Mulai dari Karakuri ningyō (wayang mekanis) di teater-teater pada abad 17 hingga Asimov buatan Honda, Jepang terkenal dengan cintanya dengan robot, dan kemajuan teknologinya dalam hal itu. Pun, ada restoran-restoran yang terautomasi untuk urusan pesan dan bayar, meskipun masih ada tenaga manusia yang bergerak di dapur –menandakan warga Jepang tidak keberatan dengan, atau mungkin lebih menyukai, interaksi dengan robot.

Starbucks, di sisi lain, bersikukuh tidak akan mengautomasi proses pesan-memesan di kedai-kedainya. Menurut mereka, pelanggan tidak datang hanya untuk kopi dan pastry, namun juga untuk berinteraksi dengan manusia, yang menurut mereka adalah bagian penting dari Starbucks.

Di budaya pop (barat), robot menjadi objek yang dikasihani (seperti di film A.I. Artificial Intelligence) atau ketakutan dan kecurigaan (seperti di film I, Robot dan Metropolis). Stephen Hawking, sang ilmuwan Inggris penderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), yang menggunakan program komputer untuk berbicara pun memandang kecerdasan buatan dengan kecurigaan.

“Pengembangan kecerdasan buatan secara penuh bisa mengakhiri umat manusia,” ujarnya pada BBC.

Mengapa, meskipun ada pesimisme dan ketidak percayaan mengenai robot, Jepang tetap menyukainya?

Pertama adalah pandangan agama. Dalam agama-agama Abrahamik, Tuhan dipandang sebagai satu-satunya yang bisa menciptakan kehidupan. Maka, yang bukan diciptakan Tuhan bukanlah makhluk hidup. Sementara, animisme ada dalam agama Shinto yang dominan di Jepang.

Berikut adalah terjemahan kutipan dari Naho Kitano, ilmuwan sosial dari Universitas Waseda tentang hubungan animisme dan robot dalam artikelnya yang berjudul Animism, Rinri, Modernization; the Base of Japanese Robotics:

Pemikiran ini (animisme) tetap dipercayai dan mempengaruhi hubungan orang Jepang dengan alam dan keadaan spiritual. Kepercayaan ini kemudian meluas dan mencakup objek buatan, maka semua barang dan dan peralatan sehari-hari dianggap memiliki roh, dan peralatan ini dipercaya hidup dalam damai dengan manusia.

Kedua adalah Astro Boy.

Budaya pop Jepang terbiasa dengan kartun-kartun yang menggambarkan robot-robot sebagai sahabat manusia. Astro Boy, contohnya, dikisahkan sebagai bocah robot kuat yang hidup bersama manusia di abad 21. Dalam cerita, Astro Boy diciptakan sebagai pengganti anak Doctor Tenma, Tobio, yang meninggal karena kecelakaan mobil. Astro Boy diberi ingatan Tobio, dan disayangi Doctor Tenma seperti Tobio. Astro Boy, selain dikisahkan sebagai seorang anak, juga dikisahkan sebagai pahlawan.

Dalam Astro Boy, kita melihat robot dipandang sejajar dengan manusia. Dalam perjalanan cerita, Astro Boy diberikan karakter dan tragedi yang biasa dialami tokoh pahlawan manusia. Ia bukanlah tokoh robot yang dingin, ia memiliki kapasitas untuk merasakan emosi. Yang terpenting, karena ia dirasa dekat, ia bisa menjadi idola bagi para penontonnya. Belum lagi figurnya yang imut dan menggemaskan membuatnya semakin dicintai. Salah satunya karena Astro Boy (dan kartun-kartun robot baik lainnya), masyarakat Jepang terbiasa memandang robot sebagai kawan.

Kemudian, ada pula kecenderungan Jepang yang memang membuat robot untuk urusan sehari-hari, bukan hanya automasi pekerjaan atau bahkan militer. Bahkan, ada robot-robot anjing laut yang digunakan sebagai terapi bagi penghuni panti jompo, hal yang biasanya dilakukan oleh hewan terapi. Kedekatan robot-robot dengan kehidupan manusia ini tentu bermain peran dalam anggapan masyarakat terhadap mereka.

Tetapi, karena April ini adalah bulan ulang tahun Astro Boy, dan cerita Astro Boy lah yang paling bikin baper, saya mengucapkan terima kasih, Astro Boy! Karenamu (setidaknya sebagian), Jepang tidak memandang robot dengan buruk, dan terus memperbarui teknologi robot dan kecerdasan buatan.