Terlepas pada peringatan hari puisi yang diambil dari hari meninggal atau lahirnya Chairil Anwar, yang barangkali bisa ditekankan adalah penentuan hari puisi ini bergantung pada hidup dan matinya “Si Binatang Jalang”.

Chairil tidak menggunakan pedang, belati, tombak, apalagi senjata api untuk menaklukan. Tapi dia menggunakan pena melalui puisi-puisinya, termasuk kepada perempuan pujaan hatinya.

Sebagai bukti, ini 8 perempuan yang ia taklukan lewat puisi-puisinya:

Ida Nasution

Perempuan pertama yang disebut Chairil dalam sajaknya, “Ajakan” (Februari 1943) adalah Ida. Dia kembali disebut dalam sajak “Bercerai” (7 Juni 1943), “Merdeka” (14 Juli 1943), dan “Selama Bulan Menyinari Dadanya” (1948). Chairil juga menyebut berkali-kali nama Ida dalam “Pidato Chairil Anwar 1943” yang diucapkan kepada Angkatan Baru Pusat Kebudayaan, 7 Juli 1948.

Sri Ayati

Chairil jatuh hati kepada Sri Ayati, penyiar radio Jepang, Jakarta Hoso Kyokam. Dia membuat dua puisi untuknya: “Hampa –kepada Sri yang selalu sangsi” (Maret 1943) dan “Senja di Pelabuhan Kecil” (1946).

Dian Tamaela

Pada 1946, Chairil menulis puisi “Cerita Buat Dien Tamaela.” Puisi ini dia persembahkan untuk Dian Tamaela, putri dokter Lodwijk Tamaela dengan Mien Jacomina Pattiradjawane. Mereka pernah menetap di Oosterweg (sekarang Jalan Pahlawan) Mojokerto, Jawa Timur.

Gadis Rasid

Chairil menjadi redaktur ruangan kebudayaan “Gelanggang” di majalah mingguan, Siasat pada 1948. Di sini dia mengenal Gadis Rasid, wartawan Siasat. Chairil menaruh hati pada Gadis dan mempersembahkan puisi untuknya berjudul “Buat Gadis Rasid” pada 1948.

Gadis meninggal tepat pada tanggal kematian Chairil: 28 April 1988.

Tuti Artic

Seperti kepada Gadis Rasjid, Chairil juga mempersembahkan sebuah puisi untuk “Tuti Artic” (1947). Menurut Asrul Sani dalam Derai-derai Cemara, pergaulan Chairil di Jakarta dengan anak-anak Indo dan rajin ke pesta. Dia akrab dengan tempat-tempat yang biasa dijadikan tempat mangkal pelajar-pelajar sekolah Belanda MULO, HBS, atau AMS kala itu, seperti misalnya di sebuah toko es krim, Toko Artic, yang berada di Jalan Kramat Raya, yang kemudian kita temui dalam sajaknya “Tuti Artic.”

Karinah Moordjono

Karinah Moordjono adalah putri seorang dokter di Medan pada tahun 1930-an. Chairil mengenalnya ketika masih tinggal di Medan, sebelum pindah ke Jakarta pada 1941. Ketika ditahan polisi Jepang pada 1943, Chairil terkenang pada Karinah, seperti terbaca dalam sajak “Kenangan” (19 April 1943).

Sumirat

Sumirat adalah perempuan yang paling tertambat dalam hati Chairil. Dalam “Sajak Putih” (18 Februari 1944), Chairil mempersembahkan puisinya itu “buat tunanganku Mirat.” Puisi “Dengan Mirat” (8 Januari 1946) diubah judulnya menjadi “Orang Berdua” dalam kumpulan sajak Deru Campur Debu.

Menurut Seno Gumira Ajidarma dalam “Gelora Cinta Chairil Anwar pada Pacarnya Mirat,” Intisari, April 2002, salah satu sajak Chairil terindah adalah “Mirat Muda, Chairil Muda” yang ditulis pada 1949, namun dibubuhi keterangan “di pegunungan 1943.”

Hapsah Wiriaredja

Chairil bertemu Hapsah di Karawang, jatuh cinta, lalu menikah pada 6 September 1946. Hapsah lahir di Cicurug, Sukabumi, 11 Mei 1922. Hapsah hampir menikah dengan seorang dokter, tapi Chairil begitu gigih untuk mendapatkannya.

sumber: Historia