masyarakat sebagai relawan yang secara konsisten memberikan dampak nyata. Sebab, kualitas di dalam diri kita yang bisa kita dapatkan di “Gara-gara jadi Relawan” bisa menjadi bekal dan modal untuk pemberdayaan potensi Anak Muda Indonesia, juga membuat diri kita lebih bernilai.