Melihat beraneka ragam sumber daya yang ada di Indonesia, usaha skala kecil dan rumah tangga bisa menjadi pilihan alternatif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Dengan semakin bertumbuhnya hal tersebut, diharapkan akan menghasilkan efek bola salju bagi masyarakat desa, sehingga lapangan pekerjaan terbuka luas dan roda perekonomian lebih cepat lagi berputar.

Jika ditelaah lebih dalam, usaha skala kecil dan rumah tangga dapat menjadi salah satu tumpuan bagi masyarakat desa untuk mendapatkan sumber penghidupannya. Oleh karena itu, masyarakat di pedesaan harus didukung dengan tindakan-tindakan yang nyata dan berkelanjutan dalam mengembangkan usaha skala kecil dan rumah tangga.

Sukabumi, telah menjadi kota yang bersejarah bagi saya karena masa kecil saya ada disana. Saya pun merantau ke kampung halaman untuk mencoba melihat dan belajar untuk mengabdi disana.

Apa yang telah saya lihat di desa Pulosari, Sukabumi, Jawa Barat, menunjukkan bahwa kesibukan sehari-hari masyarakat desa seperti bertani dan beternak membuat mereka terkadang tidak awas terhadap apa yang ada di sekitar mereka, bukan mereka tidak tahu tetapi hanya kurang menyadari apa potensi terselubung dari desa mereka sendiri.

Harapan untuk bisa meningkatkan kesejahteraan di setiap keluarga juga sangat tinggi tetapi tidak diimbangi dengan akses informasi mengenai apa yang bisa mereka lakukan selain bertani dan beternak, meskipun ada, hanya sedikit dan segelintir orang saja yang bisa memanfaatkan akses tersebut. Berangkat dari situ, rasa-rasanya sudah waktunya ‘pemuda pulang ke desa’.

Dalam Undang-Undang No. 40 tahun 2009 tentang kepemudaan Pasal 1 ayat 1, tertulis bahwa “Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.”

Namun, menjadi sebuah ironi manakala pemuda Indonesia masih banyak melakukan kegiatan yang kontra-produktif. Tawuran pelajar masih sering terjadi hampir diseluruh wilayah Indonesia dan yang sangat disayangkan mahasiswa pun masih saja ada yang melakukan hal-hal serupa dan tidak berguna yang tidak jelas apa pemicunya. Padahal, Indonesia saat ini sangat membutuhkan peran aktif para pemudanya sebagai agen perubahan yang bertanggungjawab terhadap proses tumbuh kembang Indonesia di kemudian hari.

Sedangkan, Undang-Undang No.40 tahun 2009 tentang kepemudaan Pasal 19 menyebutkan bahwa “Pemuda bertanggung jawab dalam pembangunan nasional” salah satunya poinnya adalah meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat serta meningkatkan daya saing dan kemandirian ekonomi bangsa.

Negara sudah sangat jelas menugaskan pemudanya untuk ikut serta dalam pembangunan nasional. Dilihat dari jumlah pemuda yang ada di Indonesia, ada sekitar 26 persen dari sekitar 230 juta jiwa lebih penduduk di Indonesia berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, untuk kelompok umur 16-30 tahun. Jumlah yang sangat potensial dalam proses pembangunan nasional.

Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh pemuda adalah ikut andil dalam kegiatan kewirausahaan yang merupakan salah satu bentuk kontribusi yang mampu mendorong roda ekonomi di negara ini agar terus berputar. Kewirausahaan juga mampu menciptakan lapangan kerja sehingga mencukupi kebutuhan hidup banyak pihak, mulai dari pemiliknya usaha itu sendiri, para pemasok, distributor, hingga masyarakat sekitarnya.

Kewirausahaan dan Pengembangan Masyarakat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dapat dicatat, bahwa baru ada 0,18% penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai pengusaha atau wirausahawan. Nilai tersebut tergolong sangat rendah dibandingkan dengan bahwa sebuah negara akan maju dan berkembang pesat jika minimal 2% dari total penduduknya adalah wirausahawan. Berarti, Indonesia masih membutuhkan sekitar 4,07 juta wirausahawan untuk membangun perekonomian yang maju dan mampu mensejahterakan rakyatnya.

“Saat ini lebih dari 92,08% tenaga kerja di Indonesia adalah orang-orang yang bekerja pada unit usaha berskala mikro, kecil dan menegah. Mereka telah memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar Rp. 2.993,15 Triliun atau sekitar 53,32% dari total PDB Indonesia,” ungkap Depusti SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Agus Muharram, dikutip dari wawancara Majalah Forum Manajemen Prasetiya Mulya (edisi Novemeber-Desember 2010).

Begitu fantastis sekali kontribusi yang diberikan oleh para tenaga kerja di sektor usaha mikro, kecil dan menengah terhadap PDB Indonesia. Hal ini bisa digunakan sebagai pemicu pemuda Indonesia untuk melihat bahwa sektor usaha mikro, kecil dan menengah sangatlah potensial sebagai bentuk usaha yang akan dijalankan di kemudian hari. Tetapi, sebelum menjalankan usaha sendiri, ada baiknya untuk memberikan sebagian waktu, tenaga dan sumber daya yang dimiliki untuk menengok dan membantu saudara-saudara kita yang tinggal di daerah pedesaan. Karena di setiap daerah masih banyak potensi dengan keanekaragaman sumber daya yang bisa dikembangkan untuk melakukan kegiatan wirausaha untuk mereka sekaligus memberikan tambahan pengetahuan mengenai kewirausahaan.

Sebagai contoh kasus, pengalaman saya selama dua periode menjalani kegiatan pengabdian masyarakat dalam program Community Development S1 Prasetiya Mulya Business School sebagai peserta dan tutor sejak Februari 2009–Juli 2010 di Desa Pulosari, Kecamatan Palasari Girang, Parung Kuda, Sukabumi, Jawa Barat, membuat saya sebagai mahasiswa dapat belajar, bahwa banyak hal yang bisa dilakukan oleh kita sebagai pemuda untuk ikut serta dalam proses pembangunan nasional, salah satunya adalah dengan kegiatan seperti program community development.

Program Community Development adalah sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh para mahasiswa S1 Prasetiya Mulya Business School melalui pengembangan kewirausahaan di pedesaan dengan memaksimalkan potensi sumber daya lokal. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rentang waktu selama 8 bulan. Diawali dengan masa persiapan dan perencanaan selama dua bulan, lalu tinggal di daerah dimana program ini dilaksanakan selama 1 bulan untuk implementasi rencana yang telah dibuat dan selama 5 bulan dilakukan untuk kegiatan pendampingan.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepekaan sosial bagi mahasiswa sekaligus sebagai kegiatan mengakomodasi masyarakat desa dalam meningkatkan kemampuan kewirausahaan, memberikan alternatif penghasilan tambahan yang berkelanjutan serta mengingkatkan kemandirian masyarakat desa melalui pendidikan wirausaha dan manajerial dengan memaksimalkan potensi sumber daya lokal di pedesaan demi mewujudkan desa mandiri dan sejahtera melalui kewirausahaan.

Ibu rumah tangga, pekerja tidak tetap, pengangguran dan petani adalah salah satu target mitra dari kegiatan yang dilaksanakan dengan menggunakan model kemitraan dan orang tua asuh. Model ini membuat mitra berperan ganda sebagai mitra usaha dan orang tua asuh bagi mahasiswa (peserta) yang bertujuan agar antara mahasiswa dan mitra memiliki ikatan kuat sehingga menjadi modal sosial berharga untuk menjalankan usaha di desa tersebut.

Kemitraan itu sendiri juga dimaksudkan agar dalam merintis usaha dapat memperhatikan kondisi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya, sehingga usaha tersebut akan menjadi lebih mudah untuk diterima dan berkembang karena mendapat dukungan dari semua stakeholder seperti pemasok, distributor, hingga masyarakat sekitarnya. Sehingga, pengembangan dan pengabdian terhadap masyarakat yang saat ini seringkali dilupakan oleh para wirausahawan di Indonesia dalam berwirausaha, dapat ditumbuhkan di benak para peserta, dimana kelak akan menjadi bekal yang amat penting dalam membangun usaha untuk mendorong roda perekonomian Indonesia.

Dalam mengembangkan kewirausahaan di pedesaan, kita bisa mengidentifikasi dan menganalisa kondisi faktual potensi sumber daya lokal yang ada di daerah tersebut. Di Desa Pulosari banyak sekali tersedia komoditas pertanian seperti pisang, pepaya, singkong dan ubi. Tetapi, selama ini barang komoditas tersebut hanya dijual dalam bentuk mentah yang biasa dipasok ke supermarket atau hypermarket di kota-kota besar. Hal itu meciptakan kesempatan untuk memberi nilai tambah pada komoditas yang tersedia melalui inovasi produk yang akan memberikan keutungan bagi masyarakat.

Ketika peserta dan mitra sudah mengetahui produk apa yang akan dijalankan, secara bertahap dilakukan perencanaan usaha seperti pembukuan sederhana, penghitungan harga jual, sistem pencatatan persediaan, sistem alur produksi, analisa pasar dan sistem pemasaran yang diakomodasi oleh peserta dengan pengetahuan yang dimiliki serta mentransformasikan pengetahuan tersebut kepada mitra agar setelah program ini selesai, mitra Community Development bisa menjalankan usahanya secara mandiri tanpa didampingi oleh peserta dan memiliki keberanian dalam mengambil keputusan.

Berdasarkan hasil penelitian oleh M. Setiawan Kusmlyono, yang pernah menjadi peserta, tutor dan pendamping Community Development Project yang saat ini menjadi bagian dari tim Entrepreneurship Development Center, Prasetiya Mulya Business School, melalui metodologi pre and post observation menjelaskan bahwa di program Community Development ini terjadi peningkatan kapasitas berwirausaha dan manajerial para mitra usaha yang signifikan sebesar 68,12%. Peningkatan berwirausaha tertinggi disumbang oleh pengetahuan pemasaran dan keuangan. Pada sisi manajerial, peningkatan pengetahuan mitra mencapai 111,26%.

Kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi mitra dan para stakeholder. Dari penghasilan yang didapat, mitra dapat menggunakannya sebagian untuk keperluannya sehari-hari, membayar upah kepada warga sekitar yang ikut membantu proses produksi, sedangkan sisanya digunakan untuk pengembangan usaha selanjutnya.

Pasngan suami istri, Kang Dayat yang berprofesi sebagai petani dan Bu Eli seorang guru SD honorer, sempat menjadi mitra serta orang tua asuh saya dan teman-teman yang tergabung dalam kelompok BATIK. Sampai saat ini mereka masih menjalankan usaha kecilnya yang dulu dibangun bersama, dengan menghasilkan produk bernama BATIK (Banana Stik), yang merupakan snack pisang berbentuk stick. Produk ini terinspirasi dari konsep cheese stick dengan dua varian rasa, original dan coklat. Mereka bisa mendapat penghasilan tambahan rata-rata sekitar Rp. 250 ribu/bulan yang diperoleh dari potongan sebesar 25% per bulan dari total penjualan diluar dari pendapatan mereka dengan bekerja sebagai petani dan guru honorer.

Nilai tersebut memanglah tidak besar untuk ukuran usaha skala kecil dan rumah tangga, tetapi bisa sedikit meringankan pengeluaran sehari-hari dan saya bersyukur kegiatan usaha tersebut juga dapat sedikit membantu biaya perkuliahan Ibu Eli hingga lulus S1 pada akhir tahun 2010.

Adapun dengan program ini mitra juga mendapatkan tambahan pengetahuan bagaimana cara untuk membuat dan mengelola usaha skala kecil dan rumah tangga, dan ke depannya bila mitra memiliki peluang yang lebih baik, dapat lebih mengembangkan lagi sendiri dengan dasar pengetahuan yang didapatkan.

Sedangkan untuk peserta, dengan komitmen untuk membantu pihak mitra meningkatkan kesejahteraan hidupnya, secara tidak langsung akan mendapatkan pengalaman bagaimana cara bertindak, bersosialisasi, dan berwirausaha di masyarakat.

Contoh kasus di atas dapat diadopsi dan disebarkan sebagai virus positif sebagai salah satu peran aktif pemuda seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang No.40 tahun 2009 tentang Kepemudaan Pasal 19 “Pemuda bertanggung jawab dalam pembangunan nasional” dengan “meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat serta meningkatkan daya saing dan kemandirian ekonomi bangsa”.

Dengan modal ilmu pengetahuan, kreatifitas, networking yang dimiliki dan memanfaatkan berkembangnya komunitas-komunitas kepemudaan saat ini, kegiatan semacam Community Development dapat dilakukan segera mungkin secara kolektif dalam membantu masyarakat di daerah pedesaan agar memiliki ketahanan ekonomi yang kuat dan mendorong laju roda perekonomian di daerahnya masing-masing. Sehingga pemuda Indonesia pun bisa menjadi pribadi yang amanah dalam mengimplementasikan tanggung jawab yang diberikan demi meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat terutama di pedesaan, dan pemuda dapat berperan serta dari hal-hal kecil sebagai langkah awal untuk mendorong laju perekonomian.