Selalu ada alasan untuk menonton film berkualitas. Terlebih film Indonesia yang sudah menemani kita di sepanjang tahun ini. Tercatat bahwa pada 2016, Indonesia telah merilis 123 film nasional, baik diputar di bioskop konvensional maupun dengan pemutaran tertutup. Jumlah yang fantastis mengindikasikan bahwa perfilman Indonesia telah kokoh dan para sineas Indonesia sudah menaruh kembali kepercayaan terhadap penikmat film tanah air.

Terlalu banyak film Indonesia yang pantas untuk ditonton tahun ini, untuk merampungkan daftar film Indonesia yang wajib ditonton tahun 2016 saya melihat berdasarkan ranking, prestasi, representasi visual, dan ide cerita. Banyaknya film berkualitas yang bermunculan, menjadi masalah tersendiri ketika menyusun daftar ini.

Athirah

Film Biopik  yang sukses membabat Piala Citra pada perhelatan Festival Film Indonesia ke-36. Walau perlehatan tahun ini tertutup, namun Athirah mendapat perhatian lebih dan menduduki 10 nominasi pada malam itu sehingga membuat banyak orang berdecak kagum dan bingung.

Sebetulnya kita tidak akan binggung ketika ada nama besar Riri Riza dan Mira Lesmana di belakang film ini. Memperhatikannya secara seksama, film ini mengangkat kisah sederhana dari Athirah Kalla yang juga merupakan ibunda Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Menceritakan seorang ibu yang mempertahankan keutuhan keluarga dan simbol kekuatan wanita, tak muluk film ini tidak memperlihatkan kehebatan dari nama keluarga Kalla.

Akting dingin Cut Mini Theo menambahkan kekongkritan karakter Athirah di mana semua adegan terasa mengayun dan lepas. Film ini mengajarkan bagaiman kasih sayang ibu menjadi lambang kekuatan wanita untuk keluarga yang tak akan ada habisnya.

Setan Jawa

Selama 35 tahun Garin Nugroho berkarya di industri film, Setan Jawa hadir dengan tetap mempertahankan karakteristik film Garin yang sarat budaya dan kearifan lokal. Sebuah film bisu tercantik yang pernah dibuat oleh Indonesia. Bagi saya, film yang menceritakan mitologi Jawa dengan pesan “betapa dekatnya masyarakat jawa dengan kepercayaan pesugihan sebagai sarana memakmurkan diri”.

Dengan latar Pulau Jawa pada awal abad ke-20 film yang memasukkan unsur kontemporer, baik dari koreografi dan sinematografi ini, dibintangi oleh aktris pendatang baru, Asmara Abigail yang juga membawa refreshment pada tiap aspek kebudayaan lokal di tengah hiruk-pikuk budaya barat.

Film ini tidak diputar di bioskop sekitar karena film ini harus diiringi oleh orkestra gamelan garapan Rahayu Supanggah. Film ini merupakan penggambaran tepat dalam melihat kemistikan yang eksotik, elegan, dan ke-Indonesia-an.

Prenjak

Prenjak, sebuah karya anak muda yang telah mengharumkan nama tanah air dan juga sebagai penerima Piala Cannes pertama untuk Indonesia, Wregas Bhanuteja.

Namanya melambung setelah Prenjak masuk nominasi dalam festival film dunia tersebut dan takkala menjadi pemenang dalam kategori  Leica Cine Discovery Prize di Festival Film Cannes. Film ini mengangkat kebudayaan seks oldschool yang suka terjadi di perkotaan, terutama daerah marjin maupun perumahan kampung. Menceritakan Diah yang sedang kesulitan dalam masalah ekonomi dan hendak meyakinkan temannya untuk membeli korek api dengan harga Rp10 ribu per batang.

Cerita sederhana dengan sinematografi yang dibuat padat seolah menghadirkan nuansa humor, d tambah dialog aksen Jawa yang dimainkan secara tergesa-gesa membuat penonton terpaku untuk tetap menelan tiap adegannya. Film kreatif yang menimbulkan tanda-tanda, terutama tanda tanya, bukan film eksperimental namun pengolahannya sungguh baik, Anda harus menonton film ini.

Surat dari Praha

Film drama yang matang dengan karakter yang kompleks tahun ini jatuh kepada film garapan Angga Dwimas Sasongko. Surat dari Praha menceritakan Laras yang harus memberikan kotak wasiat peninggalan ibunya untuk diberikan kepada Jaya. Jaya merupakan mantan kekasih ibunya yang merupakan seorang komunis yang menolak akan rezim orde baru.

Sudah lumayan lama film drama dengan latar permasalahan yang sophisticated seperti ini tak muncul.  Surat dari Praha mungkin tidak begitu menarik ambience orang banyak terlebih ketika penonton Indonesia sedang gemar-gemarnya menonton film bertemakan biopik, maupun komedi dengan visual effect sedikit  ‘lebay’. Film ini memberi prespektif baru terhadap sebuah idealisme, dan tak semata-mata membicarakan komunisme, tetapi sentilan imbas masyrakat terhadap kecurigaan saat orde baru. Saya rasa film ini pintar dan cantik.

My Stupid Boss

Diawali dari buku yang juga meledak di pasaran My Stupid Boss adalah kumpuluan cerita anonim Chaos@work yang dirampungkan kedalam seri buku. Mengikuti kesuksesan bukunya film ini menceritakan Diana yang sedang tinggal di Kuala Lumpur bersama suaminya, dan memutuskan bekerja di sebuah kantor manufaktur yang juga merupakan milik kawan dari suami Diana.

Ya, jika menginginkan tontonan nyeleneh namun berkualitas maka Anda harus menonton film ini. My Stupid Boss menghadirkan lawakan berpola keberagaman etnis yang kita sering terlibat sehari-hari, dan juga humor tentang bagaimana kita selalu bekerja di bawah tekanan yang akan menjadi bahasan obrolan, atau sekedar gerutuan.

Film yang diproduksi oleh Falcon Pictures ini sukses menghasilkan 3 juta tiket penonton, dan ditayangkan di 4 negara lain. Film ini sukses, hype ,dan ringan dengan candaan kuno yang ternyata tak garing.

Maka kenapa tidak membuat daftar ini di akhir tahun ketika banyak prediksi film yang berakhir mengecewakan atau “mending nonton itu kan?!” maka hadirlah daftar tontonan berkualitas di pengujung tahun 2016 ini. Sampai jumpa 2017.