Para pelayar Eropa mengarungi samudera dan berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya, bukan semata untuk meraup emas dan kekayaan, namun juga hasil bumi yang bisa diolah oleh orang-orang Eropa. Tak jarang para pembelah laut membawa tanaman lokal dari suatu daerah untuk dimanfaatkan, sebagai penghangat badan, atau dijadikan makanan. Salah satunya adalah tembakau.

Konon, tembakau dianggap punya kemampuan untuk membuat tubuh hangat serta menyembuhkan luka –meski luka hati agak sulit disembuhkan rasanya.

Sebagai bahan baku utama pembuatan rokok, tembakau ada pada posisi yang diinginkan sekaligus tak didambakan. Pasalnya, manusia di dunia ini bisa dibagi menjadi dua kategori: yang mengisap dan yang tidak mengisap rokok.

Adolf Hitler adalah contoh orang yang pernah menjadi kedua kategori tersebut: sebagai perokok, kemudian putar arah menjadi sangat membenci rokok. Hitler beranggapan bahwa rokok dapat menyebabkan keturunan ras Arya, ras yang ia banggakan, memburuk kualitasnya. Di samping itu, Hitler juga berpendapat bahwa merokok adalah sebuah degradasi.

Ia tidak pernah senang melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya merokok. Merokok di lingkup anggota militernya mulai dibatasi. Jika militernya dibatasi untuk merokok, maka jangan harap Yahudi dan tahanan perangnya bisa menikmati benda yang dinamakan rokok.

Gerakan anti tembakau di Jerman sebetulnya sudah ada sejak awal abad 20, ditandai dengan didirikannya Deutscher Tabakgegnerverein zum Schutze der Nichtraucher, serupa sebuah asosiasi yang menentang tembakau demi perlindungan kepada yang bukan perokok. Sejak saat itu banyak menyusul badan-badan lainnya yang berdiri untuk menentang tembakau. Hingga masuk pada era Nazi.

Pada 1941, berdirilah sebuah lembaga penelitian akan bahayanya tembakau, Wissenschaftliches Institut zur Erforschung der Tabakgefahren. Lembaga tersebut mendapat dukungan serta suntikan dana dari Hitler. Hingga tahun 1943 keluarlah pernyataan pertama yang menyatakan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker paru-paru.

Berbagai campaign dilakukan oleh Nazi untuk mempersempit ruang gerak perokok. Mereka mulai gencar pelarangan merokok di transportasi umum. Poster-poster tentang bahayanya merokok juga mulai tertempel di dinding-dinding kota. Bahkan, merokok, selain dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, dan gangguan kehamilan dan janin, pada masa jaya saat itu aktivis anti tembakau mengilustrasikan bahwa merokok adalah kegiatan menjijikan yang dilakukan oleh orang-orang Negro.

Di balik hal yang digadang-gadang oleh Hitler untuk memerangi tembakau ini adalah guna menyelamatkan ras Arya dari kerusakan, serta berkewajiban untuk menjaga rasnya tetap murni.

Alasan reproduksi lah yang menyebabkan Hitler melakukan hal itu. Namun demikian, seiring runtuhnya Nazi, ambruk pula segala upaya yang pernah dilakukan untuk kebijakan penggunaan tembakau. Pemerintah Jerman saat itu, setelah era Nazi, belum mampu membangkitkan atmosfer anti tembakau yang sudah dibangun Hitler sebelumnya.