Dalam rangka menuju Indonesian Youth Conference 2017, organisasi Sinergi Muda kembali mengadakan Indonesian Youth Pitstop berupa Talk Show dan Open Space di Sinergi Muda HQ, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (17/6/2017).

Mengusung tema “Kebhinekaan dalam Ramadan”, Anak Muda Indonesia diajak untuk merefleksikan betapa pentingnya nilai-nilai semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan nilai moralitas warisan leluhur.

Dalam acara ini, hadir Ali Bin Z. dari Peace Generation yang mengungkapkan, tindakan intoleran dan terorisme yang kerapkali mengatasnamakan agama kerap terjadi di sekitar kita. Namun pada dasarnya, semua agama mengajarkan perdamaian. Bagi Ali, konflik yang muncul di dunia ini merupakan pembiaran atas konflik-konflik kecil yang hadir di tengah masyarakat.

“Semua agama mengajarkan perdamaian. Namun yang menghancurkan adalah stigma-stigma. Kita dapat memutus lingkar kekerasan dengan mengajarkan perdamaian yang dimulai dari sekarang. Dimulai dari keluarga, teman bermain dan disebarkan lebih luas,” ujar Ali.

“Sesuai dengan 12 Nilai Perdamaian Peace Generation, kita bisa mulai untuk menerima diri sendiri, menerima keberagaman beragam agama, ras, etnis, status sosial, kelompok,” sambungnya.

Pernyataan tersebut didukung oleh Ilman Dzikri, Indonesian Network Coordinator for UN SDSN Youth yang menyampaikan, bahwa sebenarnya berbagai perbedaan dapat menjadi sesuatu yang baru, meski, saat ini kebanyakan masih dilihat dengan tidak meluas.

“Perbedaan adalah peluang untuk membangun sesuatu hal yang baru. Saat ini Indonesia memiliki berbagai macam etnis, namun cara melihat yang masih sempit, harusnya dilihat sebagai peluang. Perbedaan kultur dapat menjadi hal pembelajaran yang asertif dan diaplikasikan menjadi kelebihan anak muda,” kata Ilman.

Senada dengan Wasisto Raharjo, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anak Muda Indonesia memang memiliki peranan penting untuk menangkis sikap tidak menerima perbedaan tersebut. Apalagi, dengan hadirnya media sosial, informasi yang tidak tepat soal tindakan intoleran dan terorisme semakin mudah tersebar luas.

Pengaruh yang besar, dikatakan Wasisto, membuat generasi muda menjadi over connected, seakan media sosial adalah ruang eksklusivisme. Karenanya, social labelling, kekerasan, dan hoax sering berseliweran. Akibatnya, konflik terjadi, serta adanya intimidasi satu sama lain dan identitas keakuan.

Menurut Wasisto, salah satu cara untuk menghalaunya adalah dengan mendefinisikan ulang soal Pancasila, bukan hanya sekadar menghafal.

“Pancasila hari ini belum dimaknai secara keseharian. Kita harus memaknai ulang tentang Pancasila itu sendiri untuk kita terapkan pada kehidupan anak muda, serta memberikan ruang diskusi kepada anak muda untuk dapat mengekspresikan pendapat mereka,” ungkap Warsito.

Nah, supaya Anak Muda Indonesia semakin memahami akan keberagaman yang ada, dalam kesempatan ini, Sinergi Muda pun juga mengajak para peserta diskusi menyuarakan pendapat mereka mengenai permasalahan tindakan intoleransi dalam empat aspek, yaitu suku bangsa, ras atau keturunan, agama, dan gender.

Para peserta diminta mencari solusi atas permasalahan tersebut lewat digital campaign yang akan dilakukan berbagai komunitas untuk disebarkan di media sosial guna menyerukan kepada masyarakat soal pengembalian nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam Open Space ini, disepakati bahwa edukasi, sejarah, dan kurangnya pemahaman akan berbagai isu di Indonesia mengakibatkan banyaknya kesalahpahaman. Tidak adanya kepastian dalam sejarah mengakibatkan beberapa golongan disalahkan atas kejadian yang menebar teror. Belum lagi, kurangnya literasi serta tidak adanya social power yang benar-benar menerapkan nilai kedamaian menjadi inti masalah.

Harapannya, makin banyak Anak Muda Indonesia dan kelompok-kelompok yang toleran serta mempunyai nilai perdamaian yang dapat ikut ke dalam parlemen dan menyelesaikan permasalahannya secara langsung. Dengan begitu, keberagaman yang ada sungguh bisa menjadi peluang dalam memberikan kontribusi postiif untuk lingkungan di sekitar kita.