Sebelum membaca lebih jauh, manakah di antara ketiga informasi berikut ini yang bukan termasuk berita hoax?

1. Rekaman “Tekad Something” adalah suara asli pilot Citilink yang diduga mabuk.
2. Bergesernya Jembatan Cisomang menyebabkan pengalihan arus kendaraan dari Jakarta atau Bandung via Tol Purbaleunyi.
3. Ada 10 juta TKA ilegal asal Tiongkok yang masuk Indonesia.

Simpan dulu jawabannya.

Banyaknya media pemberitaan saat ini, di satu sisi, memang membuat kita semakin mudah untuk mencari sebuah informasi. Namun, di lain sisi, kita semakin dibingungkan dengan kebenaran informasi tersebut. Di sinilah kecerdasan kita diuji, agar apa yang dibaca tidak sembarang ditelan, mentah-mentah pula, dan dengan mudahnya menyebarkan berita atau informasi “sesat” itu sendiri.

Sayangnya, tipe pembaca kita justru seperti itu: Baca judulnya saja, lalu sebarkan!

Kami memberikan 5 kriteria seseorang yang dikatakan penyebar hoax. Berikut gambarannya.

1. Hanya membaca judul atau sebagian isi berita

Biasanya, kita sangat mudah untuk membuka suatu tautan judul dengan gimmick menarik. Sebab, judul-judul berita yang ada di media saat ini terlihat agak lebay sehingga menarik minat pembaca untuk mengkliknya. Inilah clickbait, suatu teknik yang banyak digunakan media supaya artikel mereka banyak dibaca atau bahkan, hanya sekadar dilihat, demi meningkatkan pageviews.

Hal inilah yang membuat suatu berita yang tidak layak malah tersebar luas ke mana-mana. Bayangkan, apa jadinya bila kita termakan berita abal-abal yang tidak jelas kebenarannya, yang membuat perspektif terhimpit, juga opini menyempit.

Untuk itu, jika ada suatu judul yang menarik minat kita, bacalah juga isinya dari paragraf pertama hingga akhir sehingga kita bisa memahami keseluruhan isi. Judul atau potongan-potongan tulisan yang tidak utuh hanya akan menjadi lahan subur berita-berita hoax ini!

2. Tidak mengecek sumber informasi

Berita hoax juga banyak disebar melalui aplikasi messenger, seperti BBM, Line, dan Whatsapp. Biasanya, pesan berantai ini dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang dengan sengaja atau tidak, ingin menimbulkan keresahan atau kepanikan masyarakat.

Contoh, masih ingat kasus Bom Sarinah pada Kamis, 14 Januari 2016 lalu? Salah satu pesan berantai yang mungkin kita terima adalah selain di Sarinah, terjadi tiga ledakan di lokasi yang berbeda, yakni Slipi, Kuningan, dan Cikini. Dikabarkan pula ada baku tembak dan sejumlah pelaku kabur ke beberapa titik. Kenyataannya, serangan tersebut hanya terjadi di Sarinah. Ketika dikroscek dari mana sumber informasi didapat, tak sedikit yang menjawab “dari grup sebelah”.

Maka dari itu, saat kita mendapatkan suatu informasi, teliti lagi dari mana sumber berita tersebut. Baca pelan-pelan dan menyeluruh, verifikasi lagi apakah sumber berita atau penulisnya memang kredibel, dan jangan lupa gunakan logika saat menelaah informasi yang didapat. Bacalah juga berita-berita terkait dari sumber lainnya sehingga pemahaman kita akan suatu isu atau permasalahan bisa lebih komprehensif.

3. Mudah terprovokasi oleh gambar

Berita hoax muncul bukan hanya lewat tulisan, melainkan gambar. Biasanya, pembuat berita palsu sering memakai screenshot post yang kemudian diedit lagi sesuai keinginan orang tersebut. Setelah itu, gambar akan disebar melalui media sosial dengan judul bombastis yang bikin orang-orang percaya.

Sebagai contoh, pernah dengar kabar soal seorang cowok bernama Lamar Hickson menyebabkan kecelakaan lalu lintas di Massachusetts, Amerika Serikat lantaran bermain Pokemon? Ya, foto tabrakan beruntun tersebut bikin orang-orang percaya kalau memang benar ada kaitannya dengan game Pokemon.

Padahal, foto tersebut palsu. Sebenarnya foto kecelakaan yang ditampilkan merupakan peristiwa yang terjadi di Denver pada 2014 lalu. Berita hoax ini mulanya muncul pada Cartelpress.com, sebuah website yang ternyata memang sering membuat berita palsu. Ckckck…

4. Terbiasa copy-paste berita

Kita punya niat baik, yakni menyebarkan informasi secara cepat dan menyeluruh kepada kerabat, orangtua, atau orang-orang terdekat terkait informasi (yang menurut kita) bermanfaat. Buruknya, kita terbiasa meng-copy-paste alias menyalin dan menempel suatu berita tanpa melihat isinya.

Sadarkah, informasi yang kita bagikan belum tentu benar. Ada potensi kita menyebarkan berita menyesatkan. Bahkan, salah satu media online ternama Indonesia saja pernah ketahuan copy-paste artikel dari blog yang bisa dibilang tidak kredibel. Lucunya, tulisan di blog tersebut juga merupakan hasil copy-paste dari media online Amerika, yaitu Weekly World News, yang memang isinya hoax untuk lucu-lucuan.

5. Buru-buru sharing

Jempolmu, harimaumu. Buat kita yang sering sharing tautan berita tanpa disaring lebih dahulu, sebaiknya hilangkan kebiasaan ini kalau kita tidak ingin disebut sebagai penyebar berita palsu.

Fenomena ini bahkan diteliti oleh para ahli Teknik Informatika Columbia University dan French National Institute. Mereka mengidentifikasi beragam artikel dari 5 situs berbeda dalam sebulan. Ada The New York Times, The Huffington Post, BBC, CNN, juga Fox News. Hasilnya, 59% tautan yang dibagikan di media sosial ternyata enggak pernah diklik. Kamu juga begitu?

Melanjutkan pertanyaan di atas, kalau kamu menjawab nomor 1 dan 3 bukanlah berita hoax, mungkin itu tandanya kamu perlu berhati-hati lagi membaca dan menyebarkan berita atau informasi. Enggak mau ‘kan, dituduh sebagai penyebar berita hoax?