Ada anekdot mengatakan kalau Korea Selatan menghasilkan Line dan Kakao Talk, China menghasilkan WeChat, dan Amerika menghasilkan WhatsApp, Twitter, juga Facebook, sedangkan Indonesia menggunakan semuanya! Iya, semuanya!

Enggak cukup menggunakan saja, para netizen rupanya juga membuat Indonesia sebagai negara paling ‘bawel’ di dunia. Faktanya, tahun lalu, dikatakan CEO PT Merah Cipta Media, Antonny Liem mengungkapkan, 93% pengguna internet di Indonesia aktif mengakses Facebook.

Kemudian, County Head Twitter Indonesia, Roy Samungsong mengatakan, pengguna Twitter di Indonesia kicauannya mencapai angka miliaran, sangat aktif dibanding negara lain.

“Pengguna aktif di Indonesia mencapai 77%. Dalam setahun, tweet yang dibuat mencapai 4,1 miliar,” katanya seperti dikutip dari Detik Inet (07/12/2016).

Ramainya lalu lintas di media sosial memang tak lepas dari peran penggunanya atau sekarang kita kenal dengan netizen. Sayangnya, di antara mereka masih banyak yang ‘bandel’ menggunakan media sosial. Bahkan, membuat media sosial sekarang jadi tak lagi asyik lantaran kerap dijadikan ruang hujat dan menyebarkan berita palsu alias hoax.

IndonesianYouth.org sempat mengklasifikasikan tipe-tipe netizen yang ada di berbagai media sosial. Hasilnya, ada tujuh tipe netizen yang membuat media sosial jadi enggak asyik lagi. Berikut rangkumannya.

1. Asal komentar tanpa data valid

Jutaan informasi bisa didapatkan di media sosial dengan gratis. Sayangnya, kita, sebagai netizen, kesulitan untuk membedakan mana informasi yang berisi fakta, mana yang omong belaka. Seringnya, media sosial juga dijadikan tempat untuk mengeluarkan unek-unek yang menurut masing-masing orang (dianggap) benar.

Maka, tak heran jika tulisan atau komentar yang berseliweran di media sosial kebanyakan tidak berbobot. Ditambah lagi, belum membaca isi suatu tulisan, eh, sudah asal memberi komentar. Inilah yang terjadi, netizen terjebak dalam judul menggoda yang bisa saja tidak sesuai dengan isi artikel sehingga pandangan netizen akan suatu hal menjadi kabur.

Memang, setiap orang memiliki kebebasan untuk berpendapat. Namun, yang terjadi, bukan kebebasan yang dilakukan, melainkan kebablasan

2. Asal share tanpa verifikasi informasi

Rendahnya minat membaca orang Indonesia tampaknya tak hanya terjadi untuk buku-buku saja. Hal ini juga bisa berimbas pada informasi-informasi yang kita dapatkan lewat media sosial.

Faktanya, tidak sedikit pengguna media sosial yang sering membagikan informasi kepada netizen lain supaya suatu berita dapat tersebar cepat dan luas. Kalau perlu, jadi viral dan ramai diperbincangkan banyak orang. Lucunya, informasi yang didapat tidak dicek kembali soal isi, sumber, penulis, hingga kebenarannya.

Terlebih lagi, beredarnya foto-foto mengerikan dengan pesan seperti “Luangkan waktu Anda sebentar untuk menulis ‘Amin’ di kolom komentar. Abaikan jika tidak punya hati. 1 like = 10 kebaikan, 1 komentar = 100 kebaikan, 1 share = 1000 kebaikan” tidak jarang ditemui. Netizen pun jadi ‘latah’ untuk memberi komentar, likes, atau membagikan informasi tersebut. Bayangkan, jika informasi yang disebarkan adalah berita hoax, bukan hanya kita yang terprovokasi, secara tidak sadar kita juga memprovokasi orang lain.

3. Protes, sindiran, komentar tidak relevan

Mungkin, kita adalah salah satu netizen yang pernah melakukan ini. Menyindir pihak lain, protes dengan isu tertentu, atau bahkan menulis suatu komentar yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan posting tertentu.

Hal ini biasanya terjadi apabila ada hal yang tidak sependapat dengan pemikiran kita. Ya, menyebalkan, memang. Media sosial seharusnya jadi tempat interaksi yang ramah, bukannya ajang kompor-komporan.

4. Saling curhat di kolom komentar user lain

Hal ini sering terjadi di Instagram. Ketika kita melihat suatu posting yang lucu, menggemaskan, atau yang “kita banget”, kita suka me-mention pengguna lain. Contohnya, foto destinatsi wisata, bayi-bayi menggemaskan, makanan dan minuman yang menggiurkan, video-video lucu, hingga quotes yang bikin kita jadi baper (bawa perasaan). Ya, inilah awal terjadinya percakapan satu sama lain.

Tak masalah, sebenarnya. Namun, jika pembicaraan kita bersifat pribadi, kita sudah difasilitasi Direct Message atau aplikasi instant messaging yang memungkinkan kita untuk menghargai kenyamanan netizen lain dengan tidak memenuhi kolom komentar mereka.

5. Terlalu banyak endorse atau promosi iklan

Bukan hanya artis saja yang sering dimintai endorsement untuk produk tertentu saja. Kini, netizen biasa juga bisa. Tak heran, selebgram, selebtwit, atau vlogger banyak bermunculan dan dijadikan idola. Mereka bisa dengan mudahnya mempromosikan suatu barang atau jasa kepada ribuan, bahkan jutaan followers mereka.

Kendati begitu, tidak semua seleb media sosial ini harus dijadikan panutan. Kalau kita merasa terganggu dengan mereka yang terlalu banya memberikan endorsement atau mempromosikan iklan, atau bahkan kita juga enggak nyaman dengan gaya hidup yang mereka miliki, tidak ada salahnya untuk di-unfollow saja.

6. Suka pamer

Punya teman yang suka check in di manapun ia berada? Punya teman yang suka upload foto ini dan itu, mulai dari selfie, foto makanan, hingga pamer #relationshipgoals bareng orang tersayang? Memang, secara psikologi, hal ini terjadi lantaran ingin dikenal banyak orang. Ketika ada orang yang aware dengan keberadaan kita, kita akan merasa lebih bangga.

Entah, mereka bermaksud pamer atau tidak. Namun, tahukah efek samping yang akan dialami netizen lain? Siapa sangka, kecemburuan sosial bisa timbul dan hal ini menimbulkan para pengguna lain ingin berlomba-lomba untuk ikut pamer juga.

7. Update setiap saat

Saat membuka Insta-Stories di Instagram, akun pertama yang muncul dia lagi, dia lagi. Lihat, tab stories-nya sampai berjajar banyak lantaran setiap detik, setiap menit, pengguna tersebut mem-posting apa saja. Seolah-olah segala hal yang dilakukannya harus dipamerkan dan diketahui netizen lain di media sosial.

Sejujurnya, memang tidak ada masalah. Namun, terlalu sering update akan membuat kita kecanduan hingga tak lagi memiliki privasi. Bahkan, hal ini bisa membuat orang lain merasa terganggu.

Seperti dikutip dari coschedule.com, 10 studi merekomendasikan sebaiknya kita mem-posting 1 post per hari di Facebook, 15 kicauan per hari di Twitter, dan 1-2 post per hari di Instagram.

Setelah membaca tulisan di atas, jujur, termasuk netizen yang manakah kamu?