Adakah yang patut dinanti selain Opor ayam, rendang, mudik, dan THR saat lebaran? Jawabannya tentu ada: Jakarta!

Bagi sebagian besar, atau seluruh warga Jakarta, begitu rindu dengan situasi dan keadaan Jakarta yang tidak macet, yang sepi, dan Jakarta yang lengang. Berharap desa di tengah kota.

Kalau sudah begitu, mari kita manfaatkan betul dengan sebaik-baiknya. Jalan-jalanlah sepuasnya, segila-gilanya -seperti orang yang belum pernah lihat kota- mengitari Jakarta.

Mampirlah ke pusat kota, lihat bangunan paling tegap seantero Jakarta. Bangunan yang di ujungnya sekilas lebih mirip kuncup es krim restaurant fast food.

Semua bermula saat usainya masa penjajahan dan pusat pemerintahan balik kembali ke Jakarta. Lalu Presiden Soekarno mulai terpikir untuk membangun bangunan ikonik, mungkin setara dengan Menara Eiffel di Paris, Prancis, atau Colosseum di Roma, Italia.

Soekarno sendiri yang menunjuk arsitek Soedarsono, Frederich Silaban, dan Ir. Rooseno untuk membuat rencana rancangan Tugu Nasional, yang terletak di tengah lapangan Merdeka atau kini lebih dikenal dengan sebutan Monas.

Tak lain dan tak bukan, tujuan Soekarno adalah mengenang masa-masa perjuangan. Dengan tugu itu, ia berharap dapat terus menjaga api semangat patriotisme di era mendatang.

Pria asal Blitar, Jawa Timur, ini juga tak ingin sembarang merancang. Semua mesti penuh makna, ada daya filosofisnya. Ketiga arsitek tadi pasti tahu benar apa yang diinginkan Soekarno.

Monas terbagi atas beberapa bagian, yakni pintu gerbang utama, ruang museum sejarah, ruang kemerdekaan, pelataran cawan, puncak tugu, api kemerdekaan, dan badan tugu. Seluruh ukuran yang terdapat dalam Tugu Nasional sudah disesuaikan dengan hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, angka keramat: 17-08-1945.

Guna sejalan bersama tujuan, tak heran bila puncak tugu didesain serupa lidah api berkobar yang dilapisi emas 35 Kilogram dengan tingginya 14 meter, berdiameter enam meter, dan terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Namun, konon, lidah api Monas lebih terlihat seperti sesosok perempuan sedang duduk bersimpuh dengan gerai rambut panjangnya. Rambut atasnya disimpul seperti sanggul kecil. Duduk menghadap langsung ke Istana Negara: Posisi yang hanya bisa dilihat Soekarno dari istana.

Cerita konon lainnya datang dari Aceh. Pria bernama Teuku Markam –seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia– kabarnya adalah penyumbang emas Monas.

Diolah dari berbagai sumber, Teuku Markam adalah seorang keturunan Uleebalang yang lahir tahun 1925 di Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara.

Sejak kecil Teuku Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun sang ayah, Teuku Marhaban, meninggal dunia. Sedangkan ibunya sudah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe.

Walaupun demikian, tak ada yang bisa dipastikan kebenaran kalau Teuku Markam lah seorang penyumbang emas monas. Kabar itu simpang siur hingga sekarang. Sejarawan pun tak bisa memastikan.

Meski hanya ada satu yang pasti –tentu ini tidak konon– Jakarta hari ini tidaklah macet. Jakarta bernapas bebas, tak lagi sumpek di musim lebaran. Dan, selamat untuk warga Jakarta!

sumber: komunitashistoria.com, merdeka.com, viva.co.id